Deretan Tokoh Bangsa Lulusan Pesantren, Ada Gus Dur, Ma'ruf Amin, Nurcholish Madjid hingga Haedar Nashir
Kamis, 16 Oktober 2025 - 09:19 WIB
loading...
Sejumlah tokoh bangsa, termasuk Gus Dur pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - SEJUMLAH tokoh bangsa dalam perjalanan hidupnya pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren (Ponpes). Di antaranya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Wapres KH Ma'ruf Amin, cendekiawan Nurcholish Madjid hingga Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.
Mereka mendapat pendidikan keilmuan dan keagamaan di pesantren hingga menjadi ulama dan tokoh bangsa. Gus Dur misalnya. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari itu diketahui lahir pada 7 September 1940 di Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
Baca juga: Profil Gus Maksum, Ulama Kharismatik Pesantren Lirboyo dan Pendiri Perguruan Silat Pagar Nusa
Gus Dur pun kemudian belajar dan mendapatkan pendidikan di sejumlah pesantren. Pada tahun 1954 saat masih SMP, Gus Dur menimba ilmu ke Pondok Pesantren Krapyak di Yogyakarta yang diasuh KH Ali Maksum.
Setelah lulus SMP pada 1957, Gus Dur mendapatkan pendidikan dan ilmu agama di Pesantren Tegalrego, Magelang, Jawa Tengah.
Karena kecerdasannya, Gus Dur berhasil menyelesaikan pendidikan di Pesantren Tegalrejo hanya dalam waktu dua tahun dari seharusnya empat tahun.
Selanjutnya Gus Dur pada tahun 1959 melanjutkan pendidikan di Pesantren Tambakberas, Jombang. Hingga akhirnya sempat menjadi guru dan kepala sekolah madrasah. Berbekal pendidikan di pesantren, Gus Dur pun mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Baca juga: Profil Ponpes Lirboyo, Pesantren Salafi Terbesar di Indonesia yang Berdiri Lebih dari 1 Abad
Mantan Ketua Umum PBNU ini tercatat pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir pada 1963. Dia melanjutkan ke Universitas Baghdad, Irak. Kemudian Gus Dur melanjutkan pendidikan di Jerman dan Prancis hingga akhirnya pulang ke Indonesia pada 1971.
Sedangkan KH Ma'ruf Amin yang lahir di Desa Kresek, Tangerang, Banten pada 11 Maret 1943 juga mendapatkan pendidikan dan ilmu keagamaan di pesantren.
Ma'ruf Amin muda digembleng pengetahuan agama di Madrasah Ibtidayah Kresek dan pendidikan umum di Sekolah Rakyat Kresek. Setelah lulus dia melanjutkan pendidikan Mts pada 1958 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Aliyah pada 1961 juga di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Selepas itu, Ma'ruf Amin melanjutkan menimba ilmu di pondok pesantren kawasan Banten pada 1963. Kemudian melanjutkan pendidikan Filsafat Islam ke Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.
Cendekiawan dan mantan Rektor Universitas Paramadina, Nurcholish Madjid saat muda juga digembleng di pesantren. Nurcholish Madjid lahir di Jombang pada 17 Maret 1939. Dia merupakan putra pasangan KH Abdul Madjid dan Fatonah.
Nurcholish Madjid menempuh pendidikan agama di Madrasah Ibtidaiyah al-Wathaniyah Mojoanyar Jombang serta mengenyam umum di sekolah rakyat.
Selepas itu, Nurcholish Madjid melanjutkan pendidikan tingkat menengah SMP di Pondok Pesantren Darul 'Ulum, Rejoso Jombang hingga tahun 1954.
Selanjutnya masuk ke Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) di Pondok Pesantren Darus Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sempat mengajar selama setahun di Gontor, Nurcholis Madjid melanjutkan kulian ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir diketahui mendapatkan pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Haedar lahir pada 25 Februari 1958 di Desa Ciheulang, Ciparay, Bandung Selatan. Putra pasangan Haji Bahrudin dan Hajah Endah binti Tahim ini lahir dari keluarga ajengan.
Diketahui Haedar lahir dari keluarga santri. Ayahnya merupakan seorang kiai (ajengan). Sehingga sejak kecil dia mengenyam pendidikan agama yang diteruskan ke pesantren.
Mereka mendapat pendidikan keilmuan dan keagamaan di pesantren hingga menjadi ulama dan tokoh bangsa. Gus Dur misalnya. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari itu diketahui lahir pada 7 September 1940 di Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
Baca juga: Profil Gus Maksum, Ulama Kharismatik Pesantren Lirboyo dan Pendiri Perguruan Silat Pagar Nusa
Gus Dur pun kemudian belajar dan mendapatkan pendidikan di sejumlah pesantren. Pada tahun 1954 saat masih SMP, Gus Dur menimba ilmu ke Pondok Pesantren Krapyak di Yogyakarta yang diasuh KH Ali Maksum.
Setelah lulus SMP pada 1957, Gus Dur mendapatkan pendidikan dan ilmu agama di Pesantren Tegalrego, Magelang, Jawa Tengah.
Karena kecerdasannya, Gus Dur berhasil menyelesaikan pendidikan di Pesantren Tegalrejo hanya dalam waktu dua tahun dari seharusnya empat tahun.
Selanjutnya Gus Dur pada tahun 1959 melanjutkan pendidikan di Pesantren Tambakberas, Jombang. Hingga akhirnya sempat menjadi guru dan kepala sekolah madrasah. Berbekal pendidikan di pesantren, Gus Dur pun mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Baca juga: Profil Ponpes Lirboyo, Pesantren Salafi Terbesar di Indonesia yang Berdiri Lebih dari 1 Abad
Mantan Ketua Umum PBNU ini tercatat pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir pada 1963. Dia melanjutkan ke Universitas Baghdad, Irak. Kemudian Gus Dur melanjutkan pendidikan di Jerman dan Prancis hingga akhirnya pulang ke Indonesia pada 1971.
Sedangkan KH Ma'ruf Amin yang lahir di Desa Kresek, Tangerang, Banten pada 11 Maret 1943 juga mendapatkan pendidikan dan ilmu keagamaan di pesantren.
Ma'ruf Amin muda digembleng pengetahuan agama di Madrasah Ibtidayah Kresek dan pendidikan umum di Sekolah Rakyat Kresek. Setelah lulus dia melanjutkan pendidikan Mts pada 1958 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Aliyah pada 1961 juga di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Selepas itu, Ma'ruf Amin melanjutkan menimba ilmu di pondok pesantren kawasan Banten pada 1963. Kemudian melanjutkan pendidikan Filsafat Islam ke Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.
Cendekiawan dan mantan Rektor Universitas Paramadina, Nurcholish Madjid saat muda juga digembleng di pesantren. Nurcholish Madjid lahir di Jombang pada 17 Maret 1939. Dia merupakan putra pasangan KH Abdul Madjid dan Fatonah.
Nurcholish Madjid menempuh pendidikan agama di Madrasah Ibtidaiyah al-Wathaniyah Mojoanyar Jombang serta mengenyam umum di sekolah rakyat.
Selepas itu, Nurcholish Madjid melanjutkan pendidikan tingkat menengah SMP di Pondok Pesantren Darul 'Ulum, Rejoso Jombang hingga tahun 1954.
Selanjutnya masuk ke Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) di Pondok Pesantren Darus Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sempat mengajar selama setahun di Gontor, Nurcholis Madjid melanjutkan kulian ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir diketahui mendapatkan pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Haedar lahir pada 25 Februari 1958 di Desa Ciheulang, Ciparay, Bandung Selatan. Putra pasangan Haji Bahrudin dan Hajah Endah binti Tahim ini lahir dari keluarga ajengan.
Diketahui Haedar lahir dari keluarga santri. Ayahnya merupakan seorang kiai (ajengan). Sehingga sejak kecil dia mengenyam pendidikan agama yang diteruskan ke pesantren.
(shf)
Lihat Juga :