Pesantren Warisan Peradaban, Pilar Transformasi Bangsa
Selasa, 14 Oktober 2025 - 18:20 WIB
loading...
Anggota DPR dari Fraksi PDIP Selly Andriany Gantina menyatakan pondok pesantren bukan sekadar lembaga keagamaan, tapi ruang pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Pondok pesantren merupakan warisan peradaban yang telah memainkan peran penting dalam perjalanan bangsa baik dalam pendidikan, sosial, maupun kebudayaan. Namun, penghormatan terhadap pesantren tidak boleh menutup ruang evaluasi.
“Pesantren bukan sekadar lembaga keagamaan, tapi ruang pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan. Dia menjadi bagian dari denyut sejarah Indonesia jauh sebelum republik ini berdiri,” ujar Anggota DPR dari Fraksi PDIP Selly Andriany Gantina di Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Baca juga: Ironis, dari 42.000 Ponpes Hanya 50 Kantongi IMB, BNPB: Waspada!
“Kita perlu menempatkan pesantren secara proporsional. Ada hal-hal yang patut dibanggakan, tapi juga ada aspek yang perlu diperbaiki. Setiap lembaga, termasuk pesantren harus terus berbenah agar relevan dengan tantangan zaman,” sambungnya.
Dia menuturkan satu kasus atau satu perilaku individu tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai seluruh pesantren. “Pesantren juga perlu memperkuat sistem pengawasan dan tata kelola agar tidak ada celah bagi penyimpangan,” ucapnya.
Selly mengatakan, pendidikan di pesantren tidak hanya soal ta’lim (pengajaran), tetapi juga tarbiyah (pembentukan akhlak dan kepribadian). “Santri belajar disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan. Nilai-nilai ini menjadi modal sosial yang sangat penting bagi masa depan bangsa,” ujarnya.
Menurut data Kementerian Agama, Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren dengan lebih dari 7 juta santri. Jumlah ini bukan sekadar angka statistik, tapi bukti bahwa pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul.
“Dengan jumlah sebesar itu, tentu pesantren juga memikul tanggung jawab besar, bukan hanya dalam pengajaran agama, tetapi juga dalam memastikan tata kelola, transparansi, dan perlindungan terhadap santri berjalan dengan baik,” kata Selly.
Dia juga menyoroti nilai khidmah dalam tradisi pesantren yaitu belajar sambil melayani guru dan masyarakat. “Nilai khidmah adalah hal yang sangat berharga. Tapi dalam konteks hari ini, nilai itu juga harus disertai perlindungan terhadap hak-hak santri agar semangat pengabdian tidak disalahartikan,” ujarnya.
PDIP berkomitmen memperkuat peran pesantren sebagai bagian dari amanat Trisakti Bung Karno, berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
“Negara harus hadir untuk memperkuat pesantren, bukan sekadar lewat anggaran, tapi dengan memastikan tata kelolanya modern dan akuntabel. Pesantren adalah mitra negara dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. Dan seperti semua mitra strategis, dia juga perlu terbuka terhadap kritik dan perubahan,” ungkapnya.
“Pesantren bukan sekadar lembaga keagamaan, tapi ruang pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan. Dia menjadi bagian dari denyut sejarah Indonesia jauh sebelum republik ini berdiri,” ujar Anggota DPR dari Fraksi PDIP Selly Andriany Gantina di Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Baca juga: Ironis, dari 42.000 Ponpes Hanya 50 Kantongi IMB, BNPB: Waspada!
“Kita perlu menempatkan pesantren secara proporsional. Ada hal-hal yang patut dibanggakan, tapi juga ada aspek yang perlu diperbaiki. Setiap lembaga, termasuk pesantren harus terus berbenah agar relevan dengan tantangan zaman,” sambungnya.
Dia menuturkan satu kasus atau satu perilaku individu tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai seluruh pesantren. “Pesantren juga perlu memperkuat sistem pengawasan dan tata kelola agar tidak ada celah bagi penyimpangan,” ucapnya.
Selly mengatakan, pendidikan di pesantren tidak hanya soal ta’lim (pengajaran), tetapi juga tarbiyah (pembentukan akhlak dan kepribadian). “Santri belajar disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan. Nilai-nilai ini menjadi modal sosial yang sangat penting bagi masa depan bangsa,” ujarnya.
Menurut data Kementerian Agama, Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren dengan lebih dari 7 juta santri. Jumlah ini bukan sekadar angka statistik, tapi bukti bahwa pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul.
“Dengan jumlah sebesar itu, tentu pesantren juga memikul tanggung jawab besar, bukan hanya dalam pengajaran agama, tetapi juga dalam memastikan tata kelola, transparansi, dan perlindungan terhadap santri berjalan dengan baik,” kata Selly.
Dia juga menyoroti nilai khidmah dalam tradisi pesantren yaitu belajar sambil melayani guru dan masyarakat. “Nilai khidmah adalah hal yang sangat berharga. Tapi dalam konteks hari ini, nilai itu juga harus disertai perlindungan terhadap hak-hak santri agar semangat pengabdian tidak disalahartikan,” ujarnya.
PDIP berkomitmen memperkuat peran pesantren sebagai bagian dari amanat Trisakti Bung Karno, berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
“Negara harus hadir untuk memperkuat pesantren, bukan sekadar lewat anggaran, tapi dengan memastikan tata kelolanya modern dan akuntabel. Pesantren adalah mitra negara dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. Dan seperti semua mitra strategis, dia juga perlu terbuka terhadap kritik dan perubahan,” ungkapnya.
(jon)
Lihat Juga :