Menebak Isi Obrolan Jokowi dan Prabowo di Kertanegara
Senin, 06 Oktober 2025 - 12:42 WIB
loading...
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di kediamannya di Kertanegara, Jakarta. Foto/Dok BPMI Setpres
A
A
A
JAKARTA - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan mantan Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) di Kertanegara, Jakarta, Sabtu (4/10/2025) menimbulkan banyak spekulasi. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar dua jam.
"Banyak," kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi seusai Perayaan HUT ke-80 TNI di Monas, Jakarta, Minggu (5/10/2025).
Prasetyo menekankan, kunjungan Jokowi ke kediaman pribadi Prabowo merupakan agenda silaturahmi. Ia menyebut, keduanya memang sama-sama menjalin silaturahmi yang baik.
Baca juga: Pertemuan Prabowo dan Jokowi, Luhut: Bagus Kalau Presiden Ketemu Mantan Presiden
"Kalau Pak Prabowo berkesempatan ke Jawa Tengah, beliau yang sowan atau mampir. Kebetulan Pak Presiden ke-7, Pak Jokowi ada di Jakarta. Sudah, janjian ketemu waktunya makan siang," ujarnya.
Prasetyo menyebutkan sejumlah pembicaraan di antara Prabowo dan Jokowi dalam pertemuan sekitar dua jam di Kertanegara. "Tentu banyak hal yang dipercakapkan mengenai masalah-masalah kebangsaan. Termasuk memberikan masukan ke depan sebaiknya seperti apa untuk beberapa hal. Kurang lebih dua jam pertemuan di antara dua pemimpin," pungkasnya.
Baca juga: Usai Bertemu Jokowi, Presiden Prabowo Panggil Menhan dan Mendiksaintek
Sebelumnya, ajudan Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah mengatakan, pertemuan berlangsung 4 mata. "Hanya Pak Presiden Prabowo dan Pak Jokowi," katanya.
Syarif mengatakan pertemuan itu berlangsung selama 2 jam, dimulai pada pukul 13.00 WIB. "Pertemuannya dimulai jam 13.00 WIB, hampir 2 jam," ujar Syarif.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merespons pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Jokowi. "Pak Prabowo dan Pak Jokowi adalah dua orang pemimpin yang bersahabat. Mereka bestie yang sudah seperti keluarga. Pikiran dan hati mereka disatukan oleh dua kata: rakyat dan negara," kata Pengurus DPP PSI Ariyo Bimmo, Sabtu (4/10/2025).
Kenapa pertemuan Jokowi dan Prabowo menimbulkan banyak spekulasi?
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga menilai pertemuan tersebut menimbulkan banyak spekulasi karena disebutkan hanya silaturahmi dan membicarakan masalah kebangsaan. "Dengan informasi sebatas itu, wajar bila muncul banyak tafsir mengenai hal yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut," kata Jamiluddin, Senin (6/10/2025).
Namun, kata Jamiluddin, yang pasti pertemuan itu inisiatif dari Jokowi. Karena itu, menurut dia, wajar kalau pertemuan itu lebih banyak dikaitkan dengan kepentingan Jokowi daripada Prabowo.
"Jadi, selain silaturahmi, beberapa spekulasi yang dibicarakan dalam pertemuan itu di antaranya: Pertama, Jokowi meminta izin tidak bisa menghadiri acara HUT TNI di Monas pada 5 Oktober 2025," ungkapnya.
Jamiluddin menambahkan, sebagai orang Jawa, Jokowi tampaknya ingin menyampaikan langsung ke Prabowo mengenai pertimbangan ketidakhadirannya pada acara tersebut. Hal itu memang terbukti, Jokowi memang tidak hadir saat dilaksanakan HUT ke-80 TNI di Monas.
"Infonya Jokowi tidak bisa hadir karena kondisi penyakitnya belum bisa terkena sinar matahari," ungkapnya.
Kedua, Jamiluddin menduga pertemuan Jokowi-Prabowo juga bisa saja membicarakan kepentingannya dalam konteks politik nasional. "Jokowi bisa menjelaskan kepada Prabowo mengenai maksudnya meminta relawan untuk mendukung Prabowo-Gibran dua periode," ujarnya.
Dia berpendapat, penjelasan itu bagi Jokowi bisa jadi dirasa penting agar Prabowo tidak salah memahami maksudnya. Dia melanjutkan, setidaknya Jokowi tidak ingin permintaannya kepada relawan itu ditafsirkan oleh Prabowo sebagai bentuk tekanan dan paksaan.
"Melalui pertemuan tatap muka, Jokowi dapat menjelaskan dengan gamblang. Dengan begitu, Jokowi berharap persoalan Prabowo-Gibran dua periode tidak menjadi isu liar yang dapat berdampak pada hubungannya pada Prabowo," imbuhnya.
Jadi, kata Jamiluddin, silaturahmi ke Prabowo tampaknya hanya pembuka saja. "Jokowi bisa saja ingin bertemu Prabowo untuk meredakan isu tak sedap terkait permintaannya kepada relawan untuk mendukung Prabowo-Gibran dua periode," ujarnya.
" Dengan penjelasan langsung itu, Jokowi juga ingin memastikan ke Prabowo bahwa Gibran tidak akan maju menjadi capres pada 2029. Bisa jadi Jokowi ingin meyakinkan bahwa Gibran tetap setia ikut Prabowo sebagai wapres," sambungnya.
Persoalan lain, lanjut dia, tampaknya tidak terlalu penting bagi Jokowi untuk membicarakannya dengan Prabowo. "Bagi Jokowi, paling penting kepentingan Gibran paling utama untuk memastikan trahnya tetap eksis dalam perpolitikan nasional," tutur Mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta ini.
Karena itu, ujar dia, kalaupun pertemuan itu membicarakan para relawannya yang tersingkir dari kabinet Prabowo, itu hanya selintas. Dia yakin bahwa bagi Jokowi, persoalan relawannya bukanlah prioritas. Sebab, sambungnya, bagi Jokowi keluarganya yang harus aman dalam peta politik nasional.
"Hal yang sama juga berlaku pada menteri yang dinilai loyalis Jokowi. Baginya, menteri loyalisnya diganti bukanlah perkara penting. Lagi-lagi, menteri loyalisnya boleh diganti, namun Gibran harus tetap wapres. Kiranya itulah yang dipikirkan Jokowi dan itu pula yang menjadi fokusnya saat bertemu Prabowo di Kartanegara, Jakarta," pungkasnya.
"Banyak," kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi seusai Perayaan HUT ke-80 TNI di Monas, Jakarta, Minggu (5/10/2025).
Prasetyo menekankan, kunjungan Jokowi ke kediaman pribadi Prabowo merupakan agenda silaturahmi. Ia menyebut, keduanya memang sama-sama menjalin silaturahmi yang baik.
Baca juga: Pertemuan Prabowo dan Jokowi, Luhut: Bagus Kalau Presiden Ketemu Mantan Presiden
"Kalau Pak Prabowo berkesempatan ke Jawa Tengah, beliau yang sowan atau mampir. Kebetulan Pak Presiden ke-7, Pak Jokowi ada di Jakarta. Sudah, janjian ketemu waktunya makan siang," ujarnya.
Prasetyo menyebutkan sejumlah pembicaraan di antara Prabowo dan Jokowi dalam pertemuan sekitar dua jam di Kertanegara. "Tentu banyak hal yang dipercakapkan mengenai masalah-masalah kebangsaan. Termasuk memberikan masukan ke depan sebaiknya seperti apa untuk beberapa hal. Kurang lebih dua jam pertemuan di antara dua pemimpin," pungkasnya.
Baca juga: Usai Bertemu Jokowi, Presiden Prabowo Panggil Menhan dan Mendiksaintek
Sebelumnya, ajudan Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah mengatakan, pertemuan berlangsung 4 mata. "Hanya Pak Presiden Prabowo dan Pak Jokowi," katanya.
Syarif mengatakan pertemuan itu berlangsung selama 2 jam, dimulai pada pukul 13.00 WIB. "Pertemuannya dimulai jam 13.00 WIB, hampir 2 jam," ujar Syarif.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merespons pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Jokowi. "Pak Prabowo dan Pak Jokowi adalah dua orang pemimpin yang bersahabat. Mereka bestie yang sudah seperti keluarga. Pikiran dan hati mereka disatukan oleh dua kata: rakyat dan negara," kata Pengurus DPP PSI Ariyo Bimmo, Sabtu (4/10/2025).
Kenapa pertemuan Jokowi dan Prabowo menimbulkan banyak spekulasi?
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga menilai pertemuan tersebut menimbulkan banyak spekulasi karena disebutkan hanya silaturahmi dan membicarakan masalah kebangsaan. "Dengan informasi sebatas itu, wajar bila muncul banyak tafsir mengenai hal yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut," kata Jamiluddin, Senin (6/10/2025).
Namun, kata Jamiluddin, yang pasti pertemuan itu inisiatif dari Jokowi. Karena itu, menurut dia, wajar kalau pertemuan itu lebih banyak dikaitkan dengan kepentingan Jokowi daripada Prabowo.
"Jadi, selain silaturahmi, beberapa spekulasi yang dibicarakan dalam pertemuan itu di antaranya: Pertama, Jokowi meminta izin tidak bisa menghadiri acara HUT TNI di Monas pada 5 Oktober 2025," ungkapnya.
Jamiluddin menambahkan, sebagai orang Jawa, Jokowi tampaknya ingin menyampaikan langsung ke Prabowo mengenai pertimbangan ketidakhadirannya pada acara tersebut. Hal itu memang terbukti, Jokowi memang tidak hadir saat dilaksanakan HUT ke-80 TNI di Monas.
"Infonya Jokowi tidak bisa hadir karena kondisi penyakitnya belum bisa terkena sinar matahari," ungkapnya.
Kedua, Jamiluddin menduga pertemuan Jokowi-Prabowo juga bisa saja membicarakan kepentingannya dalam konteks politik nasional. "Jokowi bisa menjelaskan kepada Prabowo mengenai maksudnya meminta relawan untuk mendukung Prabowo-Gibran dua periode," ujarnya.
Dia berpendapat, penjelasan itu bagi Jokowi bisa jadi dirasa penting agar Prabowo tidak salah memahami maksudnya. Dia melanjutkan, setidaknya Jokowi tidak ingin permintaannya kepada relawan itu ditafsirkan oleh Prabowo sebagai bentuk tekanan dan paksaan.
"Melalui pertemuan tatap muka, Jokowi dapat menjelaskan dengan gamblang. Dengan begitu, Jokowi berharap persoalan Prabowo-Gibran dua periode tidak menjadi isu liar yang dapat berdampak pada hubungannya pada Prabowo," imbuhnya.
Jadi, kata Jamiluddin, silaturahmi ke Prabowo tampaknya hanya pembuka saja. "Jokowi bisa saja ingin bertemu Prabowo untuk meredakan isu tak sedap terkait permintaannya kepada relawan untuk mendukung Prabowo-Gibran dua periode," ujarnya.
" Dengan penjelasan langsung itu, Jokowi juga ingin memastikan ke Prabowo bahwa Gibran tidak akan maju menjadi capres pada 2029. Bisa jadi Jokowi ingin meyakinkan bahwa Gibran tetap setia ikut Prabowo sebagai wapres," sambungnya.
Persoalan lain, lanjut dia, tampaknya tidak terlalu penting bagi Jokowi untuk membicarakannya dengan Prabowo. "Bagi Jokowi, paling penting kepentingan Gibran paling utama untuk memastikan trahnya tetap eksis dalam perpolitikan nasional," tutur Mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta ini.
Karena itu, ujar dia, kalaupun pertemuan itu membicarakan para relawannya yang tersingkir dari kabinet Prabowo, itu hanya selintas. Dia yakin bahwa bagi Jokowi, persoalan relawannya bukanlah prioritas. Sebab, sambungnya, bagi Jokowi keluarganya yang harus aman dalam peta politik nasional.
"Hal yang sama juga berlaku pada menteri yang dinilai loyalis Jokowi. Baginya, menteri loyalisnya diganti bukanlah perkara penting. Lagi-lagi, menteri loyalisnya boleh diganti, namun Gibran harus tetap wapres. Kiranya itulah yang dipikirkan Jokowi dan itu pula yang menjadi fokusnya saat bertemu Prabowo di Kartanegara, Jakarta," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :