Menteri LH: Beban TPA Sangat Berat, Sampah Harus Dikurangi dari Hulu
Minggu, 21 September 2025 - 05:34 WIB
loading...
Menteri LH/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq dalam rangkaian World Cleanup Day 2025 di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Krisis sampah tidak bisa lagi ditangani di hilir. Perubahan perilaku masyarakat untuk mengurangi sampah dari hulu adalah kunci keberhasilan Indonesia mencapai target pengurangan sampah nasional.
Hal itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq dalam rangkaian World Cleanup Day 2025 yang dirayakan serentak di lebih dari 190 negara.
"Kita tidak bisa lagi menutup mata dengan adanya TPS liar. Pemerintah daerah harus tegas menertibkan dan masyarakat perlu sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Beban TPA sudah sangat berat, karena itu sampah harus dikurangi dari hulu," kata Hanif, Sabtu (20/9/2025).
Baca Juga: Jakarta Darurat Sampah, Menteri LH: Hasilkan Lebih dari 1.000 Ton/Hari
Hanif memimpin aksi bersih-bersih di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten. Kegiatan ini menjadi simbol ajakan konkret kepada pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama memberantas keberadaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) liar yang membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) serta mencemari lingkungan. Aksi ini sekaligus menjadi sarana peningkatan kapasitas publik dalam mengelola sampah.
"World Cleanup Day bukan hanya tentang memungut sampah sehari, tapi momentum membangun kesadaran kolektif dan kapasitas masyarakat untuk mengubah kebiasaan. Dari hal kecil seperti memilah sampah di rumah, dampaknya akan besar bagi keberlanjutan lingkungan," kata Hanif.
Hanig mengatakan, KLH/BPLH terus mendorong penerapan ekonomi sirkular, tanggung jawab produsen melalui Extended Producer Responsibility (EPR), serta pembatasan plastik sekali pakai. Disiplin mengelola sampah sejak dari rumah akan meringankan beban TPA, menciptakan lingkungan lebih sehat, sekaligus menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Aksi bersih-bersih hanyalah langkah awal, yang terpenting adalah konsistensi menjalankan kebiasaan baik setiap hari," ujarnya.
Partisipasi masyarakat Desa Terate menjadi bukti nyata kekuatan gerakan bersama. Aparat, komunitas, pelajar, mahasiswa, dan warga bergotong royong membersihkan pembuangan liar yang selama ini dikeluhkan. Kehadiran Menteri LH di lokasi memberi dorongan moral bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi gerakan kolektif lintas sektor.
Melalui peringatan World Cleanup Day 2025, pemerintah menegaskan kembali target pengurangan sampah plastik di laut hingga 70 persen pada 2025. Aksi di Serang juga menjadi contoh bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil di lapangan.
"Gerakan bersih-bersih tidak boleh berhenti di satu hari, melainkan menjadi kebiasaan bersama demi mewariskan lingkungan sehat dan lestari bagi generasi mendatang," pungkas Hanif.
Hal itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq dalam rangkaian World Cleanup Day 2025 yang dirayakan serentak di lebih dari 190 negara.
"Kita tidak bisa lagi menutup mata dengan adanya TPS liar. Pemerintah daerah harus tegas menertibkan dan masyarakat perlu sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Beban TPA sudah sangat berat, karena itu sampah harus dikurangi dari hulu," kata Hanif, Sabtu (20/9/2025).
Baca Juga: Jakarta Darurat Sampah, Menteri LH: Hasilkan Lebih dari 1.000 Ton/Hari
Hanif memimpin aksi bersih-bersih di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten. Kegiatan ini menjadi simbol ajakan konkret kepada pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama memberantas keberadaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) liar yang membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) serta mencemari lingkungan. Aksi ini sekaligus menjadi sarana peningkatan kapasitas publik dalam mengelola sampah.
"World Cleanup Day bukan hanya tentang memungut sampah sehari, tapi momentum membangun kesadaran kolektif dan kapasitas masyarakat untuk mengubah kebiasaan. Dari hal kecil seperti memilah sampah di rumah, dampaknya akan besar bagi keberlanjutan lingkungan," kata Hanif.
Hanig mengatakan, KLH/BPLH terus mendorong penerapan ekonomi sirkular, tanggung jawab produsen melalui Extended Producer Responsibility (EPR), serta pembatasan plastik sekali pakai. Disiplin mengelola sampah sejak dari rumah akan meringankan beban TPA, menciptakan lingkungan lebih sehat, sekaligus menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Aksi bersih-bersih hanyalah langkah awal, yang terpenting adalah konsistensi menjalankan kebiasaan baik setiap hari," ujarnya.
Partisipasi masyarakat Desa Terate menjadi bukti nyata kekuatan gerakan bersama. Aparat, komunitas, pelajar, mahasiswa, dan warga bergotong royong membersihkan pembuangan liar yang selama ini dikeluhkan. Kehadiran Menteri LH di lokasi memberi dorongan moral bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi gerakan kolektif lintas sektor.
Melalui peringatan World Cleanup Day 2025, pemerintah menegaskan kembali target pengurangan sampah plastik di laut hingga 70 persen pada 2025. Aksi di Serang juga menjadi contoh bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil di lapangan.
"Gerakan bersih-bersih tidak boleh berhenti di satu hari, melainkan menjadi kebiasaan bersama demi mewariskan lingkungan sehat dan lestari bagi generasi mendatang," pungkas Hanif.
(zik)
Lihat Juga :