Film Merah Putih One For All Digeruduk Netizen, Kemenekraf: Cuma Kasih Masukan
Selasa, 12 Agustus 2025 - 16:32 WIB
loading...
Kementerian Ekraf menyangkal ikut membiayai produksi film animasi Merah Putih: One For All, termasuk mempromosikan film yang tengah disorot publik. Film Merah Putih digeruduk netizen karena kualitasnya kurang mumpuni. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menyangkal ikut membiayai produksi film animasi Merah Putih: One For All, termasuk mempromosikan film yang tengah disorot publik. Film Merah Putih digeruduk netizen karena kualitasnya kurang mumpuni dan biaya produksinya yang mencengangkan.
"Kementerian Ekraf menegaskan pemerintah tidak memberikan dukungan bersifat finansial maupun fasilitasi produksi dan promosi terhadap film Merah Putih: One For All," ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Kiagoos Irvan Faisal, Selasa (12/8/2025).
Baca juga: Pesan Menyentuh Angga Dwimas Sasongko untuk Animator di Tengah Sorotan Film Merah Putih One For All
Kementerian Ekraf tidak memiliki kewenangan melakukan kurasi. Apalagi meloloskan atau tidaknya sebuah tayangan film hingga ke bioskop. "Proses kurasi dan seleksi penayangan menjadi kewenangan pihak distributor, dalam hal ini pemilik bioskop," katanya.
Kiagoos mengakui Kementerian Ekraf pernah menerima audiensi tim produksi Merah Putih: One For All pada 7 Juli 2025. Hal ini sesuai dengan unggahan akun X @ekraf_ri terkait audiensi yang dilakukan Perfiki selaku penggagas film Merah Putih: One For All ke Kementerian Ekraf.
"Tim produksi Merah Putih: One For All melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. Dalam audiensi tersebut, Wamen Ekraf memberikan sejumlah masukan untuk peningkatan kualitas film animasi tersebut," tuturnya.
Kementerian Ekraf meyakini bahwa setiap pegiat ekonomi kreatif patut diberikan ruang untuk berkarya dan kesempatan berkreasi. Dengan catatan dapat memberikan dampak positif khususnya bagi sektor ekonomi kreatif.
Film animasi lokal Merah Putih: One For All menjadi sorotan publik setelah perilisan trailernya baru-baru ini. Alih-alih mendapat sambutan positif, film ini justru menuai kritik pedas dari warganet hingga praktisi industri kreatif.
Salah satu kritik terbesar tertuju pada kualitas visual yang dinilai kaku, ekspresi minim, serta detail grafis yang disebut mirip game era PlayStation 2. Banyak yang menyayangkan hasil ini mengingat film tersebut diproyeksikan tayang di bioskop dan membawa tema nasionalisme.
Beberapa penonton membandingkannya dengan film animasi lokal lain seperti Jumbo yang dinilai jauh lebih unggul dari segi grafis maupun storytelling.
Tak hanya visual dan cerita, film animasi garapan produser Toto Soegriwo juga disorot karena dugaan penggunaan aset 3D yang dibeli dari platform seperti Reallusion. Karakter dalam film terlihat memiliki kemiripan mencolok dengan model yang dijual di Content Store sehingga menimbulkan pertanyaan soal orisinalitas.
Yang membuat publik makin terheran yakni biaya produksi film ini mencapai Rp6,7 miliar. Angka tersebut dinilai tidak sebanding dengan hasil trailer yang dirilis, sehingga memunculkan tanda tanya terkait alokasi dana produksi.
"Kementerian Ekraf menegaskan pemerintah tidak memberikan dukungan bersifat finansial maupun fasilitasi produksi dan promosi terhadap film Merah Putih: One For All," ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Kiagoos Irvan Faisal, Selasa (12/8/2025).
Baca juga: Pesan Menyentuh Angga Dwimas Sasongko untuk Animator di Tengah Sorotan Film Merah Putih One For All
Kementerian Ekraf tidak memiliki kewenangan melakukan kurasi. Apalagi meloloskan atau tidaknya sebuah tayangan film hingga ke bioskop. "Proses kurasi dan seleksi penayangan menjadi kewenangan pihak distributor, dalam hal ini pemilik bioskop," katanya.
Kiagoos mengakui Kementerian Ekraf pernah menerima audiensi tim produksi Merah Putih: One For All pada 7 Juli 2025. Hal ini sesuai dengan unggahan akun X @ekraf_ri terkait audiensi yang dilakukan Perfiki selaku penggagas film Merah Putih: One For All ke Kementerian Ekraf.
"Tim produksi Merah Putih: One For All melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. Dalam audiensi tersebut, Wamen Ekraf memberikan sejumlah masukan untuk peningkatan kualitas film animasi tersebut," tuturnya.
Kementerian Ekraf meyakini bahwa setiap pegiat ekonomi kreatif patut diberikan ruang untuk berkarya dan kesempatan berkreasi. Dengan catatan dapat memberikan dampak positif khususnya bagi sektor ekonomi kreatif.
Film animasi lokal Merah Putih: One For All menjadi sorotan publik setelah perilisan trailernya baru-baru ini. Alih-alih mendapat sambutan positif, film ini justru menuai kritik pedas dari warganet hingga praktisi industri kreatif.
Salah satu kritik terbesar tertuju pada kualitas visual yang dinilai kaku, ekspresi minim, serta detail grafis yang disebut mirip game era PlayStation 2. Banyak yang menyayangkan hasil ini mengingat film tersebut diproyeksikan tayang di bioskop dan membawa tema nasionalisme.
Beberapa penonton membandingkannya dengan film animasi lokal lain seperti Jumbo yang dinilai jauh lebih unggul dari segi grafis maupun storytelling.
Tak hanya visual dan cerita, film animasi garapan produser Toto Soegriwo juga disorot karena dugaan penggunaan aset 3D yang dibeli dari platform seperti Reallusion. Karakter dalam film terlihat memiliki kemiripan mencolok dengan model yang dijual di Content Store sehingga menimbulkan pertanyaan soal orisinalitas.
Yang membuat publik makin terheran yakni biaya produksi film ini mencapai Rp6,7 miliar. Angka tersebut dinilai tidak sebanding dengan hasil trailer yang dirilis, sehingga memunculkan tanda tanya terkait alokasi dana produksi.
(jon)
Lihat Juga :