Langkah Prabowo Mekarkan TNI Dinilai Tepat, Idealnya Indonesia Miliki 2,8 Juta Tentara
Senin, 11 Agustus 2025 - 16:39 WIB
loading...
Langkah Presiden Prabowo Subianto memperbesar struktur TNI dengan menambah satuan baru dinilai tepat. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Langkah Presiden Prabowo Subianto memperbesar struktur TNI dengan menambah satuan baru dinilai tepat. Hal itu untuk menjawab sekaligus mengantisipasi dinamika global yang terjadi saat ini.
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting menilai, situasi pertahanan dan keamanan negara berbeda-beda. Apalagi Indonesia pernah punya pengalaman dijajah. “Sudah tepat. Perombakan organisasi ini dikaitkan dengan politik global. Harus diantisipasi ke depannya,” katanya, Senin (11/8/2025).
Dia menyebut saat ini negara-negara di dunia tengah berada dalam konflik seperti yang terjadi di Rusia-Ukraina, kemudian di Timur Tengah (Timteng) perang antara Iran-Israel, Thailand-Kamboja, serta India-Pakistan. Apa yang terjadi di negara-negara tersebut tidak menutup kemungkinan terjadi di Indonesia.
Baca juga: Presiden Prabowo Perkuat TNI lewat Pelantikan dan Pengukuhan Satuan Baru, Apa Saja?
Apalagi Indonesia juga berbatasan langsung dengan sejumlah negara. Di darat, Indonesia berbatasan dengan Papua Nugini, Malaysia, dan Timor Leste. Sedangkan di Laut, Indonesia berbatasan dengan Filipina, Malaysia, dan Singapura.
”Jumlah penduduk Indonesia 280 juta jiwa, kita cuma punya 400.000 tentara. Idealnya itu 1% dari jumlah penduduk yakni 2,8 juta. Era Prabowo sampai akhir masa jabatan pada 2029 setidaknya Indonesia harus memiliki 1 juta personel militer,” tegasnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Resmikan Satuan Baru TNI, 6 Kodam hingga 100 Batalyon Teritorial
Karenanya, pembentukan Kodam baru oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan hal yang wajar. Idealnya, setiap provinsi memiliki Kodam seperti institusi Polri yang memiliki Polda hampir di setiap provinsi. Begitu juga dengan pemekaran Korps Marinir, kata dia, sangat masuk akal mengingat Indonesia memiliki 17.000 pulau dengan garis pantai nomor dua terpanjang di dunia setelah Kanada.
”Dengan pemekaran struktur Korps Marinir, nantinya para prajurit tersebut ditempatkan di sejumlah lokasi strategis, menjaga pulau-pulau terluar dan terpencil. Apalagi saat ini situasi di Ambalat tengah memanas,” katanya.
Dia juga menyebut penambahan dua divisi Korpasgat sudah tepat. Para prajurit nantinya menjaga dan mengamankan objek vital bandara. “Bandara banyak tapi personel Korpasgat sedikit kaya di Papua kita minim akibatnya seringkali OPM melakukan penyerangan,’ katanya.
Tidak dipungkiri, kata dia, pengembangan organisasi TNI ini akan berdampak pada anggaran militer. Dia menyebut, saat ini hampir semua negara memperkuat pertahanannya dengan meningkatkan anggaran militernya.
“Negara-negara besar di dunia itu militernya kuat. Indonesia anggaran militernya hanya 0,8% dari PDB. Sedangkan negara-negara lain anggaran militernya antara 2-4%. Jadi masih jauh. Sebab ancaman perang saat ini bisa berupa perang asimetri atau hybrid,” ucapnya.
Seperti diketahui, Presiden Prabowo membentuk dan meresmikan satuan baru pada Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Kompleks Pusat Pendidikan dan Pelatihan Komando Pasukan Khusus (Pusdiklat Kopassus), Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu, 10 Agustus 2025.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, Hari Minggu Tanggal 10 Agustus Tahun 2025, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan 6 Komando Daerah Militer, 14 Komando Daerah Angkatan Laut, 3 Komando Daerah Angkatan Udara, 1 Komando Operasi Udara, 6 Grup Komando Pasukan Khusus,” ujarnya.
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting menilai, situasi pertahanan dan keamanan negara berbeda-beda. Apalagi Indonesia pernah punya pengalaman dijajah. “Sudah tepat. Perombakan organisasi ini dikaitkan dengan politik global. Harus diantisipasi ke depannya,” katanya, Senin (11/8/2025).
Dia menyebut saat ini negara-negara di dunia tengah berada dalam konflik seperti yang terjadi di Rusia-Ukraina, kemudian di Timur Tengah (Timteng) perang antara Iran-Israel, Thailand-Kamboja, serta India-Pakistan. Apa yang terjadi di negara-negara tersebut tidak menutup kemungkinan terjadi di Indonesia.
Baca juga: Presiden Prabowo Perkuat TNI lewat Pelantikan dan Pengukuhan Satuan Baru, Apa Saja?
Apalagi Indonesia juga berbatasan langsung dengan sejumlah negara. Di darat, Indonesia berbatasan dengan Papua Nugini, Malaysia, dan Timor Leste. Sedangkan di Laut, Indonesia berbatasan dengan Filipina, Malaysia, dan Singapura.
”Jumlah penduduk Indonesia 280 juta jiwa, kita cuma punya 400.000 tentara. Idealnya itu 1% dari jumlah penduduk yakni 2,8 juta. Era Prabowo sampai akhir masa jabatan pada 2029 setidaknya Indonesia harus memiliki 1 juta personel militer,” tegasnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Resmikan Satuan Baru TNI, 6 Kodam hingga 100 Batalyon Teritorial
Karenanya, pembentukan Kodam baru oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan hal yang wajar. Idealnya, setiap provinsi memiliki Kodam seperti institusi Polri yang memiliki Polda hampir di setiap provinsi. Begitu juga dengan pemekaran Korps Marinir, kata dia, sangat masuk akal mengingat Indonesia memiliki 17.000 pulau dengan garis pantai nomor dua terpanjang di dunia setelah Kanada.
”Dengan pemekaran struktur Korps Marinir, nantinya para prajurit tersebut ditempatkan di sejumlah lokasi strategis, menjaga pulau-pulau terluar dan terpencil. Apalagi saat ini situasi di Ambalat tengah memanas,” katanya.
Dia juga menyebut penambahan dua divisi Korpasgat sudah tepat. Para prajurit nantinya menjaga dan mengamankan objek vital bandara. “Bandara banyak tapi personel Korpasgat sedikit kaya di Papua kita minim akibatnya seringkali OPM melakukan penyerangan,’ katanya.
Tidak dipungkiri, kata dia, pengembangan organisasi TNI ini akan berdampak pada anggaran militer. Dia menyebut, saat ini hampir semua negara memperkuat pertahanannya dengan meningkatkan anggaran militernya.
“Negara-negara besar di dunia itu militernya kuat. Indonesia anggaran militernya hanya 0,8% dari PDB. Sedangkan negara-negara lain anggaran militernya antara 2-4%. Jadi masih jauh. Sebab ancaman perang saat ini bisa berupa perang asimetri atau hybrid,” ucapnya.
Seperti diketahui, Presiden Prabowo membentuk dan meresmikan satuan baru pada Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Kompleks Pusat Pendidikan dan Pelatihan Komando Pasukan Khusus (Pusdiklat Kopassus), Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu, 10 Agustus 2025.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, Hari Minggu Tanggal 10 Agustus Tahun 2025, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan 6 Komando Daerah Militer, 14 Komando Daerah Angkatan Laut, 3 Komando Daerah Angkatan Udara, 1 Komando Operasi Udara, 6 Grup Komando Pasukan Khusus,” ujarnya.
(cip)
Lihat Juga :