Cinta Kasih Tanpa Sekat, Romo Martinus Serukan Toleransi dan Persaudaraan Lintas Iman
Selasa, 05 Agustus 2025 - 11:12 WIB
loading...
Imam Katolik sekaligus pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Romo Martinus Joko Lelono. FOTO/IST
A
A
A
YOGYAKARTA - Rasa cinta dan kasih sayang dinilai sebagai bahasa universal yang mampu menembus batas-batas primordialisme. Seperti ajaran Katolik yang menempatkan cinta terhadap sesama ciptaan Tuhan pada derajat yang tinggi, sehingga diharapkan para manusia bisa memuliakan terhadap sesamanya.
Hal ini disampaikan oleh Romo Martinus Joko Lelono, Imam Katolik sekaligus pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam penjelasannya mengenai hakikat cinta dalam ajaran Katolik. Menurutnya, Tuhan menginginkan para manusia untuk bisa saling mengasihi dan mengupayakan kesejahteraan bersama.
"Ajaran Gereja Katolik tidak secara langsung bicara tentang nasionalisme atau cinta terhadap negara, namun banyak ayat yang mengajak umat manusia untuk bisa menganggap manusia lainnya sebagai satu keluarga. Esensinya, manusia diciptakan menurut gambar Allah, yang 'menghendaki segenap bangsa manusia dari satu asal mendiami seluruh muka bumi' (Kis 17:26). Mereka semua dipanggil untuk satu tujuan yang sama, yakni Allah sendiri," kata Romo Martinus di Yogyakarta dalam keterangan tertulis, Selasa (5/8/2025).
Lebih lanjut, Romo Martinus mengutip semboyan historis dari Mgr. Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama Indonesia, "100% Katolik, 100% Indonesia". Semboyan ini, katanya, menjadi penegasan bahwa menjadi seorang Katolik tidak bertentangan dengan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Ia juga menyoroti pentingnya kesejahteraan umum yang bersifat universal, sebagaimana diatur dalam dokumen ajaran Gereja, Gaudium et Spes.
"Tiap kelompok harus memperhatikan aspirasi kelompok lain. Kesejahteraan umum adalah kondisi yang memungkinkan individu dan kelompok mencapai kesempurnaannya secara lebih penuh," katanya mengutip Gaudium et Spes 26.
Terkait fenomena kekerasan atas nama agama di Indonesia, Romo Martinus menyayangkan praktik tersebut dan menilai tindakan tersebut sebagai bentuk perebutan pengaruh dan kekuasaan yang keliru. Ia menegaskan bahwa kemuliaan agama tidak dapat dicapai melalui penindasan atau kekerasan yang menyengsarakan sesama.
Ia mendorong perjumpaan lintas iman, khususnya di kalangan generasi muda, sebagai cara untuk memperkuat toleransi dan pemahaman. Ia menilai pentingnya ruang publik yang inklusif sebagai wadah interaksi lintas keyakinan, agar masyarakat, khususnya anak muda, tidak hidup dalam lingkungan homogen yang mempersempit wawasan kebangsaan.
"Negara perlu menyediakan ruang-ruang perjumpaan seperti taman kota, lapangan, dan sarana olahraga terbuka. Ini akan membantu membangun kesadaran bersama dalam kebhinekaan," ujarnya.
Menutup keterangannya, Romo Martinus mengimbau agar lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal, tidak memisahkan siswa berdasarkan agama. Menurutnya, praktik segregasi pembelajaran agama yang masih terjadi hanya akan memperkuat sekat-sekat perbedaan, alih-alih mempererat persaudaraan.
"Generasi muda perlu saling bertemu, mengakui kesalahan diri dan kebaikan orang lain. Ini bagian penting dari membangun bangsa yang utuh," katanya.
Hal ini disampaikan oleh Romo Martinus Joko Lelono, Imam Katolik sekaligus pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam penjelasannya mengenai hakikat cinta dalam ajaran Katolik. Menurutnya, Tuhan menginginkan para manusia untuk bisa saling mengasihi dan mengupayakan kesejahteraan bersama.
"Ajaran Gereja Katolik tidak secara langsung bicara tentang nasionalisme atau cinta terhadap negara, namun banyak ayat yang mengajak umat manusia untuk bisa menganggap manusia lainnya sebagai satu keluarga. Esensinya, manusia diciptakan menurut gambar Allah, yang 'menghendaki segenap bangsa manusia dari satu asal mendiami seluruh muka bumi' (Kis 17:26). Mereka semua dipanggil untuk satu tujuan yang sama, yakni Allah sendiri," kata Romo Martinus di Yogyakarta dalam keterangan tertulis, Selasa (5/8/2025).
Lebih lanjut, Romo Martinus mengutip semboyan historis dari Mgr. Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama Indonesia, "100% Katolik, 100% Indonesia". Semboyan ini, katanya, menjadi penegasan bahwa menjadi seorang Katolik tidak bertentangan dengan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Ia juga menyoroti pentingnya kesejahteraan umum yang bersifat universal, sebagaimana diatur dalam dokumen ajaran Gereja, Gaudium et Spes.
"Tiap kelompok harus memperhatikan aspirasi kelompok lain. Kesejahteraan umum adalah kondisi yang memungkinkan individu dan kelompok mencapai kesempurnaannya secara lebih penuh," katanya mengutip Gaudium et Spes 26.
Terkait fenomena kekerasan atas nama agama di Indonesia, Romo Martinus menyayangkan praktik tersebut dan menilai tindakan tersebut sebagai bentuk perebutan pengaruh dan kekuasaan yang keliru. Ia menegaskan bahwa kemuliaan agama tidak dapat dicapai melalui penindasan atau kekerasan yang menyengsarakan sesama.
Ia mendorong perjumpaan lintas iman, khususnya di kalangan generasi muda, sebagai cara untuk memperkuat toleransi dan pemahaman. Ia menilai pentingnya ruang publik yang inklusif sebagai wadah interaksi lintas keyakinan, agar masyarakat, khususnya anak muda, tidak hidup dalam lingkungan homogen yang mempersempit wawasan kebangsaan.
"Negara perlu menyediakan ruang-ruang perjumpaan seperti taman kota, lapangan, dan sarana olahraga terbuka. Ini akan membantu membangun kesadaran bersama dalam kebhinekaan," ujarnya.
Menutup keterangannya, Romo Martinus mengimbau agar lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal, tidak memisahkan siswa berdasarkan agama. Menurutnya, praktik segregasi pembelajaran agama yang masih terjadi hanya akan memperkuat sekat-sekat perbedaan, alih-alih mempererat persaudaraan.
"Generasi muda perlu saling bertemu, mengakui kesalahan diri dan kebaikan orang lain. Ini bagian penting dari membangun bangsa yang utuh," katanya.
(abd)
Lihat Juga :