Prabowo Dianggap sebagai Soekarno Reborn, PDIP Dinilai Perlu Diajak Masuk Kabinet
Rabu, 25 Juni 2025 - 17:08 WIB
loading...
A
A
A
Pernyataan yang disampaikan di St. Petersburg itu dianggap mencerminkan semangat Trisakti Soekarno yang menjunjung kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi. Peluncuran memoar Prabowo versi Rusia juga dinilai sebagai langkah diplomasi kultural untuk memperkuat posisi Indonesia di dunia, serupa dengan upaya Soekarno melalui Konferensi Asia-Afrika.
Wacana PDIP bergabung dalam kabinet telah mengemuka sejak pertemuan antara Prabowo dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada 2 Juni 2025 di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, dan dilanjutkan dengan silaturahmi di kediaman Megawati pada 5 Juni 2025.
Meski elite PDIP seperti Komarudin Watubun menyatakan bahwa komunikasi tersebut tidak serta-merta berarti bergabung, Surya Fermana optimistis peluang ini tetap terbuka. “Persatuan adalah kunci. Jika PDIP bergabung, ini akan menjadi simbol kuat bahwa Indonesia bersatu di bawah kepemimpinan Prabowo, seperti era Soekarno yang mengedepankan musyawarah dan gotong royong,” katanya.
Namun, Surya juga mengakui tantangan sejarah, seperti perbedaan latar belakang Orde Lama dan Orde Baru, perlu dijembatani. “Prabowo dan Megawati harus fokus pada masa depan, bukan masa lalu. Gotong royong adalah jalan menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Dengan semangat persatuan dan gotong royong, pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan dapat mengintegrasikan semua elemen bangsa, termasuk PDIP, untuk mewujudkan visi Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan bermartabat di mata dunia.
Wacana PDIP bergabung dalam kabinet telah mengemuka sejak pertemuan antara Prabowo dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada 2 Juni 2025 di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, dan dilanjutkan dengan silaturahmi di kediaman Megawati pada 5 Juni 2025.
Meski elite PDIP seperti Komarudin Watubun menyatakan bahwa komunikasi tersebut tidak serta-merta berarti bergabung, Surya Fermana optimistis peluang ini tetap terbuka. “Persatuan adalah kunci. Jika PDIP bergabung, ini akan menjadi simbol kuat bahwa Indonesia bersatu di bawah kepemimpinan Prabowo, seperti era Soekarno yang mengedepankan musyawarah dan gotong royong,” katanya.
Namun, Surya juga mengakui tantangan sejarah, seperti perbedaan latar belakang Orde Lama dan Orde Baru, perlu dijembatani. “Prabowo dan Megawati harus fokus pada masa depan, bukan masa lalu. Gotong royong adalah jalan menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Dengan semangat persatuan dan gotong royong, pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan dapat mengintegrasikan semua elemen bangsa, termasuk PDIP, untuk mewujudkan visi Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan bermartabat di mata dunia.
(rca)
Lihat Juga :