Kecam Serangan AS terhadap Iran, BKSAP DPR: Perburuk Konflik
Minggu, 22 Juni 2025 - 22:38 WIB
loading...
BKSAP DPR mengecam serangan militer sepihak yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran. Foto/iran international
A
A
A
JAKARTA - Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR mengecam serangan militer sepihak yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran di tengah diplomasi Iran dan Uni Eropa di Swiss.Serangan tersebut dinilai memperburuk konflik dan merusak kepercayaan diplomasi internasional.
Ketua BKSAP DPR dari Fraksi PKS Mardani Ali Sera mengatakan, tindakan Amerika Serikat tak hanya memperburuk konflik antara Iran-Israel. Mardani Ali menilai, serangan Amerika Serikat juga merusak kepercayaan terhadap mekanisme diplomasi internasional.
"Tindakan sepihak Amerika Serikat tidak hanya memperburuk konflik, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap mekanisme diplomasi internasional," ujar Mardani, Minggu (22/6/2025).
Baca juga: Serangan AS ke Iran Bukan untuk Menggulingkan Khamenei
Mardani pun menilai, serangan AS menjadi pengingat akan peran strategis parlemen di seluruh dunia dalam mencegah konflik dan menjaga perdamaian. Menurutnya, kekuatan militer tak boleh jadi alat utama dalam penyelesaian sengketa internasional.
"Kekuatan militer tidak boleh menjadi alat utama dalam menyelesaikan sengketa internasional. Justru parlemen dan diplomasi parlementer harus menjadi garda terdepan dalam membangun kepercayaan antarnegara dan mendorong penyelesaian damai yang berkelanjutan," pungkas Mardani.
Baca juga: 5 Skenario Iran Merespons Serangan AS, dari Balas Dendam hingga Minta Bantuan Rusia
Seperti diketahui, serangan militer Amerika Serikat ke Iran dilancarkan pada Minggu dini hari, 22 Juni 2025, bertepatan dengan pukul 03.00 waktu setempat. Waktu tersebut sama dengan serangan militer yang dilakukan oleh Israel ke wilayah Iran.
Kesamaan waktu ini semakin memperkuat kekhawatiran akan terjadinya konflik berskala regional dan potensi pecahnya perang terbuka di Timur Tengah.
Amerika Serikat mengungkapkan militer AS menggunakan enam bom penghancur bunker GBU-57 secara khusus untuk menargetkan fasilitas nuklir bawah tanah Fordow milik Iran.
Selain itu dalam operasi tersebut, Amerika Serikat menyerang Iran dengan kapal selam militer. Setidaknya 30 rudal Tomahawk dijatuhkan ke berbagai target di Iran.
Lebih dari sekadar serangan fisik, insiden ini merupakan tamparan terhadap prinsip-prinsip multilateralisme dan penyelesaian damai melalui diplomasi.
Terlebih, serangan dilancarkan bersamaan dengan pertemuan diplomatik antara delegasi Iran dan Uni Eropa di Swiss menandakan penolakan terang-terangan terhadap ruang dialog.
Ketua BKSAP DPR dari Fraksi PKS Mardani Ali Sera mengatakan, tindakan Amerika Serikat tak hanya memperburuk konflik antara Iran-Israel. Mardani Ali menilai, serangan Amerika Serikat juga merusak kepercayaan terhadap mekanisme diplomasi internasional.
"Tindakan sepihak Amerika Serikat tidak hanya memperburuk konflik, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap mekanisme diplomasi internasional," ujar Mardani, Minggu (22/6/2025).
Baca juga: Serangan AS ke Iran Bukan untuk Menggulingkan Khamenei
Mardani pun menilai, serangan AS menjadi pengingat akan peran strategis parlemen di seluruh dunia dalam mencegah konflik dan menjaga perdamaian. Menurutnya, kekuatan militer tak boleh jadi alat utama dalam penyelesaian sengketa internasional.
"Kekuatan militer tidak boleh menjadi alat utama dalam menyelesaikan sengketa internasional. Justru parlemen dan diplomasi parlementer harus menjadi garda terdepan dalam membangun kepercayaan antarnegara dan mendorong penyelesaian damai yang berkelanjutan," pungkas Mardani.
Baca juga: 5 Skenario Iran Merespons Serangan AS, dari Balas Dendam hingga Minta Bantuan Rusia
Seperti diketahui, serangan militer Amerika Serikat ke Iran dilancarkan pada Minggu dini hari, 22 Juni 2025, bertepatan dengan pukul 03.00 waktu setempat. Waktu tersebut sama dengan serangan militer yang dilakukan oleh Israel ke wilayah Iran.
Kesamaan waktu ini semakin memperkuat kekhawatiran akan terjadinya konflik berskala regional dan potensi pecahnya perang terbuka di Timur Tengah.
Amerika Serikat mengungkapkan militer AS menggunakan enam bom penghancur bunker GBU-57 secara khusus untuk menargetkan fasilitas nuklir bawah tanah Fordow milik Iran.
Selain itu dalam operasi tersebut, Amerika Serikat menyerang Iran dengan kapal selam militer. Setidaknya 30 rudal Tomahawk dijatuhkan ke berbagai target di Iran.
Lebih dari sekadar serangan fisik, insiden ini merupakan tamparan terhadap prinsip-prinsip multilateralisme dan penyelesaian damai melalui diplomasi.
Terlebih, serangan dilancarkan bersamaan dengan pertemuan diplomatik antara delegasi Iran dan Uni Eropa di Swiss menandakan penolakan terang-terangan terhadap ruang dialog.
(cip)
Lihat Juga :