GSK Indonesia Tekankan Pentingnya Edukasi Cegah Penyebaran Virus Saluran Pernapasan
Jum'at, 30 Mei 2025 - 22:52 WIB
loading...
Edukasi pencegahan penyebaran virus Respiratory Syncytial Virus (RSV) sangat penting terutama bagi lansia. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Kasus covid-19 kembali meningkat di sejumlah negara seperti Singapura, Bangkok dan Hong Kong. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut saat ini dunia sedang menghadapi tantangan berupa tripledemic di mana Covid-19, Influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV) bersirkulasi secara bersamaan.
RSV memiliki tingkat keparahan klinis yang lebih tinggi dibandingkan dengan Covid-19 dan influenza. Persentase tindakan rawat inap yang lebih tinggi ditemukan pada pasien RSV dibandingkan dengan Covid-19 maupun influenza.
Selain itu infeksi RSV secara umum memiliki tingkat penularan lebih tinggi dari Covid-19. RSV adalah virus saluran pernapasan yang umum dan biasanya menyebabkan gejala mirip influenza yang ringan, tetapi dapat juga menginfeksi paru-paru.
Gejala umum RSV termasuk pilek, batuk, demam, sakit tenggorokan, bersin, sakit kepala, mengi, dan kesulitan bernapas, sehingga tidak mudah dibedakan dari virus pernapasan lainnya seperti influenza atau Covid-19.
Baca juga: Covid-19 Meningkat di Singapura, Thailand, dan Hong Kong, Kemenkes: Indonesia Aman
Dalam menghadapi tripledemic, hal yang sangat dikhawatirkan adalah kondisi penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia yang diproyeksikan pada 2030 mencapai 14,6% dari total populasi. Populasi lansia yang memiliki penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes dan paru lebih rentan terhadap infeksi pernapasan.
Beberapa kasus pada lansia atau pada orang dengan sistem imun yang rendah, infeksi RSV dapat menyebabkan infeksi sedang hingga berat, seperti pneumonia atau bronkiolitis (radang di saluran udara kecil di paru-paru). Bahkan, angka kematian akibat RSV pada pasien rawat inap dewasa berdasarkan suatu studi di Thailand adalah 15,9%.
Baca juga: Profil Kolonel Inf Romel Jangga Wardhana, Teman Seangkatan AHY di Akmil yang Jadi Danpusdiklatpassus Kopassus
RSV secara signifikan mempengaruhi kondisi kesehatan golongan lansia dan individu yang memiliki komorbiditas. Virus RSV dapat menyebar saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Selain itu melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi RSV, termasuk juga dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dengan virus.
Saat ini, belum ada pengobatan khusus untuk RSV. Oleh karena itu, sangat penting untuk mencegah penyebaran RSV dengan menerapkan kebersihan yang baik, seperti menutup mulut saat batuk atau bersin, mencuci tangan secara teratur, dan membersihkan permukaan yang sering disentuh. Selain itu, cara pencegahan lainnya termasuk menggunakan masker, dan menerapkan physical distancing.
Mengingat gejala infeksi RSV yang sulit dibedakan dari infeksi saluran pernapasan lainnya, diagnosis untuk RSV yang sering kali tidak dipertimbangkan, dan belum adanya pengobatan spesifik yang tersedia, maka mencegah infeksi RSV dengan vaksinasi menjadi cara untuk melindungi individu yang berisiko dari infeksi RSV.
Communication, Government Affairs & Market Access Director, GSK (GlaxoSmithKline) Indonesia Reswita Dery Gisriani mengatakan, berdasarkan penelitian jumlah infeksi akibat RSV di Asia Tenggara diperkirakan akan mencapai 7,2 juta kasus dalam tiga tahun.
"Di Indonesia, jumlah kasus diprediksi mencapai 6,1 juta dalam periode yang sama. Data ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan urgensi peningkatan edukasi untuk mencegah penyebaran infeksi RSV terutama di Indonesia,” beber Reswita, Jumat (30/5/2025).
Reswita menambahkan, di GSK, pihaknya berkomitmen untuk bermitra bersama pemerintah dan tenaga kesehatan dalam memperluas akses obat dan vaksin inovatif untuk memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat yang terus berkembang untuk membangun masa depan masyarakat Indonesia yang lebih sehat.
"Kami juga mendorong masyarakat untuk berdiskusi dengan tenaga kesehatan dalam menentukan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk kebutuhan spesifik masing-masing individu," katanya.
RSV memiliki tingkat keparahan klinis yang lebih tinggi dibandingkan dengan Covid-19 dan influenza. Persentase tindakan rawat inap yang lebih tinggi ditemukan pada pasien RSV dibandingkan dengan Covid-19 maupun influenza.
Selain itu infeksi RSV secara umum memiliki tingkat penularan lebih tinggi dari Covid-19. RSV adalah virus saluran pernapasan yang umum dan biasanya menyebabkan gejala mirip influenza yang ringan, tetapi dapat juga menginfeksi paru-paru.
Gejala umum RSV termasuk pilek, batuk, demam, sakit tenggorokan, bersin, sakit kepala, mengi, dan kesulitan bernapas, sehingga tidak mudah dibedakan dari virus pernapasan lainnya seperti influenza atau Covid-19.
Baca juga: Covid-19 Meningkat di Singapura, Thailand, dan Hong Kong, Kemenkes: Indonesia Aman
Dalam menghadapi tripledemic, hal yang sangat dikhawatirkan adalah kondisi penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia yang diproyeksikan pada 2030 mencapai 14,6% dari total populasi. Populasi lansia yang memiliki penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes dan paru lebih rentan terhadap infeksi pernapasan.
Beberapa kasus pada lansia atau pada orang dengan sistem imun yang rendah, infeksi RSV dapat menyebabkan infeksi sedang hingga berat, seperti pneumonia atau bronkiolitis (radang di saluran udara kecil di paru-paru). Bahkan, angka kematian akibat RSV pada pasien rawat inap dewasa berdasarkan suatu studi di Thailand adalah 15,9%.
Baca juga: Profil Kolonel Inf Romel Jangga Wardhana, Teman Seangkatan AHY di Akmil yang Jadi Danpusdiklatpassus Kopassus
RSV secara signifikan mempengaruhi kondisi kesehatan golongan lansia dan individu yang memiliki komorbiditas. Virus RSV dapat menyebar saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Selain itu melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi RSV, termasuk juga dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dengan virus.
Saat ini, belum ada pengobatan khusus untuk RSV. Oleh karena itu, sangat penting untuk mencegah penyebaran RSV dengan menerapkan kebersihan yang baik, seperti menutup mulut saat batuk atau bersin, mencuci tangan secara teratur, dan membersihkan permukaan yang sering disentuh. Selain itu, cara pencegahan lainnya termasuk menggunakan masker, dan menerapkan physical distancing.
Mengingat gejala infeksi RSV yang sulit dibedakan dari infeksi saluran pernapasan lainnya, diagnosis untuk RSV yang sering kali tidak dipertimbangkan, dan belum adanya pengobatan spesifik yang tersedia, maka mencegah infeksi RSV dengan vaksinasi menjadi cara untuk melindungi individu yang berisiko dari infeksi RSV.
Communication, Government Affairs & Market Access Director, GSK (GlaxoSmithKline) Indonesia Reswita Dery Gisriani mengatakan, berdasarkan penelitian jumlah infeksi akibat RSV di Asia Tenggara diperkirakan akan mencapai 7,2 juta kasus dalam tiga tahun.
"Di Indonesia, jumlah kasus diprediksi mencapai 6,1 juta dalam periode yang sama. Data ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan urgensi peningkatan edukasi untuk mencegah penyebaran infeksi RSV terutama di Indonesia,” beber Reswita, Jumat (30/5/2025).
Reswita menambahkan, di GSK, pihaknya berkomitmen untuk bermitra bersama pemerintah dan tenaga kesehatan dalam memperluas akses obat dan vaksin inovatif untuk memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat yang terus berkembang untuk membangun masa depan masyarakat Indonesia yang lebih sehat.
"Kami juga mendorong masyarakat untuk berdiskusi dengan tenaga kesehatan dalam menentukan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk kebutuhan spesifik masing-masing individu," katanya.
(cip)
Lihat Juga :