Orde Lama Tak Ada Dalam Penulisan Ulang Sejarah, Fadli Zon: Itu Para Sejarawan yang Buat!

Senin, 26 Mei 2025 - 18:16 WIB
loading...
Orde Lama Tak Ada Dalam...
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan alasan tak ada istilah Orde Lama dalam penulisan ulang sejarah. Ia mengatakan, konsep penulisannya disusun oleh sejarawan. Foto/Achmad Al Fiqri
A A A
JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan alasan terkait tak ada istilah Orde Lama dalam penulisan ulang sejarah. Ia mengatakan, konsep penulisan ulang sejarah ini disusun oleh sejarawan.

"Jadi sebenarnya itu para sejarawan yang membuat ya," kata Fadli Zon saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (26/5/2025).

Baca juga: Fadli Zon Sebut 113 Sejarawan Dilibatkan dalam Penulisan Ulang Sejarah Nasional

Di sisi lain, Fadli menyampailan, Presiden ke-1 RI Soekarno tak pernah menyebut Pemerintahannya "Orde Lama." Menurutnya, hal ini berbeda dengan Pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto.

"Kalau kita lihat istilah Orde Lama, pemerintahan Orde Lama, tidak pernah menyebut dirinya Orde Lama, kalau orde baru memang menyebut itu adalah Order Baru," kata Fadli.



"Tapi pemerintahan di masa itu apakah pemerintahan di masa periode itu menyebut dirinya Orde Lama? Kan tidak ada. Jadi sebenarnya itu juga perspektif yang kita ingin membuat lebih inklusif, lebih netral," tambahnya.

Kendati demikian, Fadli menyampaikan, hal itu bukan ditujukan untuk tidak mengakui Pemerintah Orde Lama.

Baca juga: Mereka yang Bersuara soal Polemik Penulisan Ulang Sejarah, Puan Ingatkan Prinsip Jas Merah

"Bukan, itu kan masa-masa demokrasi, misalnya, kalau kita lihat dari demokrasi liberal waktu itu kan jatuh bangunnya kabinet," kata Fadli.

"Yang berkuasa secara eksekutif kan sebenarnya kabinet, dari kabinet Natsir, Burhanuddin Abdullah (Harahap), Ali Sastroamidjojo, Kabinet Wilopo dan seterusnya, itu sampai kemudian era demokrasi terpimpin tahun 1959 sampai tahun 1966 kira-kira gitu," imbuhnya.

Dalam proyek penulisan ulang sejarah, setidaknya 113 sejarawan yang berlatar belakang akademisi, arkeolog hingga ilmuwam humaniora lainnya dilibatkan.

Nantinya, proyek ini akan menerbitkan 11 jilid buku. Ke-11 buku yang bakal diterbitkan itu, bakal menceritakan sejarah awal mula Nusantara hingga era Reformasi.

Hal itu diungkapkan Fadli Zon saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi X DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (26/5/2025). Ia menuturkan, jilid pertama buku yang akan terbit akan menceritakan awal mula Nusantara.

"Tentang buku, Jilid 1 sejarah awal Nusantara. Jadi kita tidak sebut lagi prasejarah. Karena ini prasejarah ini mengacunya seolah-olah sejarah kita ini dimulai dari abad ke 4," kata Fadli Zon.

Adapun jilid kedua bertajuk Nusantara dalam jaringan global India dan China. Sementara jilid ketiga yakni Nusantara dalam jaringan global Timur Tengah.

"Ini termasuk juga kita memasukan temuan-temuan sebagai contoh masuknya Islam ke Indonesia dengan ditemukannya situs Bongal beberapa tahun lalu di Tapanuli Tengah di Sumatera Utara ternyata Islam masuk lebih awal, dalam catatan sejarah kita Islam masuk di abad ke-13. Dengan adanya temuan di situs Bongal ternyata islam masuk lebih awal di abad ke 7 masehi," ucap Fadli.

Jilid selanjutnya, kata Fadli, terkait ineraksi dengan barat, kemudian kompetisi dan aliansi, respons terhadap penjajahan hingga pergerakan kebangsaan. "Ketujuh adalah perang kemerdekaan Indonesia, yang kedelapan masa bergejolak dan ancaman terhadap integrasi," tutur Fadli.

"Kemudian era orde baru (1967-1998), era reformasi (1999-2024). Ini yang merupakan konsep yang ditulis oleh para sejarawan dan tentu kita berikan semaksimal mungkin bahkan kebebasan untuk menulis ini sesuai dengan kompetensi keilmuwan masing-masing," jelasnya.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Din Syamsuddin Ungkap...
Din Syamsuddin Ungkap Bung Karno Tokoh Dikagumi Dunia Internasional
Ziarah ke Makam Soekarno...
Ziarah ke Makam Soekarno di Blitar, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa
Prabowo Kenang Hari...
Prabowo Kenang Hari Lahir Soekarno Lewat Potret Sang Proklamator
Peristiwa Bersejarah...
Peristiwa Bersejarah 21 Mei 1998, BJ Habibie Ucapkan Sumpah Jabatan Presiden di Istana Merdeka
Peristiwa Bersejarah...
Peristiwa Bersejarah 21 Mei 1998, Soeharto Berhenti dari Jabatan Presiden
Kenang KH Abdul Wahab...
Kenang KH Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Ma'ruf Amin: Ulama, Negarawan, dan Politisi
Pramono Dampingi Megawati...
Pramono Dampingi Megawati Hadiri Bung Karno Festival di Taman Proklamasi
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Rekomendasi
Di Tengah Salat, Arah...
Di Tengah Salat, Arah Kiblat Berubah! Begini Sejarah Kakbah Menjadi Kiblat Umat Islam
Brasil vs Jepang: Mampukah...
Brasil vs Jepang: Mampukah Samurai Biru Hapus Kutukan?
Demi Jaga Pasokan Listrik,...
Demi Jaga Pasokan Listrik, Kebijakan DMO dan RKAB Perlu Dievaluasi
Berita Terkini
Pakar Hukum: Konsep...
Pakar Hukum: Konsep Presisi Jadi Kunci Meningkatnya Kepercayaan Publik kepada Polri
Narkoba, Masa Depan...
Narkoba, Masa Depan Bangsa, dan Kerja Sama Internasional
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Roy Suryo Dimulai, Hakim Ungkap Jadwal Setiap Persidangan
Pemerintah Ajukan RUU...
Pemerintah Ajukan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber ke DPR, Atur Mekanisme Penyidikan dan Sanksi
PN Jakpus Gelar Sidang...
PN Jakpus Gelar Sidang Vonis Nadiem Makarim Besok
Praperadilan Roy Suryo...
Praperadilan Roy Suryo Persoalkan Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, hingga Pencekalan
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved