IIFPG Soroti Makin Maraknya Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Selasa, 20 Mei 2025 - 18:27 WIB
loading...
Ikatan Istri Fraksi Partai Golkar (IIFPG) menyoroti makin maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tanah Air. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Ikatan Istri Fraksi Partai Golkar (IIFPG) menyoroti makin maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tanah Air. Fenomena ini dianggap bukan hanya meresahkan, tapi juga dinilai tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggap panutan masyarakat.
IIFPG mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama mengatasi persoalan kekerasan berbasis gender ini. Ajakan itu disampaikan dalam talkshow bertajuk “Perempuan dan Anak: Ketika Kekerasan Tersembunyi di Balik Sosok Tak Terduga” yang digelar di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/5/2025).
Pembina IIFPG Sri Suparni Bahlil menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi nyaris setiap detik. “Setiap menit kita membaca berita kekerasan di media sosial. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Baca juga: Pelaku Kekerasan terhadap Perempuan di Depok Divonis 10 Bulan, Partai Perindo Desak JPU Lakukan Eksekusi
Sementara itu, Ketua IIFPG Luluk Maknuniah Sarmuji menyoroti fakta mencengangkan bahwa banyak pelaku kekerasan justru datang dari tokoh yang dihormati. “Sosok dengan pendidikan tinggi dan religius pun bisa menjadi pelaku. Padahal, perempuan dan anak adalah modal utama kemajuan bangsa,” tuturnya.
Dia pun menekankan bahwa banyak kasus tidak muncul ke permukaan karena korban belum berani bersuara. “Kekerasan berbasis gender masih terus terjadi. Banyak korban belum berani speak up,” jelasnya.
Psikolog yang turut hadir sebagai pembicara Ratih Ibrahim menambahkan bahwa kekerasan tidak hanya fisik, tapi juga verbal, dan pelakunya bisa dari berbagai latar belakang. “Dokter, guru, pemuka agama, siapa saja bisa menjadi pelaku. Ini yang membuat penanganannya jadi lebih kompleks,” katanya.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dian Sasmita membeberkan bahwa data mencengangkan: setiap jam, dua anak mengalami kekerasan. Ia juga menyoroti minimnya fasilitas perlindungan anak di daerah. “Banyak daerah tidak punya rumah aman atau Unit Pelaksana Teknis yang memadai,” imbuhnya.
Anggota Komisi VIII DPR Atalia Praratya turut mengangkat kasus kekerasan seksual yang terjadi di wilayah dapilnya, Jawa Barat. Salah satunya melibatkan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis. Ia menekankan pentingnya sosialisasi undang-undang yang sudah ada.
“Undang-Undang sudah ada, tapi banyak yang belum tahu. Pemerintah perlu mendorong turunannya, termasuk peraturan presiden, agar bisa benar-benar dirasakan masyarakat,” kata politikus Partai Golkar itu.
Adapun talkshow ini menjadi pengingat keras bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan hanya statistik, tapi tragedi nyata yang terus terjadi, bahkan dari mereka yang tak disangka-sangka. IIFPG menyerukan kolaborasi nyata lintas sektor untuk menghentikan siklus kekerasan ini.
IIFPG mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama mengatasi persoalan kekerasan berbasis gender ini. Ajakan itu disampaikan dalam talkshow bertajuk “Perempuan dan Anak: Ketika Kekerasan Tersembunyi di Balik Sosok Tak Terduga” yang digelar di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/5/2025).
Pembina IIFPG Sri Suparni Bahlil menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi nyaris setiap detik. “Setiap menit kita membaca berita kekerasan di media sosial. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Baca juga: Pelaku Kekerasan terhadap Perempuan di Depok Divonis 10 Bulan, Partai Perindo Desak JPU Lakukan Eksekusi
Sementara itu, Ketua IIFPG Luluk Maknuniah Sarmuji menyoroti fakta mencengangkan bahwa banyak pelaku kekerasan justru datang dari tokoh yang dihormati. “Sosok dengan pendidikan tinggi dan religius pun bisa menjadi pelaku. Padahal, perempuan dan anak adalah modal utama kemajuan bangsa,” tuturnya.
Dia pun menekankan bahwa banyak kasus tidak muncul ke permukaan karena korban belum berani bersuara. “Kekerasan berbasis gender masih terus terjadi. Banyak korban belum berani speak up,” jelasnya.
Psikolog yang turut hadir sebagai pembicara Ratih Ibrahim menambahkan bahwa kekerasan tidak hanya fisik, tapi juga verbal, dan pelakunya bisa dari berbagai latar belakang. “Dokter, guru, pemuka agama, siapa saja bisa menjadi pelaku. Ini yang membuat penanganannya jadi lebih kompleks,” katanya.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dian Sasmita membeberkan bahwa data mencengangkan: setiap jam, dua anak mengalami kekerasan. Ia juga menyoroti minimnya fasilitas perlindungan anak di daerah. “Banyak daerah tidak punya rumah aman atau Unit Pelaksana Teknis yang memadai,” imbuhnya.
Anggota Komisi VIII DPR Atalia Praratya turut mengangkat kasus kekerasan seksual yang terjadi di wilayah dapilnya, Jawa Barat. Salah satunya melibatkan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis. Ia menekankan pentingnya sosialisasi undang-undang yang sudah ada.
“Undang-Undang sudah ada, tapi banyak yang belum tahu. Pemerintah perlu mendorong turunannya, termasuk peraturan presiden, agar bisa benar-benar dirasakan masyarakat,” kata politikus Partai Golkar itu.
Adapun talkshow ini menjadi pengingat keras bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan hanya statistik, tapi tragedi nyata yang terus terjadi, bahkan dari mereka yang tak disangka-sangka. IIFPG menyerukan kolaborasi nyata lintas sektor untuk menghentikan siklus kekerasan ini.
(rca)
Lihat Juga :