Ketua DPP Perindo: Kerja Keras dan Prestasi Jadi Kunci Peran Perempuan di Politik
Minggu, 27 April 2025 - 21:49 WIB
loading...
A
A
A
Dia menambahkan, budaya patriarki juga masih menjadi hambatan besar bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi strategis. "Kita masih hidup dalam budaya yang menganggap bahwa perempuan tidak layak memimpin, bahkan terhadap laki-laki sekalipun," tuturnya.
Untuk melawan stigma tersebut, dia mengajak kaum perempuan untuk fokus pada pengembangan diri, membangun kapabilitas dan memberikan kontribusi nyata di berbagai bidang. "Cara terbaik untuk melawan stereotip ini adalah dengan menunjukkan hasil melalui kerja keras dan prestasi," tegasnya.
Sri Gusni juga menyoroti soal affirmative action yang seharusnya mendukung keterwakilan perempuan minimal 30% di legislatif. Sayangnya, target ini belum tercapai.
"Hari ini, walaupun konstitusi telah mengatur affirmative action untuk perempuan, faktanya keterwakilan perempuan yang benar-benar terpilih masih jauh dari 30%," terangnya, mengutip diskusi dengan Titi Anggraini dari Perludem.
Untuk itu, lanjut Sri Gusni penting dibangun ekosistem politik yang sehat, yang tidak hanya sekadar mencatat angka keterwakilan, tetapi juga memastikan perempuan benar-benar dapat memberikan pengaruh dalam pembuatan kebijakan.
Untuk melawan stigma tersebut, dia mengajak kaum perempuan untuk fokus pada pengembangan diri, membangun kapabilitas dan memberikan kontribusi nyata di berbagai bidang. "Cara terbaik untuk melawan stereotip ini adalah dengan menunjukkan hasil melalui kerja keras dan prestasi," tegasnya.
Sri Gusni juga menyoroti soal affirmative action yang seharusnya mendukung keterwakilan perempuan minimal 30% di legislatif. Sayangnya, target ini belum tercapai.
"Hari ini, walaupun konstitusi telah mengatur affirmative action untuk perempuan, faktanya keterwakilan perempuan yang benar-benar terpilih masih jauh dari 30%," terangnya, mengutip diskusi dengan Titi Anggraini dari Perludem.
Untuk itu, lanjut Sri Gusni penting dibangun ekosistem politik yang sehat, yang tidak hanya sekadar mencatat angka keterwakilan, tetapi juga memastikan perempuan benar-benar dapat memberikan pengaruh dalam pembuatan kebijakan.
Lihat Juga :