Pimpin Gerakan Tanam Sejuta Pohon di Hari Bumi, Menag: Tokoh Agama Beri Teladan Pelestarian Alam
Selasa, 22 April 2025 - 22:00 WIB
loading...
A
A
A
“Dengan lebih dari 42.000 pesantren dan warisan ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan KH Hasyim Asy’ari, Indonesia memiliki legitimasi historis dan moral untuk menjadi pusat peradaban Islam masa depan,” ucapnya.
Dirjen Pendidikan Islam Suyitno mengatakan, PIII mengemban tiga fungsi utama yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Integrasi kurikulum diniyah klasik, capaian kompetensi nasional, dan standar internasional menjadikan pesantren ini unik. Para santri PIII nantinya tidak hanya belajar kitab al-maktubiyah (tertulis), tapi juga kitab-kitab kauniyah (kajian tentang alam).
Sumber belajar mereka tidak hanya hal-hal yang bersifat personal, tetapi juga impersonal. Mereka disiapkan untuk menjadi pribadi yang dapat menyelesaikan tantangan sosial dan berperan dalam komunitas global.
“Pesantren ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa. Asta Cita dalam penguatan SDM unggul, toleransi antarumat, serta pemerataan ekonomi melalui kewirausahaan santri. Di dalamnya santri dibekali ilmu agama, teknologi, kemampuan bahasa, dan akhlakul karimah,” ujar Suyitno.
Kehadiran PIII diharapkan memberi dampak nyata dalam beberapa tahun ke depan. Dampak itu antara lain lahirnya pemimpin umat yang moderat, berilmu, dan berakhlakul karimah, serta terbentuknya solusi atas beragam problem sosial ekonomi.
Dirjen Pendis yang juga Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang ini menambahkan PIII akan menjadi model pendidikan madrasah berbasis pesantren dan bertaraf internasional dengan jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).
Satuan madrasah ini nantinya dipersiapkan menjadi madrasah negeri dengan sepenuhnya menggunakan metode pembelajaran pesantren.
Dirjen Pendidikan Islam Suyitno mengatakan, PIII mengemban tiga fungsi utama yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Integrasi kurikulum diniyah klasik, capaian kompetensi nasional, dan standar internasional menjadikan pesantren ini unik. Para santri PIII nantinya tidak hanya belajar kitab al-maktubiyah (tertulis), tapi juga kitab-kitab kauniyah (kajian tentang alam).
Sumber belajar mereka tidak hanya hal-hal yang bersifat personal, tetapi juga impersonal. Mereka disiapkan untuk menjadi pribadi yang dapat menyelesaikan tantangan sosial dan berperan dalam komunitas global.
“Pesantren ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa. Asta Cita dalam penguatan SDM unggul, toleransi antarumat, serta pemerataan ekonomi melalui kewirausahaan santri. Di dalamnya santri dibekali ilmu agama, teknologi, kemampuan bahasa, dan akhlakul karimah,” ujar Suyitno.
Kehadiran PIII diharapkan memberi dampak nyata dalam beberapa tahun ke depan. Dampak itu antara lain lahirnya pemimpin umat yang moderat, berilmu, dan berakhlakul karimah, serta terbentuknya solusi atas beragam problem sosial ekonomi.
Dirjen Pendis yang juga Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang ini menambahkan PIII akan menjadi model pendidikan madrasah berbasis pesantren dan bertaraf internasional dengan jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).
Satuan madrasah ini nantinya dipersiapkan menjadi madrasah negeri dengan sepenuhnya menggunakan metode pembelajaran pesantren.
(jon)
Lihat Juga :