Pemuda Muhammadiyah: Indonesia Harus Ajari India Kelola Perbedaan

Sabtu, 29 Februari 2020 - 16:14 WIB
Pemuda Muhammadiyah:...
Pemuda Muhammadiyah: Indonesia Harus Ajari India Kelola Perbedaan
A A A
JAKARTA - Ketua Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Razikin mengatakan, kekerasan atas nama agama yang terjadi di India hari-hari ini menambah daftar panjang konflik dengan sentimen agama di negara tersebut.

Artinya kata dia, kekerasan komunal bukan sebuah isu baru di India. (Baca juga: Pemahaman Masyarakat Indonesia terhadap Empat Pilar MPR Masih Rendah)

Dia mengatakan, India merupakan salah satu negara yang memiliki keberagaman etnis, budaya, bahasa dan agama yang sangat tinggi. Karena itu, kata dia, konflik komunal di India sangat rentan terjadi.

"Tidak terkecuali kekerasan komunal antara masyarakat Hindu, yang merupakan agama mayoritas masyarakat India, dengan masyarakat Muslim. Populasi Muslim saat ini berjumlah sekitar 15% dari total populasi India dan menjadikannya sebagai kelompok minoritas terbesar di India," ujar Razikin dalam keterangan tertulisnya kepada SINDOnews, Sabtu (29/2/2020).

Dia menambahkan, konflik komunal yang melibatkan Muslim dan Hindu terjadi sejak tahun 1950 hingga sekarang, dan sudah menelan korban jiwa sekitar 2.000 orang.

"Yang cukup parah terjadi pada tahun 1992- 1993, melalui kampanye peruntuhan Masjid Babri di Ayodhya, Uttar Pradesh yang diorganisir oleh kelompok Nasionalis Hindu," ujarnya.

Dia melanjutkan, kelompok Nasionalis Hindu tersebut bergerak untuk membangun Kuil Rama yang diyakini telah dihancurkan oleh Kesultanan Babur untuk didirikan Masjid Babri.

Razikin yang juga merupakan Alumni Universitas Indonesia (UI) ini melihat, konflik yang terjadi sekarang di India telah ditunggangi oleh kepentingan politik, kelompok mayoritas Hindu.

Kelompok mayoritas Hindu di India, kata dia, sampai hari ini masih mencurigai kelompok muslim tidak memiliki semangat Nasionalisme India. Bahkan kelompok Muslim India itu dituduh pro Pakistan.

Hal itu tercermin dalam Citizienship Amendement Bill (CAB). "Kelihatannya Nasionalisme Hindu mendorong India sebagai Negara Hindu dan kelompok muslim terancam kehilgantgan kewarganeraan," ujarnya.

Dalam konteks itu kata dia, Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah-langkah diplomatik dengan pemerintah India. "Kita memiliki modal yang kuat untuk berbicara dengan India," jelasnya.

"Antara Indonesia dengan India sama-sama memiliki tingkat pluralitas yang sama, karena itu Pemerintah Indonesia harus memberi penekanan pada India bagaimana cara mengelola perbedaan," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Harapan Jokowi pada...
Harapan Jokowi pada Forum Kerukunan Umat Beragama
PKUB Kemenag Inisiasi...
PKUB Kemenag Inisiasi Festival Kerukunan di Desa, Warga: Luar Biasa
Moderasi Beragama Secara...
Moderasi Beragama Secara Global Dinilai Tak Lepas dari Peran Diplomatik
Pendataan lewat FKUB,...
Pendataan lewat FKUB, Cara Kemenag Atasi Intoleransi Beragama
Menag: Kerukunan di...
Menag: Kerukunan di Indonesia Hasil Kerja Keras Semua Elemen
Selesaikan Konflik dengan...
Selesaikan Konflik dengan Membangun Toleransi dan Dialog
Berita Terkini
Kejagung Janji Profesional...
Kejagung Janji Profesional Usut Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah
BMKG Prediksi Curah...
BMKG Prediksi Curah Hujan Tetap Rendah di Wilayah Indonesia pada Pertengahan Juli 2026
Prabowo Panggil Menhan,...
Prabowo Panggil Menhan, Kapolri, hingga Jaksa Agung di Istana Malam Ini, Ada Apa?
Kasus Febrie Adriansyah...
Kasus Febrie Adriansyah Dilimpahkan ke Kejagung, Pakar: Proses Hukum Harus Transparan
Polri Limpahkan Kasus...
Polri Limpahkan Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung, KPK: Kami Yakin Ditangani Profesional
Pukat UGM: Pelimpahan...
Pukat UGM: Pelimpahan Perkara Febrie ke Kejagung Tak Miliki Dasar Hukum
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved