Universitas LIA dan Kemenpar Perkuat Kerja Sama Majukan Desa Wisata
Jum'at, 21 Februari 2025 - 14:50 WIB
loading...
Universitas LIA dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menjalin kerja sama strategis untuk memajukan desa wisata di Indonesia. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Universitas LIA dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menjalin kerja sama strategis untuk memajukan desa wisata di Indonesia.
Pertemuan yang berlangsung daring, Kamis, 20 Februari 2025 ini, dihadiri oleh perwakilan dari kedua belah pihak, termasuk Rektor Universitas LIA Siti Yulidhar Harunasari dan pejabat dari Kemenpar.
Dalam pertemuan ini, Prof. Peter John Wanner, yang berada di Dalat University, Vietnam turut memberikan dimensi internasional. Termasuk membahas potensi kerja sama dalam berbagai bidang.
Baca juga: 12 Desa Wisata Unik di Indonesia, Nomor 3 Situs Kekayaan Dunia UNESCO
Di antaranya, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas produk wisata, pemasaran, dan promosi desa wisata. Kedua belah pihak menyadari pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata, khususnya desa wisata.
Tim Gugus Kerja Sama Internaional dan Penjaminan Mutu Universitas LIA yang juga berada di Dalat University, Vietnam Ismail Suardi Wekke mengatakan, kerja sama ini merupakan peluang besar untuk meningkatkan kualitas desa wisata di Indonesia.
Baca juga: Kampung Wisata Adat Malasigi Juara 1 Desa Wisata Rintisan dalam ADWI 2024
"Kami melihat potensi besar dalam kerja sama ini untuk memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan desa wisata. Universitas LIA memiliki sumber daya manusia yang kompeten, dan kami siap untuk berkolaborasi dengan Kemenpar untuk mencapai tujuan bersama," ujarnya, Jumat (21/2/2025).
Kemenpar menyambut baik inisiatif kerja sama ini. Perwakilan dari Kemenpar Elly Yuniardi menyatakan pihaknya sangat antusias untuk bekerja sama dengan Universitas LIA dalam mengembangkan desa wisata.
"Kami percaya bahwa kerjasama ini akan memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa," katanya.
Salah satu poin penting yang dibahas dalam pertemuan ini adalah rencana untuk mengampanyekan desa wisata Indonesia di mancanegara. Prof. Peter John Wanner, yang memiliki pengalaman luas di bidang pariwisata internasional, memberikan masukan berharga terkait strategi pemasaran yang efektif untuk menarik wisatawan asing. "Kampanye ini harus dilakukan secara terintegrasi dan menyasar target pasar yang tepat," ujar Prof. Wanner.
Universitas LIA dan Kemenpar sepakat untuk segera menyusun rencana kerja yang lebih detail dan konkret. Kedua belah pihak berharap kerja sama ini dapat segera diimplementasikan dan memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan desa wisata di Indonesia.
Pertemuan awal ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat desa wisata di Indonesia. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dukungan dari internasional, desa wisata di Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata yang menarik dan berdaya saing.
Universitas LIA dan Kemenpar akan membentuk tim kerja yang bertugas untuk merumuskan program-program kerja sama yang lebih spesifik. Tim ini akan melibatkan pakar dan praktisi dari berbagai bidang, termasuk pariwisata, ekonomi, dan pemasaran.
Pertemuan yang berlangsung daring, Kamis, 20 Februari 2025 ini, dihadiri oleh perwakilan dari kedua belah pihak, termasuk Rektor Universitas LIA Siti Yulidhar Harunasari dan pejabat dari Kemenpar.
Dalam pertemuan ini, Prof. Peter John Wanner, yang berada di Dalat University, Vietnam turut memberikan dimensi internasional. Termasuk membahas potensi kerja sama dalam berbagai bidang.
Baca juga: 12 Desa Wisata Unik di Indonesia, Nomor 3 Situs Kekayaan Dunia UNESCO
Di antaranya, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas produk wisata, pemasaran, dan promosi desa wisata. Kedua belah pihak menyadari pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata, khususnya desa wisata.
Tim Gugus Kerja Sama Internaional dan Penjaminan Mutu Universitas LIA yang juga berada di Dalat University, Vietnam Ismail Suardi Wekke mengatakan, kerja sama ini merupakan peluang besar untuk meningkatkan kualitas desa wisata di Indonesia.
Baca juga: Kampung Wisata Adat Malasigi Juara 1 Desa Wisata Rintisan dalam ADWI 2024
"Kami melihat potensi besar dalam kerja sama ini untuk memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan desa wisata. Universitas LIA memiliki sumber daya manusia yang kompeten, dan kami siap untuk berkolaborasi dengan Kemenpar untuk mencapai tujuan bersama," ujarnya, Jumat (21/2/2025).
Kemenpar menyambut baik inisiatif kerja sama ini. Perwakilan dari Kemenpar Elly Yuniardi menyatakan pihaknya sangat antusias untuk bekerja sama dengan Universitas LIA dalam mengembangkan desa wisata.
"Kami percaya bahwa kerjasama ini akan memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa," katanya.
Salah satu poin penting yang dibahas dalam pertemuan ini adalah rencana untuk mengampanyekan desa wisata Indonesia di mancanegara. Prof. Peter John Wanner, yang memiliki pengalaman luas di bidang pariwisata internasional, memberikan masukan berharga terkait strategi pemasaran yang efektif untuk menarik wisatawan asing. "Kampanye ini harus dilakukan secara terintegrasi dan menyasar target pasar yang tepat," ujar Prof. Wanner.
Universitas LIA dan Kemenpar sepakat untuk segera menyusun rencana kerja yang lebih detail dan konkret. Kedua belah pihak berharap kerja sama ini dapat segera diimplementasikan dan memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan desa wisata di Indonesia.
Pertemuan awal ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat desa wisata di Indonesia. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dukungan dari internasional, desa wisata di Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata yang menarik dan berdaya saing.
Universitas LIA dan Kemenpar akan membentuk tim kerja yang bertugas untuk merumuskan program-program kerja sama yang lebih spesifik. Tim ini akan melibatkan pakar dan praktisi dari berbagai bidang, termasuk pariwisata, ekonomi, dan pemasaran.
(cip)
Lihat Juga :