Menimbang Omnibus Law Cipta Kerja

Rabu, 02 September 2020 - 08:08 WIB
loading...
Menimbang Omnibus Law...
Foto: dok/SINDOnews
A A A
Riswanda, PhD
Akademisi, Peneliti, Pengamat Kebijakan Publik

Sejak awal Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja (Cika) telah menuai pro-kontra. Polemik memanas ketika pemerintah melanjutkan pembahasan RUU Cika di tengah pandemi Covid-19.

Wacana yang mengemuka di antaranya seputar menyongsong tantangan perubahan global. RUU Cika diharapkan dapat menjadi payung hukum dan kebijakan untuk menggenjot produktivitas ekonomi. Salah satunya dengan melecut penciptaan lapangan kerja yang berkualitas sebanyak 2,7 sampai 3 juta per tahun.

Peningkatan produktivitas melalui RUU Cika diproyeksikan diikuti peningkatan upah pekerja yang dapat mendongkrak daya beli. RUU Cika pun menyasar penyederhanaan izin investasi. Penyederhanaan izin investasi adalah upaya menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan sistem berkelanjutan bagi kesejahteraan pekerja, termasuk pemberdayaan UMKM sebagai sektor penggerak ekonomi riil. Para pemangku kebijakan menilai perlunya penyederhanaan regulasi-birokrasi demi iklim investasi yang bermutu.

Semua itu dilakukan demi menyongsong bonus demografi. Bonus demografi 2030-2050 ialah fenomena surplus penduduk usia produktif (15-64 tahun) dibandingkan penduduk usia tidak produktif (usia 15 tahun ke bawah dan 64 tahun ke atas). Jika proyeksi ini terjadi, bonus demografi akan menyediakan sekitar 200 juta angkatan kerja produktif.

Statistik ini merupakan peluang juga tantangan. Tantangannya ialah ancaman demografi akan timbul jika tumpuan ekonomi terlalu bergantung pada konsumsi rumah tangga dan pembukaan akses lapangan kerja formal, terlebih pada sektor informal.

Meski disambut getir beberapa kalangan, ini bisa diatasi dengan melibatkan publik dalam perumusan RUU Cika. Perdebatan RUU Cika harus terbuka pada ragam pendekatan, tidak melulu ekonomi. Persoalan peningkatan pengangguran terdidik setiap tahun dan minimnya penyerapan tenaga kerja perlu untuk dibahas—mengingat sebagian angkatan kerja berada di sektor informal yang minim perlindungan.

Saat mengkaji kebijakan secara keseluruhan—kita mampu melebarkan ‘boundary of thinking’ (meluaskan cakrawala pikir)—maka wacana yang semula terabaikan bisa menjadi alternatif. Perundangan ketenagakerjaan bersifat sistemis, satu aspek bisa jadi berkaitan dengan lainnya.

Perhatian kita sebaiknya difokuskan untuk memetakan keterkaitan aspek dalam RUU Cika dengan menggambarkan ‘big picture’/peta besar—memadukan ragam kacamata—bukan hanya dengan satu kacamata dominan.

Peluang harapan dapat dipetakan dengan merunut faktor penghambat penciptaan lapangan kerja. Pertanyaan penting perhitungan harapan dan peluang, sekaligus tantangan pascapandemi Covid-19 adalah regulasi apa yang diproyeksikan pemerintah dan jajarannya untuk mengatasi imbas negatif pandemi Covid-19 secara ekonomi politik, sosial, dan budaya.

Perbaikan ekonomi dapat dimulai dari pemetaan potensi sumber daya dalam tema pembangunan manusia Indonesia. Peningkatan taraf hidup dapat diawali dengan pemetaan potensi yang ada. Wacana bonus demografi memiliki peluang jika pembicaraan tak berkutat pada prediksi pembengkakan angkatan kerja produktif lima-sepuluh tahun ke depan.

Wacana provokatif terhadap RUU Cika, yang ramai di media sosial, hanya menambah kegamangan publik dan memperlambat perbaikan ekonomi. Wacana sebaiknya diarahkan untuk edukasi seperti ‘keahlian industri masa depan’ yang seharusnya dimiliki oleh calon pekerja, seperti kemampuan multi-tasking, penguasaan teknologi dan kecakapan umum lainnya, serta penguatan mental dan etos kerja.

Di tengah pandemi yang memukul segala sektor ekonomi, ada baiknya kita melihat ini sebagai peluang yang menantang. Peluang untuk menyiapkan sebuah lompatan besar dengan perbaikan struktural yang memiliki efek jangka panjang.
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Covid-19 di Asia Naik,...
Covid-19 di Asia Naik, Mantan Komandan Satgas RS Wisma Atlet Imbau Masyarakat Waspada
Alumni Relawan RSDC...
Alumni Relawan RSDC Wisma Atlet Hadiri Reuni dan Halalbihalal di Markas Marinir
Mitigasi Inklusif Kolaboratif...
Mitigasi Inklusif Kolaboratif Organisasi Jadi Model Ideal Hadapi Bencana Non Alam Pandemi
3 Orang Jadi Tersangka,...
3 Orang Jadi Tersangka, Kasus Pengadaan APD Covid-19 Rugikan Negara Rp319 Miliar
SBY Lapor ke Jokowi...
SBY Lapor ke Jokowi Jadi Penasihat Khusus Aliansi Sedunia Membasmi Malaria
WHO Sebut Tren Kerja...
WHO Sebut Tren Kerja Jarak Jauh Bisa Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Pekerja
Eks Bos CDC Klaim Peran...
Eks Bos CDC Klaim Peran Penting AS dalam Memulai Pandemi Covid
Dharma Pongrekun Sebut...
Dharma Pongrekun Sebut Pandemi Agenda Terselubung Asing, Ini Alasan Ridwan Kamil Tanya soal Covid-19
BUMN Berperan Penting...
BUMN Berperan Penting selama Pandemi Covid-19 dan Era Pemulihan
Rekomendasi
Richard Lee Resmi Dilimpahkan...
Richard Lee Resmi Dilimpahkan ke Kejati Banten, Tinggal Tunggu Jadwal Sidang Perdana
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
21.948 Jemaah Haji Reguler...
21.948 Jemaah Haji Reguler dan 7.702 Haji Khusus Sudah Tiba di Indonesia
Berita Terkini
Penahanan Sudewo Dipindah...
Penahanan Sudewo Dipindah ke Semarang Jelang Sidang Perdana Kasusnya
Mensos Gus Ipul Tegaskan...
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Ada Zona Aman untuk Korupsi di Kemensos
Alasan Natalius Pigai...
Alasan Natalius Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil
Silmy Karim Cs Ditahan...
Silmy Karim Cs Ditahan KPK, DPR Bakal Minta Penjelasan Kemenimipas
Minta Masukan RUU Pemilu,...
Minta Masukan RUU Pemilu, DPR Bakal Kunjungi Parpol Parlemen dan Nonparlemen
Prabowo Kenang Hari...
Prabowo Kenang Hari Lahir Soekarno Lewat Potret Sang Proklamator
Infografis
5 Jurus Prabowo Percepat...
5 Jurus Prabowo Percepat Penciptaan Lapangan Kerja
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved