Puisi Esai: Gerakan Sastra yang Menghubungkan ASEAN, Mesir, dan Inggris
Senin, 16 Desember 2024 - 13:09 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Diapresiasi, Puisi Esai Masuk Kamus Besar Bahasa Indonsia
Hal itu diungkapkan Datuk Jasni Matlani yang menjadi pembicara di Festival Puisi Esai Jakarta II. Sesi diskusi yang bertema “Puisi Esai Goes International” itu menghadirkan narasumber Datuk Jasni Matlani, Fatin Hamama R Syam, dan Monica JR, dengan moderator Sastri Bakry.
“Jika puisi esai yang high culture diadaptasi ke film, teater, dan sebagainya maka ia menjadi bagian dari pop culture, yang memanusiakan manusia," ujarnya dikutip, Senin (16/13/2024).
Datuk Jasni bercerita dia sudah lama memikirkan bagaimana caranya agar produk sastra bisa kembali marak di masyarakat.
Puisi esai, menurut Datuk Jasni, lebih mudah diterima masyarakat karena isinya adalah persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari dan memiliki unsur kemanusiaan yang kental.
Namun, Datuk menekankan bukan berarti puisi esai diterima dengan mulus di Sabah. Banyak pula orang yang menolak kehadiran puisi esai di Sabah. Tetapi penolakan warga terhadap puisi esai tidak sekeras di Indonesia.
"Di Sabah orang menolak puisi esai lebih karena mereka tidak bisa menerima bagaimana sebuah esai bisa dipadukan dengan puisi. Bagi mereka itu mustahil dilakukan. Kalau puisi, ya, puisi. Esai, ya, esai. Penolakan hanya sebatas itu saja," tuturnya.
Ia berbesar hati bahwa pada 2024 ini puisi esai telah menjadi wahana sastra Melayu Nusantara di tingkat ASEAN dan global,
Hal itu diungkapkan Datuk Jasni Matlani yang menjadi pembicara di Festival Puisi Esai Jakarta II. Sesi diskusi yang bertema “Puisi Esai Goes International” itu menghadirkan narasumber Datuk Jasni Matlani, Fatin Hamama R Syam, dan Monica JR, dengan moderator Sastri Bakry.
“Jika puisi esai yang high culture diadaptasi ke film, teater, dan sebagainya maka ia menjadi bagian dari pop culture, yang memanusiakan manusia," ujarnya dikutip, Senin (16/13/2024).
Datuk Jasni bercerita dia sudah lama memikirkan bagaimana caranya agar produk sastra bisa kembali marak di masyarakat.
Puisi esai, menurut Datuk Jasni, lebih mudah diterima masyarakat karena isinya adalah persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari dan memiliki unsur kemanusiaan yang kental.
Namun, Datuk menekankan bukan berarti puisi esai diterima dengan mulus di Sabah. Banyak pula orang yang menolak kehadiran puisi esai di Sabah. Tetapi penolakan warga terhadap puisi esai tidak sekeras di Indonesia.
"Di Sabah orang menolak puisi esai lebih karena mereka tidak bisa menerima bagaimana sebuah esai bisa dipadukan dengan puisi. Bagi mereka itu mustahil dilakukan. Kalau puisi, ya, puisi. Esai, ya, esai. Penolakan hanya sebatas itu saja," tuturnya.
Ia berbesar hati bahwa pada 2024 ini puisi esai telah menjadi wahana sastra Melayu Nusantara di tingkat ASEAN dan global,
Lihat Juga :