Surabaya Kota Terbesar Kedua, PDIP Tak Mau Usung Calon Sembarangan
Minggu, 30 Agustus 2020 - 16:59 WIB
loading...
A
A
A
Hasto bersama dengan Djarot Syaiful Hidayat, Tri Rismaharini, Arif Wibowo ditugaskan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri untuk melakukan konsolidasi. “Jawa Timur ditargetkan kemenangan setidaknya 13 kabupaten/kota. Ini positif dan dengan gotong royong kita capai target tersebut dengan penuh keyakinan," paparnya.
Dalam konsolidasi tersebut, Hasto juga sempat mengritik media tertentu yang sepertinya menggambarkan ada 'tarik tambang' kepentingan yang berbeda antara dirinya dengan Tri Rismaharini. “Tidak ada tarik tambang politik di internal partai. Yang ada adalah menarik rakyat agar bebas dari belenggu kemiskinan, ketidakadilan, dan kebodohan," katanya.
Dikatakan Hasto, semua kader PDIP taat kepada keputusan Megawati yang telah mendapat kewenangan dari Kongres Partai untuk mengambil keputusan. "Itulah kultur demokrasi yang kita bangun. Itulah disiplin kita. Taat sepenuhnya keputusan Ketua Umum Partai," ucapnya. (Baca juga: Friksi Internal PDIP Pemicu Alotnya Penentuan Calon Wali Kota Surabaya)
Sementara itu, Tri Rismaharini menegaskan bahwa untuk menang di Kota Surabaya diperlukan modal sosial. "Modal sosial jauh lebih penting daripada kapital," katanya.
Dalam konsolidasi tersebut, Hasto juga sempat mengritik media tertentu yang sepertinya menggambarkan ada 'tarik tambang' kepentingan yang berbeda antara dirinya dengan Tri Rismaharini. “Tidak ada tarik tambang politik di internal partai. Yang ada adalah menarik rakyat agar bebas dari belenggu kemiskinan, ketidakadilan, dan kebodohan," katanya.
Dikatakan Hasto, semua kader PDIP taat kepada keputusan Megawati yang telah mendapat kewenangan dari Kongres Partai untuk mengambil keputusan. "Itulah kultur demokrasi yang kita bangun. Itulah disiplin kita. Taat sepenuhnya keputusan Ketua Umum Partai," ucapnya. (Baca juga: Friksi Internal PDIP Pemicu Alotnya Penentuan Calon Wali Kota Surabaya)
Sementara itu, Tri Rismaharini menegaskan bahwa untuk menang di Kota Surabaya diperlukan modal sosial. "Modal sosial jauh lebih penting daripada kapital," katanya.
(kri)
Lihat Juga :