Indonesia Re Institute Ajak Stakeholders Mitigasi Potensi Gempa Megathrust
Jum'at, 11 Oktober 2024 - 22:07 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Tercatat 7 Kali Gempa Megathrust, Kepala BMKG: Miliki Rentang Waktu 200 Tahun
"Kolaborasi yang kuat antara akademisi dan praktisi sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan dalam menghadapi potensi risiko bencana megathrust," kata Beatrix Santi, Jumat (11/10/2024)
BMKG mencatat di Indonesia terdapat banyak potensi gempa akibat pergerakan lempeng di zona megathrust, terutama yang bisa menimbulkan dampak bencana dari skala ringan hingga berat. Karena itu, diperlukan kewaspadaan, kesiapan dan mitigasi risiko dari berbagai sektor.
Penanggung Jawab Tim Diseminasi Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Septa Anggraini mengatakan, pihaknya telah membangun sistem end-to-end yang memonitor dan mendeteksi gempa.
"Sistem ini mengolah data seismograf menjadi informasi yang kemudian disampaikan kepada pemerintah, sehingga tindakan atau kebijakan yang tepat dapat segera diambil untuk melindungi masyarakat," katanya.
Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Udrekh menjelaskan, siklus kegempaan yang terjadi saat ini dapat digunakan untuk memperkirakan potensi terjadinya gempa di masa depan. Informasi ini sangat penting bagi asuransi dalam menghitung risiko terjadinya bencana berdasarkan waktu terakhir sebuah segmen gempa aktif.
"Kolaborasi yang kuat antara akademisi dan praktisi sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan dalam menghadapi potensi risiko bencana megathrust," kata Beatrix Santi, Jumat (11/10/2024)
BMKG mencatat di Indonesia terdapat banyak potensi gempa akibat pergerakan lempeng di zona megathrust, terutama yang bisa menimbulkan dampak bencana dari skala ringan hingga berat. Karena itu, diperlukan kewaspadaan, kesiapan dan mitigasi risiko dari berbagai sektor.
Penanggung Jawab Tim Diseminasi Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Septa Anggraini mengatakan, pihaknya telah membangun sistem end-to-end yang memonitor dan mendeteksi gempa.
"Sistem ini mengolah data seismograf menjadi informasi yang kemudian disampaikan kepada pemerintah, sehingga tindakan atau kebijakan yang tepat dapat segera diambil untuk melindungi masyarakat," katanya.
Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Udrekh menjelaskan, siklus kegempaan yang terjadi saat ini dapat digunakan untuk memperkirakan potensi terjadinya gempa di masa depan. Informasi ini sangat penting bagi asuransi dalam menghitung risiko terjadinya bencana berdasarkan waktu terakhir sebuah segmen gempa aktif.
Lihat Juga :