alexametrics

Airlangga Punya Kans Besar, Aklamasi Dinilai Tak Bikin Pecah Golkar

loading...
Airlangga Punya Kans Besar, Aklamasi Dinilai Tak Bikin Pecah Golkar
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Ketua MPR Bambang Soesatyo. Kedua tokoh ini berpeluang bersaing dalam perebutan kursi ketua umum Golkar mendatang. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Director Survey and Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara meyakini Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto terpilih kembali memimpin partai berlambang pohon beringin pada Musyawarah Nasional (Munas) 3-6 Desember nanti.

Dia menilai musyawarah mufakat bisa menjadi jalan untuk Munas Partai Golkar nanti. "Buat apa menguras energi melakukan voting, jika musyawarah mufakat bisa dilakukan. Toh Airlangga Hartarto positif akan kembali terpilih sebagai Ketum Golkar di Munas 4-6 Desember 2019, baik itu secara aklamasi, maupun lewat voting," tutur Igor kepada SINDOnews, Jumat (15/11/2019).

Igor menilai kurang tepat pendapat yang menilai mekanisme aklamasi pemilihan ketua umum Partai Golkar tidak demokratis dan berpotensi memecah Golkar seperti dulu di 2014, yang memilih Aburizal Bakrie (ARB) secara aklamasi. Pasca Munas Golkar 2014, Golkar terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu ARB (Munas Bali) dan kubu Agung Laksono (Munas Ancol). (Baca juga: Bamsoet: Pemilihan Aklamasi Bikin Golkar Pecah)



Dosen FISIP Universitas Jayabaya ini berpendapat voting merupakan mekanisme demokrasi, begitu juga opsi aklamasi. Dari rekam jejak Munas Golkar, voting justru lebih sering membuat kader Golkar yang kalah potensi terpecah lalu membuat partai baru.

"Sebut Misalnya kekalahan Surya Paloh dari ARB saat Munas Golkar 2009 di Riau yang melahirkan Partai Nasdem. Begitu juga dengan berdirinya PKPI dan Partai Berkarya. Sebelumnya juga sudah lahir Gerindra dan Hanura. Opsi voting dalam gelaran Munas Golkar jauh lebih besar intrik dan manuver yang akan di maksimalkan kandidat dan tim suksesnya, ketimbang musyawarah untuk mufakat," ungkapnya.

Dia melanjutkan, perpecahan Golkar pasca Munas 2014 terjadi karena pilihan dukungan capres-cawapres pada Pemilu 2014. Sementara dalam Pemilu 2019 lalu jajaran Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto solid mendukung dua periode pemerintahan Jokowi.

"Ini perbedaan mendasarnya. Seperti diketahui, Golkar tak bisa jauh dari kekuasaan pemerintah terpilih. Opsi aklamasi untuk mendukung kembali Airlangga menjadi Ketua Umum Golkar diprediksi tidak berpotensi memecah belah Golkar seperti dulu. Tetapi tentu aklamasi atau tidaknya pemilihan Ketum tergantung pada dinamika Munas Golkar 4-6 Desember mendatang," ujarnya.

Dia mengatakan, tren parpol utama pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin juga memilih kembali ketua umumnya secara bulat, seperti Muhaimin Iskandar (PKB), Megawati Soekarno Putri (PDIP), dan Surya Paloh (Nasdem). Bahkan, kata dia, Gerindra yang belakangan berbalik arah bergabung ke dalam pemerintahan Jokowi pun, kembali memilih Prabowo Subianto sebagai Ketumnya.

"Apabila misalnya terjadi dead lock saat Munas dan voting adalah jalan terakhir yang memungkinkan dalam agenda memilih ketum Golkar periode 2019-2024, maka petahana Airlangga Hartarto pun berpotensi besar menang lagi," katanya.

Dalam voting, kata dia, penentu kemenangan berada di pemilik suara sah, yaitu 34 Dewan Pimpinan Daerah tingkat I (provinsi), 514 DPD tingkat II (kabupaten/kota), 1 suara DPP, 1 suara Dewan Pembina, dan 10 ormas sayap partai. Sampai saat ini, kata dia, DPD tingkat provinsi konsisten mendukung Airlangga Hartarto.

"Suara DPD tingkat provinsi merepresentasikan suara DPD kabupaten/kota. Artinya, sekalipun suara DPD II bisa digoyang misalnya terjadi voting, namun hasilnya diprediksi tidak akan signifikan, kecuali jika pihak Istana yang melakukannya, seperti saat Setya Novanto terpilih sebagai ketum Golkar di Munas Bali 2016," ungkapnya.

Dia membeberkan hasil Survei SPIN (Survey & Polling Indonesia) yang tidak dipublikasikan ke publik menyatakan jika terjadi voting maka 85% Airlangga Hartarto berpotensi terpilih kembali menjadi Ketum Golkar dari aspek PDLT (prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela).

"Karena khittah Golkar selalu berada di lingkaran kekuasaan maka restu dari penguasa terhadap caketum Golkar dianggap signifikan. Idealnya Istana netral. Tetapi fakta Presiden Jokowi memuji kepemimpinan Airlangga dalam acara HUT Golkar ke-55 pada 6 November lalu sinyalemen positif dari Istana bagi Menko Perekonomian untuk melanjutkan lagi kepemimpinannya di Golkar. Pujian Jokowi tersebut punya makna denotatif, bukan konotatif," tuturnya.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak