Airlangga Punya Kans Besar, Aklamasi Dinilai Tak Bikin Pecah Golkar

Jum'at, 15 November 2019 - 16:26 WIB
Airlangga Punya Kans...
Airlangga Punya Kans Besar, Aklamasi Dinilai Tak Bikin Pecah Golkar
A A A
JAKARTA - Director Survey and Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara meyakini Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto terpilih kembali memimpin partai berlambang pohon beringin pada Musyawarah Nasional (Munas) 3-6 Desember nanti.

Dia menilai musyawarah mufakat bisa menjadi jalan untuk Munas Partai Golkar nanti. "Buat apa menguras energi melakukan voting, jika musyawarah mufakat bisa dilakukan. Toh Airlangga Hartarto positif akan kembali terpilih sebagai Ketum Golkar di Munas 4-6 Desember 2019, baik itu secara aklamasi, maupun lewat voting," tutur Igor kepada SINDOnews, Jumat (15/11/2019).

Igor menilai kurang tepat pendapat yang menilai mekanisme aklamasi pemilihan ketua umum Partai Golkar tidak demokratis dan berpotensi memecah Golkar seperti dulu di 2014, yang memilih Aburizal Bakrie (ARB) secara aklamasi. Pasca Munas Golkar 2014, Golkar terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu ARB (Munas Bali) dan kubu Agung Laksono (Munas Ancol). (Baca juga: Bamsoet: Pemilihan Aklamasi Bikin Golkar Pecah )

Dosen FISIP Universitas Jayabaya ini berpendapat voting merupakan mekanisme demokrasi, begitu juga opsi aklamasi. Dari rekam jejak Munas Golkar, voting justru lebih sering membuat kader Golkar yang kalah potensi terpecah lalu membuat partai baru.

"Sebut Misalnya kekalahan Surya Paloh dari ARB saat Munas Golkar 2009 di Riau yang melahirkan Partai Nasdem. Begitu juga dengan berdirinya PKPI dan Partai Berkarya. Sebelumnya juga sudah lahir Gerindra dan Hanura. Opsi voting dalam gelaran Munas Golkar jauh lebih besar intrik dan manuver yang akan di maksimalkan kandidat dan tim suksesnya, ketimbang musyawarah untuk mufakat," ungkapnya.

Dia melanjutkan, perpecahan Golkar pasca Munas 2014 terjadi karena pilihan dukungan capres-cawapres pada Pemilu 2014. Sementara dalam Pemilu 2019 lalu jajaran Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto solid mendukung dua periode pemerintahan Jokowi.

"Ini perbedaan mendasarnya. Seperti diketahui, Golkar tak bisa jauh dari kekuasaan pemerintah terpilih. Opsi aklamasi untuk mendukung kembali Airlangga menjadi Ketua Umum Golkar diprediksi tidak berpotensi memecah belah Golkar seperti dulu. Tetapi tentu aklamasi atau tidaknya pemilihan Ketum tergantung pada dinamika Munas Golkar 4-6 Desember mendatang," ujarnya.

Dia mengatakan, tren parpol utama pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin juga memilih kembali ketua umumnya secara bulat, seperti Muhaimin Iskandar (PKB), Megawati Soekarno Putri (PDIP), dan Surya Paloh (Nasdem). Bahkan, kata dia, Gerindra yang belakangan berbalik arah bergabung ke dalam pemerintahan Jokowi pun, kembali memilih Prabowo Subianto sebagai Ketumnya.

"Apabila misalnya terjadi dead lock saat Munas dan voting adalah jalan terakhir yang memungkinkan dalam agenda memilih ketum Golkar periode 2019-2024, maka petahana Airlangga Hartarto pun berpotensi besar menang lagi," katanya.

Dalam voting, kata dia, penentu kemenangan berada di pemilik suara sah, yaitu 34 Dewan Pimpinan Daerah tingkat I (provinsi), 514 DPD tingkat II (kabupaten/kota), 1 suara DPP, 1 suara Dewan Pembina, dan 10 ormas sayap partai. Sampai saat ini, kata dia, DPD tingkat provinsi konsisten mendukung Airlangga Hartarto.

"Suara DPD tingkat provinsi merepresentasikan suara DPD kabupaten/kota. Artinya, sekalipun suara DPD II bisa digoyang misalnya terjadi voting, namun hasilnya diprediksi tidak akan signifikan, kecuali jika pihak Istana yang melakukannya, seperti saat Setya Novanto terpilih sebagai ketum Golkar di Munas Bali 2016," ungkapnya.

Dia membeberkan hasil Survei SPIN (Survey & Polling Indonesia) yang tidak dipublikasikan ke publik menyatakan jika terjadi voting maka 85% Airlangga Hartarto berpotensi terpilih kembali menjadi Ketum Golkar dari aspek PDLT (prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela).

"Karena khittah Golkar selalu berada di lingkaran kekuasaan maka restu dari penguasa terhadap caketum Golkar dianggap signifikan. Idealnya Istana netral. Tetapi fakta Presiden Jokowi memuji kepemimpinan Airlangga dalam acara HUT Golkar ke-55 pada 6 November lalu sinyalemen positif dari Istana bagi Menko Perekonomian untuk melanjutkan lagi kepemimpinannya di Golkar. Pujian Jokowi tersebut punya makna denotatif, bukan konotatif," tuturnya.
(dam)
Berita Terkait
HUT ke-57 Partai Golkar...
HUT ke-57 Partai Golkar Bertema Bersatu untuk Menang
Bahlil Lahadalia Tegaskan...
Bahlil Lahadalia Tegaskan Soliditas Kader di HUT ke-61 Partai Golkar
Persiapan Jelang Perayaan...
Persiapan Jelang Perayaan HUT Ke-61 Partai Golkar
Soal Peluang Golkar...
Soal Peluang Golkar Ubah AD/ART untuk Jokowi Maju Ketum, Aburizal Bakrie: Bisa Saja jika Daerah Mau
Pembukaan Rapimnas Partai...
Pembukaan Rapimnas Partai Golkar
Tasyakuran HUT Ke-57...
Tasyakuran HUT Ke-57 Partai Golkar
Berita Terkini
Luhut: Bansos ke Depan...
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
Konstruksi Perkara Suap...
Konstruksi Perkara Suap Bupati Muara Enim, KPK: Ada Uang Rp500 Juta untuk Jaga Hubungan Baik
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
Polemik Voters Munas...
Polemik Voters Munas HIPMI Mengemuka: BPD DOB Pertanyakan Dasar Pengurangan Hak Suara
Geledah Kantor Wika,...
Geledah Kantor Wika, Kortas Tipikor Polri Sita Dokumen hingga Barbuk Elektronik
Ajukan JC di Kasus Korupsi...
Ajukan JC di Kasus Korupsi MBG, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Sebut 26 Nama di BAP
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved