Hoegeng, Jenderal Antisuap Hidup Pas-pasan dari Gaji Polisi

Minggu, 30 Juni 2024 - 05:15 WIB
loading...
A A A
Belakangan Hoegeng memperoleh kabar bahwa wanita itu tak segan-segan tidur dengan pejabat demi melancarkan aksi penyelundupannya. Hoegeng hanya bisa mengelus dada prihatin menyaksikan koleganya yang terbius uang dan rayuan wanita.

3. Jujur dan Sederhana

Hoegeng hanya mengandalkan gaji dari kepolisian untuk menghidupi keluarganya. Karena itu, istri Hoegeng, Merry Roeslani membuka toko bunga. Toko bunga itu pun laris dan terus berkembang. Namun sehari sebelum Hoegeng akan dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut Dirjen Imigrasi) tahun 1960, Hoegeng meminta Merry menutup toko bunga tersebut. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan istrinya. Apa hubungannya dilantik menjadi kepala jawatan Imigrasi dengan menutup toko bunga.

"Nanti semua orang yang berurusan dengan Imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya," kata Hoegeng.

Istri Hoegeng yang selalu mendukung suaminya untuk menerapkan kejujuran, ia memahami maksud permintaan Hoegeng. Dia rela menutup toko bunga yang sudah maju dan besar itu. "Bapak tak ingin orang-orang beli bunga di toko itu karena jabatan bapak,” kata Merry.

Aditya Soetanto dalam buku Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa(2009) menggambarkan bagaimana kejujuran dan kesederhanaan ayahnya. Polisi kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 itu menolak segala bentuk hadiah atau pemberian yang bukan haknya. Suatu hari ada ada seorang pengusaha mengirimkan dua unit sepeda motor Lambretta ke rumah Hoegeng. Motor itu merupakan jatah bagi pejabat negara. Namun setelah diketahui asal usulnya, Hoegeng meminta ajudannya untuk mengembalikan sepeda motor itu karena merasa tidak berhak menerima.

4. Antinepotisme

Hoegeng juga sosok antinepotisme seperti dikisahkan dalam buku berjudul Dunia Hoegeng, 100 Tahun Keteladanankarya Farouk Arnaz. Waktu itu, anak kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng berniat masuk ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Ia lalu menemui ayahnya yang menjabat sebagai Kapolri untuk meminta surat izin. Namun Hoegeng mengatakan 'nanti saja'.

Beberapa hari kemudian Adit diminta datang ke Mabes Polri. Hoegeng menanyakan kemantapan hati Adit yang ingin masuk militer. Namun ayahnya itu juga menyampaikan bahwa tidak ingin ada Hoegeng lain di Kepolisian. Adit sangat marah karena ayahnya tidak memberikan rekomendasi dan ternyata pendaftaran masuk Akabri telah tutup dua hari sebelumnya. Di tengah kemarahan anaknya itu, Hoegeng menjelaskan bahwa hati kecilnya berharap tidak ada lagi yang mengikuti jejaknya di angkatan. Tak hanya itu, Hoegeng juga menjelaskan alasannya tidak mengizinkan Adit bergabung di Akabri. Hoegeng tidak ingin jabatannya sebagai Kapolri akan memudahkan atau setidaknya memengaruhi anaknya masuk Akabri.

Selepas penjelasan panjang lebar terkait alasannya tidak memberi izin bergabung di Akabri, dengan kerendahan hati, Jenderal Hoegeng berdiri dari kursinya dan menghampiri anaknya untuk meminta maaf.

Itulah empat teladan dari Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Kapolri periode 1968-1971 yang melegenda hingga saat ini.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kapolri dan Istri Tinjau...
Kapolri dan Istri Tinjau Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara, Dukung Penguatan UMKM
Hari Bhayangkara ke-80,...
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Hadiahi Istri Arist Merdeka Sirait Ziarah Holyland
Pakar: Pertemuan Kapolri-Direktur...
Pakar: Pertemuan Kapolri-Direktur FBI Langkah Strategis Hadapi Kejahatan Transnasional
90 AKBP Dapat Promosi...
90 AKBP Dapat Promosi Jabatan Jadi Kombes Pol pada Mutasi Juni 2026, Ini Namanya
Kapolri Bertemu Direktur...
Kapolri Bertemu Direktur FBI, Bahas Penguatan Kerja Sama Kejahatan Transnasional
Rekam Jejak Komjen Karyoto,...
Rekam Jejak Komjen Karyoto, dari Pemberantasan Korupsi hingga Jaga Stabilitas Keamanan Nasional
4 Kombes Pol Pecah Bintang...
4 Kombes Pol Pecah Bintang dan Promosi Jabatan ke Polda dalam Mutasi Polri Juni 2026, Ini Daftar Namanya
Hari Bhayangkara ke-80,...
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Bedah Rumah Buruh Cuci Gosok di Bogor
Kapolri Bedah Rumah...
Kapolri Bedah Rumah Guru Ngaji di Palembang, Begini Penampakannya
Rekomendasi
PLN EPI Perluas Kemitraan...
PLN EPI Perluas Kemitraan Global Bangun Rantai Pasok Hidrogen Hijau
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Majalengka dan Subang
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
Berita Terkini
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Polemik Londo Ireng,...
Polemik Londo Ireng, IJTI Minta Presiden Hindari Diksi yang Bisa Beri Label Negatif bagi Profesi Jurnalis
Febrie Adriansyah Tak...
Febrie Adriansyah Tak Pakai Rompi Tahanan, Eks Penyidik KPK: Persepsi Publik Ada Keistimewaan Tidak Bisa Dicegah
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved