Miris, Sebanyak 2,1 Juta Pemain Judi Online Berprofesi Ibu Rumah Tangga dan Pelajar
Minggu, 12 Mei 2024 - 14:21 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Mengenali Ancaman Judi Online dan Bedanya dengan Game Online
Isu maraknya judi online yang meresap dalam kehidupan anak-anak menimbulkan keresahan. Karena itu, orang tua harus aware terhadap isu-isu di ruang digital, sehingga orang tua dapat menyampaikan komunikasi risiko penggunaan gawai pada anak dengan tepat, dan anak dapat memahami apa yang sedang mereka hadapi dengan respons yang baik, seperti apa keuntungan dan kerugiannya.
Dewan Pengarah Siberkreasi, Pegiat Literasi Digital & Founder Sejiwa Diena Haryana mengatakan, orang tua harus jeli melihat tingkah laku anak. Jika anak memiliki adiksi pada gawai dapat dilihat biasanya memiliki tingkah laku yang tidak biasa, seperti enggan belajar, tidak tertarik melakukan aktivitas di luar rumah, hingga merugikan secara finansial.
Karena itu, Diena menegaskan anak-anak perlu diajari membangun personal branding sejak dini, agar anak mengenal visi misi dalam hidupnya. “Sehingga, anak-anak dapat memiliki personal branding yang baik, agar tidak menjadi sasaran komentar negatif di ruang digital,” ujar Diena, Minggu (12/5/2024).
Diena juga menegaskan anak-anak yang terlibat dalam judi online justru akan menambah beban psikologis di masyarakat, karena pelaku judi menjadi bertambah.
Psikolog Nurul Qomariah menyarankan, orang tua harus selalu hadir dalam tumbuh kembang anak dengan melakukan observasi keterlibatan, karena anak menunjukkan apa yang dia butuhkan melalui perilakunya. Menurut Nurul, anak usia 10 tahun sedang memiliki adrenalin untuk belajar yang tinggi, maka tak heran jika tak terkontrol mereka bisa coba-coba melakukan kegiatan yang menimbulkan kecanduan dan terjebak pada hal-hal negatif.
Isu maraknya judi online yang meresap dalam kehidupan anak-anak menimbulkan keresahan. Karena itu, orang tua harus aware terhadap isu-isu di ruang digital, sehingga orang tua dapat menyampaikan komunikasi risiko penggunaan gawai pada anak dengan tepat, dan anak dapat memahami apa yang sedang mereka hadapi dengan respons yang baik, seperti apa keuntungan dan kerugiannya.
Dewan Pengarah Siberkreasi, Pegiat Literasi Digital & Founder Sejiwa Diena Haryana mengatakan, orang tua harus jeli melihat tingkah laku anak. Jika anak memiliki adiksi pada gawai dapat dilihat biasanya memiliki tingkah laku yang tidak biasa, seperti enggan belajar, tidak tertarik melakukan aktivitas di luar rumah, hingga merugikan secara finansial.
Karena itu, Diena menegaskan anak-anak perlu diajari membangun personal branding sejak dini, agar anak mengenal visi misi dalam hidupnya. “Sehingga, anak-anak dapat memiliki personal branding yang baik, agar tidak menjadi sasaran komentar negatif di ruang digital,” ujar Diena, Minggu (12/5/2024).
Diena juga menegaskan anak-anak yang terlibat dalam judi online justru akan menambah beban psikologis di masyarakat, karena pelaku judi menjadi bertambah.
Psikolog Nurul Qomariah menyarankan, orang tua harus selalu hadir dalam tumbuh kembang anak dengan melakukan observasi keterlibatan, karena anak menunjukkan apa yang dia butuhkan melalui perilakunya. Menurut Nurul, anak usia 10 tahun sedang memiliki adrenalin untuk belajar yang tinggi, maka tak heran jika tak terkontrol mereka bisa coba-coba melakukan kegiatan yang menimbulkan kecanduan dan terjebak pada hal-hal negatif.
Lihat Juga :