Peduli Palestina, Gaspol Ajak Masyarakat Indonesia Boikot Brand Pro Israel
Minggu, 14 Januari 2024 - 09:02 WIB
loading...
A
A
A
Firtra menegaskan, dukungan perusahaan-perusahaan dan brand-brand yang kebanyakan berasal dari AS dan Eropa terhadap Israel adalah nyata dan memiliki bukti-bukti yang jelas, terdokumentasi, dan terpublikasi. Dia menepis tuduhan yang dikemukakan sebagian pihak yang menilai aksi boikot sebagai gerakan liar yang didasarkan pada hoaks dan misinformasi.
"Ini sesungguhnya menunjukkan arogansi, ignoransi, dan insensitivitas para produsen asing dan perusahaan-perusahaan besar terhadap penderitaan rakyat Palestina dan secara tidak langsung menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap efektivitas gerakan boikot itu sendiri," ujarnya.
Menurut Firtra, aksi boikot sudah berdampak signifikan pada permintaan dan penjualan para produsen asing, yang membuktikan tingginya sensitivitas isu Palestina bagi publik Indonesia. Informasi yang diterima Gaspol, penurunan penjualan yang dialami para brand asing di Indonesia bervariasi antara 15 persen sampai dengan 60 persen, tergantung pada tipe atau jenis industri. Penurunan terbesar dialami retail consumber brand, yang menawarkan produk makanan dan minuman retail.
Konsekuensi baiknya, menurut Firtra, aksi boikot menguntungkan produk lokal karena masyarakat mulai mengalihkan konsumsinya ke produk Indonesia. Informasi yang diterima Gaspol, brand lokal Indonesia mengalami peningkatan penjualan antara 5 persen sampai dengan 20 persen, tergantung pada tipe dan jenis industri. Kenaikan terbesar dialami produk lokal yang secara alamiah menjadi substitusi dari produk brand asing, seperti produk-produk makanan dan minuman retail lokal.
Karena itu, Firtra meminta masyarakat Indonesia untuk terus melanjutkan aksi boikot terhadap brand asing dan konsisten mengalihkan konsumsi terhadap produk lokal. "Untuk bisa menjamin keberlangsungan dukungan dalam jangka panjang bagi para jawara lokal, gerakan boikot ini harus terus dipertahankan dan diperluas," katanya.
"Ini sesungguhnya menunjukkan arogansi, ignoransi, dan insensitivitas para produsen asing dan perusahaan-perusahaan besar terhadap penderitaan rakyat Palestina dan secara tidak langsung menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap efektivitas gerakan boikot itu sendiri," ujarnya.
Menurut Firtra, aksi boikot sudah berdampak signifikan pada permintaan dan penjualan para produsen asing, yang membuktikan tingginya sensitivitas isu Palestina bagi publik Indonesia. Informasi yang diterima Gaspol, penurunan penjualan yang dialami para brand asing di Indonesia bervariasi antara 15 persen sampai dengan 60 persen, tergantung pada tipe atau jenis industri. Penurunan terbesar dialami retail consumber brand, yang menawarkan produk makanan dan minuman retail.
Konsekuensi baiknya, menurut Firtra, aksi boikot menguntungkan produk lokal karena masyarakat mulai mengalihkan konsumsinya ke produk Indonesia. Informasi yang diterima Gaspol, brand lokal Indonesia mengalami peningkatan penjualan antara 5 persen sampai dengan 20 persen, tergantung pada tipe dan jenis industri. Kenaikan terbesar dialami produk lokal yang secara alamiah menjadi substitusi dari produk brand asing, seperti produk-produk makanan dan minuman retail lokal.
Karena itu, Firtra meminta masyarakat Indonesia untuk terus melanjutkan aksi boikot terhadap brand asing dan konsisten mengalihkan konsumsi terhadap produk lokal. "Untuk bisa menjamin keberlangsungan dukungan dalam jangka panjang bagi para jawara lokal, gerakan boikot ini harus terus dipertahankan dan diperluas," katanya.
Lihat Juga :