Sekolah di Zona Kuning Harus Menenangkan

Selasa, 11 Agustus 2020 - 06:27 WIB
loading...
Sekolah di Zona Kuning...
Kolaborasi di tengah pandemi saat ini menjadi kunci. Pun demikian, aparat pemerintah di level bawah juga dituntut proaktif berkomunikasi dengan pengelola sekolah atau wali murid. Ilustrasi/SINDOnews
A A A
KEBIJAKAN terbaru pemerintah membolehkan pembelajaran tatap muka di zona-zona kuning Covid-19 sedikit melegakan. Terobosan ini setidaknya menjadi jalan tengah di tengah runyamnya praktik sekolah online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama ini.

Lewat pelonggaran ini, sekolah-sekolah yang meyakini siap menggelar pembelajaran tatap muka akan makin mantap karena akhirnya mendapat payung hukum. Di sisi lain, ancaman banyak siswa putus sekolah dan lost generation sebagaimana yang dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim akan bisa dicegah.

Toh demikian, kritik atas kebijakan pemerintah ini pun hingga kemarin belum berhenti. Gegabah, berisiko, menjerumuskan anak, guru adalah di antara sederet ungkapan-ungkapan sebagai bentuk penolakan atas keputusan bersama empat menteri tersebut.

Penolakan itu wajar dan sah-sah saja dalam perspektif demokrasi. Namun, terlepas dari itu, kebijakan tentang pendidikan ini tentu telah dipikirkan matang. Apalagi, keputusan juga telah mempertimbangkan masukan dari empat kementerian, yakni Kemendikbud, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri. Para pembuat kebijakan (policy maker) sudah pasti mengukur dampak baik dan buruk dari dibolehkannya siswa bertatap muka. Tak hanya itu, sejumlah protokol kesehatan khusus atau prosedur teknis pun telah disiapkan agar kebijakan ini tak menjadi bumerang atau memicu masalah baru.

Tentu sebagai bagian terobosan (ijtihad), kebijakan ini pun tak menjamin kesempurnaan. Namun, dalam bingkai kondisi tak normal, cara berpikir yang harus diutamakan adalah bagaimana kebijakan mampu memberikan lebih banyak kemanfaatan ketimbang keburukan (madarat). Semua pihak tentu tidak mengelak bahwa sekolah online yang setidaknya berlaku dalam empat bulan terakhir terasa mahal. Banyak orang tua akhirnya kedodoran untuk membeli uang paket internet, membelikan smartphone, laptop, dan sebagainya. Di tiap rumah mayoritas orang tua juga makin terbebani karena model pendidikan saat online justru tak membuat mereka leluasa beraktivitas. Beban psikologis anak juga kian bertambah karena model online cenderung berbentuk tugas dan sebagainya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Prabowo Bakal Resmikan...
Prabowo Bakal Resmikan 1.151 Km Jalan serta Hadiri Munas-Konbes NU
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Haaland Cetak Brace,...
Haaland Cetak Brace, Norwegia Paksa Senegal Angkat Koper Lebih Cepat
Berita Terkini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikabulkan Penangguhan Penahannya, Kubu Jokowi Buka Suara
Penahanan Roy Suryo...
Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan Kejaksaan, Kapolri: Kewajiban Kami Telah Selesai
37 Organisasi Tolak...
37 Organisasi Tolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana
Kasus Tudingan Ijazah...
Kasus Tudingan Ijazah Segera Disidang, Pengacara Pastikan Jokowi Hadir
Qodari: Haji 2026 Lancar,...
Qodari: Haji 2026 Lancar, Masa Tunggu Dipangkas dan Layanan Ditingkatkan
KPK Perpanjang Penahanan...
KPK Perpanjang Penahanan Eks Wamen Imipas Silmy Karim Cs selama 40 Hari
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved