Jaga Stabilitas Nasional melalui Sinergi Ulama dan Umaro
Jum'at, 24 November 2023 - 20:51 WIB
loading...
Aktivis antiradikalisme, Ken Setiawan menilai sinergitas ulama dan umaro dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nasional. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Stabilitas agenda pembangunan Indonesia dapat terjaga dengan baik melalui sinergitas antara ulama dan umaro (pemerintah). Karena itu, keduanya harus melakukan konsolidasi secara berkesinambungan, baik ketika membuat peraturan perundang-undangan ataupun fatwa ijtihadiyah agar pada pelaksanaannya bisa saling mendukung.
Aktivis antiradikalisme, Ken Setiawan menjelaskan, sinergitas antara ulama dan umaro seharusnya bisa terjalin dengan baik. Misalnya ketika mengeluarkan fatwa terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel. Jika saja Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkoordinasi dengan baik bersama Pemerintah, tentu reaksi yang kemungkinan timbul bisa ditekan dampak negatifnya.
"Supaya tidak menjadi polemik di masyarakat, karena kita berada pada zaman yang luar biasa. Arus informasi begitu cepat menyebar dengan media sosial, bukan hanya informasi positif, yang negatif juga banyak," kata Ken Setiawan, Jumat (24/11/2023).
Menurutnya, semua orang berharap agar ulama dan umaro dapat bijaksana dalam menyampaikan isu-isu sensitif. Dalam menyuarakan fatwa ataupun keputusan resmi, jangan sampai para punggawa negeri ini justru menimbulkan polemik di masyarakat, apalagi mengingat bangsa Indonesia akan masuk pada perayaan Pilpres 2024.
Ini semua perlu dilakukan agar suasana bisa kondusif. Sangat disayangkan apabila hari ini, masih ada bagian dari masyarakat yang melihat pesta demokrasi itu bukan dengan suka ria, tapi justru menganggapnya sebagai medan perang.
Aktivis antiradikalisme, Ken Setiawan menjelaskan, sinergitas antara ulama dan umaro seharusnya bisa terjalin dengan baik. Misalnya ketika mengeluarkan fatwa terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel. Jika saja Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkoordinasi dengan baik bersama Pemerintah, tentu reaksi yang kemungkinan timbul bisa ditekan dampak negatifnya.
"Supaya tidak menjadi polemik di masyarakat, karena kita berada pada zaman yang luar biasa. Arus informasi begitu cepat menyebar dengan media sosial, bukan hanya informasi positif, yang negatif juga banyak," kata Ken Setiawan, Jumat (24/11/2023).
Menurutnya, semua orang berharap agar ulama dan umaro dapat bijaksana dalam menyampaikan isu-isu sensitif. Dalam menyuarakan fatwa ataupun keputusan resmi, jangan sampai para punggawa negeri ini justru menimbulkan polemik di masyarakat, apalagi mengingat bangsa Indonesia akan masuk pada perayaan Pilpres 2024.
Ini semua perlu dilakukan agar suasana bisa kondusif. Sangat disayangkan apabila hari ini, masih ada bagian dari masyarakat yang melihat pesta demokrasi itu bukan dengan suka ria, tapi justru menganggapnya sebagai medan perang.
Lihat Juga :