Menanamkan Wawasan Komprehensif Bentuk Karakter Toleran Anak
Jum'at, 06 Oktober 2023 - 21:40 WIB
loading...
A
A
A
"Pada akhirnya, semua orang akan mengembangkan value/nilainya masing-masing, walaupun kebanyakan anak akan mengadopsi sebagian besar nilai yang sama dengan milik orang tua mereka. Terkadang pula, ketika anak-anak menerima aliran atau perspektif yang berseberangan dengan apa yang ditanamkan oleh orang tua, bisa jadi nanti dalam prosesnya mereka justru kembali lagi pada original value (nilai asli) keluarganya," katanya.
Ia menggarisbawahi kebanyakan guru atau tenaga pendidik di Indonesia seringkali terburu-buru melihat anak didiknya punya perilaku yang agamis. Keinginan ini menyebabkan lingkungan pendidikan anak di Indonesia akhirnya lebih banyak dikemas oleh aspek ritual semata, seperti cara berpakaian, sikap yang terlihat santun, tetapi pemahaman agamanya sangat dangkal.
"Bahkan masih ada saja guru yang memaksakan persepsinya terhadap agama yang ia yakini. Beberapa sekolah juga masih ada yang hanya menitikberatkan pada perspektif agama. Sebagai contoh, kadang-kadang anak di usia remaja itu ada kalanya bicara tentang pacaran, tapi seringkali ditanggapi dengan cepat bahwa pacaran itu dosa, tanpa diberikan pemahaman dari sudut pandang yang lebih mudah untuk dicerna para remaja. Persoalan pahala dan dosa adalah hal yang abstrak sehingga perlu diimbangi dengan pendekatan akademis dan logis agar mudah untuk mengajak dan membentuk karakter anak-anak kita menjadi lebih baik lagi," kata Putri.
Ketika penjelasan yang orang tua atau guru berikan sulit diterima oleh anak, maka mereka menjadi malas untuk mengikuti ajakan baik yang datang. Ajakan orang tua atau guru kepada anak untuk beribadah dengan lebih giat tentu tidak salah, namun perlu diingat bahwa anak harus merasa dilibatkan dan tidak hanya seperti diperintah saja.
"Contohnya, ada anggapan bahwa jika anak rajin salat, maka ia akan berperilaku baik. Adanya anggapan seperti ini berarti ada cara berpikir yang tidak komprehensif dan sering dipaksakan pada yang anak belum paham korelasi antara ibadah dan akhlak yang baik. Anak-anak kita jadi tidak terbiasa berpikir kritis karena mereka lebih diharapkan untuk menerima saja apa yang diberikan padanya. Ironisnya, ini adalah praktik pendidikan agama di Indonesia selama bertahun-tahun," katanya.
Ia menggarisbawahi kebanyakan guru atau tenaga pendidik di Indonesia seringkali terburu-buru melihat anak didiknya punya perilaku yang agamis. Keinginan ini menyebabkan lingkungan pendidikan anak di Indonesia akhirnya lebih banyak dikemas oleh aspek ritual semata, seperti cara berpakaian, sikap yang terlihat santun, tetapi pemahaman agamanya sangat dangkal.
"Bahkan masih ada saja guru yang memaksakan persepsinya terhadap agama yang ia yakini. Beberapa sekolah juga masih ada yang hanya menitikberatkan pada perspektif agama. Sebagai contoh, kadang-kadang anak di usia remaja itu ada kalanya bicara tentang pacaran, tapi seringkali ditanggapi dengan cepat bahwa pacaran itu dosa, tanpa diberikan pemahaman dari sudut pandang yang lebih mudah untuk dicerna para remaja. Persoalan pahala dan dosa adalah hal yang abstrak sehingga perlu diimbangi dengan pendekatan akademis dan logis agar mudah untuk mengajak dan membentuk karakter anak-anak kita menjadi lebih baik lagi," kata Putri.
Ketika penjelasan yang orang tua atau guru berikan sulit diterima oleh anak, maka mereka menjadi malas untuk mengikuti ajakan baik yang datang. Ajakan orang tua atau guru kepada anak untuk beribadah dengan lebih giat tentu tidak salah, namun perlu diingat bahwa anak harus merasa dilibatkan dan tidak hanya seperti diperintah saja.
"Contohnya, ada anggapan bahwa jika anak rajin salat, maka ia akan berperilaku baik. Adanya anggapan seperti ini berarti ada cara berpikir yang tidak komprehensif dan sering dipaksakan pada yang anak belum paham korelasi antara ibadah dan akhlak yang baik. Anak-anak kita jadi tidak terbiasa berpikir kritis karena mereka lebih diharapkan untuk menerima saja apa yang diberikan padanya. Ironisnya, ini adalah praktik pendidikan agama di Indonesia selama bertahun-tahun," katanya.
Lihat Juga :