Nilai-nilai Humanis-Edukatif Ibadah Kurban
Senin, 03 Agustus 2020 - 06:43 WIB
loading...
A
A
A
Keempat, ajaran kurban merupakan wujud nyata kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Apabila solidaritas sosial luntur, maka kesetiakawanan sosial juga akan tergusur. Jika ini terjadi, tidak mustahil akan terjadi kecemburuan sosial yang pada gilirannya menimbulkan kerusuhan sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya disharmoni dan disintegrasi sosial yang tentu berdampak luas terhadap kehidupan politik, ekonomi, dan sosial-budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ajaran kurban sejatinya merupakan semangat berbagi dari yang mampu kepada yang tidak mampu. Dengan demikian, harmoni sosial bisa terjaga dengan baik.
Kurban pada Masa Pandemi
Hewan kurban (misalnya kambing, domba, sapi, atau kerbau) disembelih setelah pelaksanaan salat Idul Adha dan tiga hari kemudian secara berturut-turut (hari-hari tasyrik). Daging-daging hewan kurban diberikan kepada kaum duafa. Ibadah kurban memiliki nilai-nilai humanis-edukatif yang tinggi dan bertujuan agar orang-orang yang mampu memberikan sebagian harta mereka kepada orang-orang yang tidak mampu. Lebih-lebih di tengah pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung enam bulan dan belum diketahui kapan akan berakhir. Banyak orang kehilangan pekerjaan karena terkena PHK dan dirumahkan. Selama pandemi korona tingkat kemiskinan dan jumlah orang-orang miskin bertambah banyak. Pemilik toko, kafe, ataupun warung tidak berjualan akibat pandemi korona. Menghadapi keprihatinan ini, sudah sepatutnya hati kita terketuk untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada kaum duafa.
Untuk menghindari kerumunan orang banyak yang berpotensi terjadi penyebaran virus korona, panitia-panitia kurban di sejumlah masjid tidak melakukan penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Kurban kali ini. Begitu pula banyak orang Islam yang mampu melakukan kurban secara daring. Mereka mentransfer sejumlah uang senilai harga hewan kurban ke organisasi-organisasi muslim tertentu yang melaksanakan pemotongan hewan kurban. Cara ini merupakan cara mudah, praktis, dan efektif di tengah pandemi Covid-19. Ajaran kurban selalu dan tetap relevan untuk diamalkan karena ajaran tersebut merupakan wujud kepekaan serta kepedulian sosial yang juga menjadi inti sejati pengamalan kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua Pancasila).
Nilai-nilai ilahiyah, insaniyah, dan tarbiyah ibadah kurban disebutkan dalam Alquran: "Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS Al-Hajj: 37). Ajaran dan ibadah kurban memiliki makna sangat fundamental dan tujuan sangat luhur serta mulia bagi kepentingan manusia dan kemanusiaan. Esensi, makna, tujuan, dan nilai-nilai humanis-edukatif ajaran kurban sebenarnya tidak terletak pada daging dan darah hewan kurban itu, juga bukan daging dan darah hewan kurban itu yang sampai pada keridaan Allah, tetapi terletak pada intensitas dan kualitas takwa orang yang berkurban itu, dan kualitas takwa itulah yang pada hakikatnya sampai kepada keridaan Allah.
Kurban pada Masa Pandemi
Hewan kurban (misalnya kambing, domba, sapi, atau kerbau) disembelih setelah pelaksanaan salat Idul Adha dan tiga hari kemudian secara berturut-turut (hari-hari tasyrik). Daging-daging hewan kurban diberikan kepada kaum duafa. Ibadah kurban memiliki nilai-nilai humanis-edukatif yang tinggi dan bertujuan agar orang-orang yang mampu memberikan sebagian harta mereka kepada orang-orang yang tidak mampu. Lebih-lebih di tengah pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung enam bulan dan belum diketahui kapan akan berakhir. Banyak orang kehilangan pekerjaan karena terkena PHK dan dirumahkan. Selama pandemi korona tingkat kemiskinan dan jumlah orang-orang miskin bertambah banyak. Pemilik toko, kafe, ataupun warung tidak berjualan akibat pandemi korona. Menghadapi keprihatinan ini, sudah sepatutnya hati kita terketuk untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada kaum duafa.
Untuk menghindari kerumunan orang banyak yang berpotensi terjadi penyebaran virus korona, panitia-panitia kurban di sejumlah masjid tidak melakukan penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Kurban kali ini. Begitu pula banyak orang Islam yang mampu melakukan kurban secara daring. Mereka mentransfer sejumlah uang senilai harga hewan kurban ke organisasi-organisasi muslim tertentu yang melaksanakan pemotongan hewan kurban. Cara ini merupakan cara mudah, praktis, dan efektif di tengah pandemi Covid-19. Ajaran kurban selalu dan tetap relevan untuk diamalkan karena ajaran tersebut merupakan wujud kepekaan serta kepedulian sosial yang juga menjadi inti sejati pengamalan kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua Pancasila).
Nilai-nilai ilahiyah, insaniyah, dan tarbiyah ibadah kurban disebutkan dalam Alquran: "Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS Al-Hajj: 37). Ajaran dan ibadah kurban memiliki makna sangat fundamental dan tujuan sangat luhur serta mulia bagi kepentingan manusia dan kemanusiaan. Esensi, makna, tujuan, dan nilai-nilai humanis-edukatif ajaran kurban sebenarnya tidak terletak pada daging dan darah hewan kurban itu, juga bukan daging dan darah hewan kurban itu yang sampai pada keridaan Allah, tetapi terletak pada intensitas dan kualitas takwa orang yang berkurban itu, dan kualitas takwa itulah yang pada hakikatnya sampai kepada keridaan Allah.
(ras)