Kiai Said Ingatkan Bahaya Kontaminasi dari Penceramah Radikal

Senin, 28 Agustus 2023 - 21:56 WIB
loading...
Kiai Said Ingatkan Bahaya...
Komisaris Utama PT KAI, KH Said Aqil Siroj mengingatkan agar tidak menghadirkan penceramah radikal dalam kegiatan kementerian/lembaga. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj meminta penangkapan karyawan PT Kereta Api Indonesia (KAI) berinisial DE terkait kasus terorisme menjadi peringatan bagi semua pihak. Kiai Said mengingatkan agar tidak menghadirkan penceramah radikal dalam kegiatan kementerian/lembaga.

"Semua harus waspada terhadap bahaya-bahaya paham radikal. Ini semua berasal dari banyaknya khatib-khatib yang radikal yang kemudian malah dipakai di BUMN atau kementerian/lembaga melalui majelis-majelis taklim," kata Kiai Said yang juga menjabat Komisaris Utama PT KAI di Jakarta, Senin (28/8/2023).

Kiai Said meminta instansi BUMN sering mengadakan acara pembinaan terhadap pegawai terkait wawasan kebangsaan dan cinta kepada Tanah Air.



"Harus terus diadakan, tidak cukup hanya di pusat tetapi harus di setiap daerah, di setiap BUMN, termasuk juga di kementerian-kementerian. Bisa kita lihat saya berani bertanggung jawab ngomong seperti ini," katanya.

Kiai Said mengaku kaget saat pertama kali menerima kabar karyawan PT KAI terlibat terorisme. Sebab, selama ini tidak pernah ada, meski ia tahu di beberapa BUMN sudah pernah ada yang terpapar.

"Kagetnya karena ini di kalangan KAI. Kalau di PT KAI sendiri baru kali ini. Ternyata dari penampilannya pun tidak begitu kelihatan dia sebagai seorang teroris," katanya.

Dalam Surat Al An'am ayat 108 disebutkan, 'Wa lā tasubbullażīna yad'ụna min dụnillāhi', yang artinya kamu jangan mencaci maki non muslim. "Apalagi nonmuslim yang berdamai dengan kita, bersaudara dengan kita. Itu adalah sahabat kita, saudara kita. Tidak boleh dianggap musuh," kata Kiai Said.

Baca juga: Sita 16 Senjata Milik Teroris Karyawan KAI, Densus 88: Pabrikan dan Modifikasi

Lalu dalam surat Al Baqarah Ayat 193 dikatakan, 'fa lā ‘udwāna illā ‘aladh-dhālimīn’. Yang artinya 'tidak boleh ada permusuhan kecuali kepada yang melanggar hukum'.

"Indonesia ini bukan negara agama, tetapi negara kebangsaan yang berasal dari semua komponen yang ada, baik apa pun agamanya, suku atau etnasinya dan sebagainya. Itu sudah merupakan keputusan founding fathers kita, termasuk dari kalangan Nahdlatul Ulama," katanya.

Ketua Umum PBNU periode 2010-2011 ini mengaku heran kenapa di beberapa kantor BUMN ada yang berpemahaman radikal. Bahkan yang lebih mengherankan, ada khatib-khatib di BUMN yang khutbahnya menyerang pemerintah.

"Saya pernah dengar sendiri, salat Jumat (di BUMN), khatib malah menghantam pemerintah, menganggap pemerintah itu thogut, dan sebagainya. Selama tidak menegakkan hukum Islam maka negara thogut, pemerintah thogut, dan harus kita perangi. Itu khutbahnya di BUMN lho, tapi dia antipemerintah. Saya pernah dengar sendiri, ngeri sekali," katanya.

Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) itu meminta kepada seluruh instansi BUMN terus berperan untuk mengawasi dan benar-benar selektif dalam menerima pegawainya. "Ya harus benar-benar selektif dalam menerima pegawainya, kemudian setelah masuk tentunya harus ada juga pembinaan tidak hanya cukup dilakukan cuma sekali tapi harus terus-menerus," katanya.

Kiai Said juga berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama umat Islam bahwa radikalisme terorisme itu bertentangan agama Islam. Tidak dibenarkan dalam agama Islam.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Densus Ungkap 247 Anak...
Densus Ungkap 247 Anak Terpapar Radikalisme dan Kekerasan Sepanjang 2026
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus, Daop 1 Jakarta Tambah 9 Perjalanan Kereta Jarak Jauh
Prabowo Terbitkan Perpres...
Prabowo Terbitkan Perpres Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Mengarah Terorisme
LPOI Gelar Konsolidasi...
LPOI Gelar Konsolidasi untuk Perdamaian dan Peradaban Humanis
Momen Menteri Ara dan...
Momen Menteri Ara dan Hercules GRIB Debat Soal Penguasaan Lahan di Tanah Abang
Minat Perjalanan Malang–Purwokerto...
Minat Perjalanan Malang–Purwokerto Naik, KA Kertanegara Catat 168 Ribu Pelanggan
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Jalur Kereta Sumbar,...
Jalur Kereta Sumbar, Penghubung Sejarah, Wisata, dan Kehidupan
Rekomendasi
Enzy Storia Panik Saat...
Enzy Storia Panik Saat Mati Listrik di Positano, Sempat Mengira Diganggu Hantu Italia
Jejak Diplomasi Nabi...
Jejak Diplomasi Nabi Muhammad SAW dalam Peperangan Islam, dari Perjanjian Hudaibiyah hingga Fathu Makkah
Ancaman PHK Masih Mengintai,...
Ancaman PHK Masih Mengintai, Said Iqbal: Dipicu Kenaikan Harga BBM dan Relokasi Pabrik
Berita Terkini
Titi Anggraini Soroti...
Titi Anggraini Soroti Naskah Akademik RUU Pemilu Tak Kunjung Diterbitkan
Jokowi Mulai Safari...
Jokowi Mulai Safari Politik, Feri Amsari: Sah, Cuma Nggak Tahu Diri Saja
Lelang Hasil Rampasan...
Lelang Hasil Rampasan Korupsi Periode Juni 2026, KPK Bukukan Rp39,8 Miliar
354 Pencari Jodoh Padati...
354 Pencari Jodoh Padati Golek Garwo Kemenag
Indonesia Butuh Koalisi...
Indonesia Butuh Koalisi Advokasi untuk Percepat Adopsi Inovasi Kesehatan
5 Calon Manajer KDMP...
5 Calon Manajer KDMP Meninggal, DPR: Hentikan Sementara Latsarmil
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved