Dongeng Jenaka Ajip Rosidi untuk Butet Kartaredjasa
Kamis, 30 Juli 2020 - 00:21 WIB
loading...
A
A
A
Berikut ini adalah dongeng Ajip Rosidi yang SINDOnews ambil utuh dari Facebook Butet Kartaredjasa:
"SPECIES KELEDAI ANYAR. Ketemu sastrawan sepuh Ayip Rosidi di kediamannya, di Mungkid, dapat cerita2 lucu semasa dia aktif di DKJ, Dewan Kesenian Jakarta, tahun 70an. Ini kisah ttg Asrul Sani yang sedang meloby gubernur DKI pengganti Ali Sadikin, karena penangkapan Rendra setelah baca puisi di TIM.
Asrul memang paling dipercaya kawan2 seniman utk urusan meyakinkan orang lain. Apalagi saat itu ada amanah dari Bang Ali, pokoknya kalau kesenian di TIM berbenturan dgn politik, serahkan masalahnya ke gubernur. Maka, sepasukan orang DKJ - Asrul sani, Ayip Rosidi, Ramadhan KH, Iravati, Djaduk Djajakusuma, Soemardjono dll - nggrudug kantor gubernur. Mereka ditemui gubernur yang bekas tentara.
Asrul lalu melaporkan soal penangkapan Rendra, dan kasih argumen bhw itu satu kebijakan yang keliru, dan karenanya Rendra harus dibebaskan.
Bisa dibayangkan, tentu Asrul sbg cendekiawan kampiun menjlentrehkan juga alasan logis, akademis dan filosofis.
Pak Gubernur tentu saja manggut2. Lalu gubernur bertanya,"Rendra itu siapa? Saat revolusi dia ada di mana? Apa yang dia sudah berikan bagi bangsa ini?"
"SPECIES KELEDAI ANYAR. Ketemu sastrawan sepuh Ayip Rosidi di kediamannya, di Mungkid, dapat cerita2 lucu semasa dia aktif di DKJ, Dewan Kesenian Jakarta, tahun 70an. Ini kisah ttg Asrul Sani yang sedang meloby gubernur DKI pengganti Ali Sadikin, karena penangkapan Rendra setelah baca puisi di TIM.
Asrul memang paling dipercaya kawan2 seniman utk urusan meyakinkan orang lain. Apalagi saat itu ada amanah dari Bang Ali, pokoknya kalau kesenian di TIM berbenturan dgn politik, serahkan masalahnya ke gubernur. Maka, sepasukan orang DKJ - Asrul sani, Ayip Rosidi, Ramadhan KH, Iravati, Djaduk Djajakusuma, Soemardjono dll - nggrudug kantor gubernur. Mereka ditemui gubernur yang bekas tentara.
Asrul lalu melaporkan soal penangkapan Rendra, dan kasih argumen bhw itu satu kebijakan yang keliru, dan karenanya Rendra harus dibebaskan.
Bisa dibayangkan, tentu Asrul sbg cendekiawan kampiun menjlentrehkan juga alasan logis, akademis dan filosofis.
Pak Gubernur tentu saja manggut2. Lalu gubernur bertanya,"Rendra itu siapa? Saat revolusi dia ada di mana? Apa yang dia sudah berikan bagi bangsa ini?"
Lihat Juga :