Survei JJI Ungkap Elektabilitas Airlangga, Iriana Jokowi Masuk Kandidat Cawapres
Minggu, 25 Juni 2023 - 11:11 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, 89,8 persen masyarakat menginginkan presiden yang tidak pro terhadap tenaga kerja asing yang unskill, seperti masuknya TKA China di sektor pertambangan dan lain-lain.
"Masyarakat menginginkan Presiden berani dan punya nyali tidak mudah ditekan oleh para pemilik modal atau negara asing yang sering merugikan masyarakat 89,8 persen. Masyarakat menginginkan presiden yang tidak pro terhadap tenaga kerja asing yang unskill, seperti masuknya TKA China di sektor dipertambangan dan lain-lain," ujar Agusta dalam keterangannya, Minggu (24/6/2023).
Melihat elektabilitas capres dari hasil penelitian JJI menunjukkan, jika pilpres digelar hari ini maka sebanyak 34,8 persen memilih Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto 29,2 persen, Ganjar Pranowo 18,7 persen, Anies Baswedan 7,8, dan belum menentukan pilihan sebanyak 9,5 persen.
Untuk tokoh sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang paling diinginkan responden, yakni Puan Maharani sebanyak 20,2 persen, Iriana Jokowi 16,3 persen, Sandiaga Uno 10,1 persen, Gatot Nurmantyo 8,8 persen, Andika Perkasa 8,2, persen, Mahfud MD 6,7 persen, dan Erick Thohir sebanyak 5,8 persen.
Munculnya nama Iriana Jokowi sebagai bakal cawapres cukup mengejutkan. Hasil riset menunjukkan alasan masyarakat memilih Iriana Jokowi sebagai cawapres karena sudah mengenal misi dan visi Jokowi dan banyak mengetahui hasil kerjanya.
Selanjutnya, kata Agusta, dari simulasi nama-nama menteri dan pejabat Pemerintahan Jokowi yang layak dipilih sebagai cawapres, maka Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) dipilih 20,2 persen, Budi Gunawan 18,7 persen, Praktikno 14,8 persen, Pramono Anung 11,2 persen, Moeldoko 8,3 persen, dan tidak memilih sebanyak 26,8 persen.
Alasan LBP banyak dipilih responden karena dinilai paling mengerti dan bisa mengaplikasikan program serta kebijakan dan visi-misi Presiden Jokowi.
"Kesimpulan dari survei ini menunjukan bahwa publik menjadikan pemilu sebagai ajang pembentukan pemerintahan baru sehingga itu sudah di ketahui oleh publik sehingga publik mengapresiasi secara positif," tandasnya.
"Masyarakat menginginkan Presiden berani dan punya nyali tidak mudah ditekan oleh para pemilik modal atau negara asing yang sering merugikan masyarakat 89,8 persen. Masyarakat menginginkan presiden yang tidak pro terhadap tenaga kerja asing yang unskill, seperti masuknya TKA China di sektor dipertambangan dan lain-lain," ujar Agusta dalam keterangannya, Minggu (24/6/2023).
Melihat elektabilitas capres dari hasil penelitian JJI menunjukkan, jika pilpres digelar hari ini maka sebanyak 34,8 persen memilih Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto 29,2 persen, Ganjar Pranowo 18,7 persen, Anies Baswedan 7,8, dan belum menentukan pilihan sebanyak 9,5 persen.
Untuk tokoh sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang paling diinginkan responden, yakni Puan Maharani sebanyak 20,2 persen, Iriana Jokowi 16,3 persen, Sandiaga Uno 10,1 persen, Gatot Nurmantyo 8,8 persen, Andika Perkasa 8,2, persen, Mahfud MD 6,7 persen, dan Erick Thohir sebanyak 5,8 persen.
Munculnya nama Iriana Jokowi sebagai bakal cawapres cukup mengejutkan. Hasil riset menunjukkan alasan masyarakat memilih Iriana Jokowi sebagai cawapres karena sudah mengenal misi dan visi Jokowi dan banyak mengetahui hasil kerjanya.
Selanjutnya, kata Agusta, dari simulasi nama-nama menteri dan pejabat Pemerintahan Jokowi yang layak dipilih sebagai cawapres, maka Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) dipilih 20,2 persen, Budi Gunawan 18,7 persen, Praktikno 14,8 persen, Pramono Anung 11,2 persen, Moeldoko 8,3 persen, dan tidak memilih sebanyak 26,8 persen.
Alasan LBP banyak dipilih responden karena dinilai paling mengerti dan bisa mengaplikasikan program serta kebijakan dan visi-misi Presiden Jokowi.
"Kesimpulan dari survei ini menunjukan bahwa publik menjadikan pemilu sebagai ajang pembentukan pemerintahan baru sehingga itu sudah di ketahui oleh publik sehingga publik mengapresiasi secara positif," tandasnya.
Lihat Juga :