Akademisi Sebut Perbedaan Hari Raya Idulfitri Adalah Rahmat

Kamis, 20 April 2023 - 19:48 WIB
loading...
Akademisi Sebut Perbedaan...
Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1444 Hijriah segera tiba. Umat Islam seluruh dunia, termasuk di Indonesia bersukacita menjemput datangnya hari kemenangan tersebut. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1444 Hijriah segera tiba. Umat Islam seluruh dunia, termasuk di Indonesia bersukacita menjemput datangnya hari kemenangan tersebut.

Lebaran Idulfitri merupakan momentum yang dimanfaatkan untuk saling bermaaf-maafan serta berintrospeksi, membersihkan diri dari segala salah dan dosa.

Namun seperti sering terjadi sebelumnya, kemungkinan akan ada perbedaan Idulfitri 2023 antara Muhammadiyah, pemerintah, dan Nahdlatul Ulama (NU).

Muhammadiyah telah menetapkan Idulfitri jatuh pada Jumat (21/4/2023), sedangkan pemerintah dan NU masih menunggu Sidang Isbat hasil rukyatul hilal, sore nanti.

Baca juga: Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1 Syawal 1444 H Sabtu 22 April 2023

Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Rubiyanah Jalil mengatakan, masyarakat harus memaknai perbedaan sebagai keberkahan.
Akademisi Sebut Perbedaan Hari Raya Idulfitri Adalah Rahmat

Seperti disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW, al ikhtilaafu ummati rahmah yang berarti perbedaan di antara umatku adalah rahmat. Perbedaan harus dimaknai sebagai keindahan yang harus dipupuk dan tidak dijadikan sebagai alat politisasi suatu kelompk.

"Jika perbedaan-perbedaan itu justru dijadikan sebagai bahan untuk memunculkan perpecahan karena ingin memenangkan satu kelompok sendiri, maka perbedaan itu justru akan menjadi musibah bagi bangsa Indonesia," kata Rubi yang juga merupakan dosen Program Studi Magister Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah, di Jakarta, Kamis (20/4/2023).

Rubi berharap, dengan momentum Ramadan dan Idulfitri ini, umat kembali kepada fitrah manusia yang sesungguhnya yakni mencintai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kedamaian.

Dengan dilandasi semangat spiritual dan kebangsaan, sejatinya momentum ini mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang dapat meredam perpecahan bangsa.

Ia menjelaskan, bulan Ramadan dikenal memiliki banyak kemuliaan, mulai dari bulan suci, bulan penuh rahmat, hingga bulan syahru jihad atau bulan jihad.

Dikatakan syahru jihad, karena secara historis pelaksanaan Ramadan pada masa Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan peristiwa perang dan kemenangan yang diraih umat Islam.

Namun semangat ini kerap disalahartikan oleh beberapa kelompok dengan konteks yang tidak sesuai. Jihad kerap diartikan dengan makna perang (qital), sehingga berpendapat bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membuat teror bagi kelompok radikal-terorisme.

"Ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa atau menahan diri, itu pada dasarnya kita sedang berjihad, oleh karena itulah Ramadan disebut juga dengan dengan syahrul jihad," tuturnya.

Menurut Rubi, ada satu peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya saat bulan Ramadan, yaitu peristiwa Perang Badar.

Dalam kondisi berpuasa, Nabi Muhammad beserta 313 pasukannya melawan 1.000 Kafir Qurais dalam Perang Badar. Dengan kondisi timpang, akhirnya umat Islam memenangkan perang bersejarah tersebut.

Namun, Rubi mengatakan, eforia kemenangan Perang Badar ini digambarkan oleh Rasulullah sebagai satu perang yang tidak seberapa. Seusai memenangi perang, Nabi Muhammad mengatakan, roza’kna min jihadil asgar ila jihadil akbar (kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar). Kemudian para sahabat bertanya, ‘lalu seperti apa jihad akbar itu ya Rasulullah?’.

"Rasulullah menjawab jihadul akbar jihadul nafs, jihad akbar itu adalah perang melawan diri sendiri. Jadi sebenarnya jihad yang paling besar itu bukan jihad secara fisik berperang dan lain-lain," ungkapnya.

"Tapi jihad yang besar itu adalah jihad untuk melawan diri sendiri dari segala hawa nafsu yang bisa menghancurkan baik diri sendiri maupun orang lain dan itu berpuasa," tambah Dewan Pakar Asosiasi Komunikasi Penyiaran Islam (Askopis) Indonesia ini.

Dalam konteks keindonesiaan, makna jihad melawan hawa nafsu ini dapat dipupuk untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indonesia sebagai negara yang penuh keberagaman suku, agama, ras, dan budaya, perlu menamkan nilai nilai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Menurut Rubi, perlu kesadaran bersama untuk memupuk terus kebhinekaan untuk menghindari perpecahan. "Jika kita selalu berusaha untuk berjihad melawan diri sendiri, melawan keegoan kita sendiri maka sesungguhnya menjaga kesatuan dan persatuan NKRI adalah hal yang sangat bisa untuk diwujudkan," tutupnya.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Silaturahmi Idulfitri...
Silaturahmi Idulfitri 1447 H, Prabowo Telepon Presiden Palestina hingga MBZ
SBY dan Keluarga Tiba...
SBY dan Keluarga Tiba di Istana, Halalbihalal dengan Prabowo
Idulfitri 1447 Hijriah,...
Idulfitri 1447 Hijriah, Prabowo: Sambut Hari Kemenangan dengan Hati yang Bersih
Hari Raya Idulfitri...
Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Menag: Puasa Perkuat Empati dan Peduli
Tim Rukyat Hilal Kemenag...
Tim Rukyat Hilal Kemenag Sebut Hilal 3 Derajat, tapi Belum Capai Ambang Batas Elongasi
Sejarah Kriteria MABIMS...
Sejarah Kriteria MABIMS dalam Penentuan Idulfitri
Manfaat dan Hikmah Puasa...
Manfaat dan Hikmah Puasa Syawal, Simak Penjelasannya di Sini!
Mengisi Idulfitri dengan...
Mengisi Idulfitri dengan Wisata, Begini Pandangan Al Quran
Begini Hukum dan Aturan...
Begini Hukum dan Aturan Berwisata dalam Islam
Rekomendasi
Dulu Dibully Karena...
Dulu Dibully Karena Pendiam, Kini Syawal Adha Raih Centang Biru TikTok dan Instagram
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
MANU dan Universitas...
MANU dan Universitas Jember Kolaborasi Perkuat Pengembangan SDM Pertanian
Berita Terkini
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Aliansi BEM Bersatu...
Aliansi BEM Bersatu Endus Dugaan Keterlibatan Politikus PDIP dalam Aksi Tolak MBG
Budiman Sesalkan Pembubaran...
Budiman Sesalkan Pembubaran Diskusi di UGM: Seharusnya Kita Bisa Berdialog dengan Sehat
Usai Temui Jokowi, IKA...
Usai Temui Jokowi, IKA BEM Nusantara Akan Bertemu Gibran, Bahas Apa?
Bonatua Silalahi Ungkap...
Bonatua Silalahi Ungkap Kejanggalan di Fotokopi Ijazah Jokowi: Tak Ada Tanggal Legalisir, Melanggar Peraturan
Digeruduk Mahasiswa...
Digeruduk Mahasiswa UGM saat Diskusi, Budiman Sudjatmiko: Kami Bersedia untuk Dikritik
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved