alexa snippet

Indonesia di Pusaran Konflik Laut China Selatan

Indonesia di Pusaran Konflik Laut China Selatan
Kapal Selam dan Kapal Perang Milik Militer China. (Dok. Reuters).
A+ A-
TENSI ketegangan di kawasan Laut China Selatan meningkat. Ketegangan ini sudah terjadi sejak lama dan bersifat pasang surut. Ketegangan di kawasan ini kembali meningkat sejak awal Mei 2014.

Indonesia di Pusaran Konflik Laut China Selatan

Peningkatan eskalasi ini dipicu pembangunan kilang minyak China His Yang Shi You 981 di wilayah yang dianggap masuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan landas kontinental Vietnam.

China mengklaim wilayah Laut China Selatan berdasarkan fakta sejarah dimulai era Dinasti Han 110 sebelum masehi. Era itu dilakukan ekspedisi laut ke Spratly Islands (Kepulauan Spartly) oleh bangsa China ketika Dinasti Ming 1403-1433 masehi.

Saat itu para nelayan dan pedagang China sudah bekerja dan menetap di wilayah tersebut. Klaim China ini diperkuat dengan mengeluarkan peta nine dashed lines (sembilan garis putus-putus) pada tahun 1947 dan Mei 2009.

Berdasarkan peta itu, China mengklaim semua pulau yang ada di wilayah itu mutlak milik negeri yang dijuluki Tirai Bambu itu. Mengacu peta itu, China juga mengklaim perairan yang berada di wilayah tersebut masih miliknya, termasuk kandungan laut maupun tanah di bawahnya.

Sikap China ini memicu reaksi dari negara yang wilayahnya bersinggungan dengan Laut China Selatan. Mereka adalah, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Brunei dan Philipina.

Semakin masifnya China mengklaim wilayah tersebut dengan membangun infrastruktur semakin memicu ketegangan di Laut China Selatan. Masing-masing negara terkait yang tergabung dalam ASEAN semakin meningkatkan kekuatan militernya di sekitar Laut China Selatan.

Contohnya Filipina. Negara ini menaikkan anggaran milternya tiga kali lipat  untuk mengamankan daerahnya di sekitar Laut China Selatan.

Malaysia juga melakukan hal sama untuk membeli dua kapal selam bermesin diesel dari Perancis. Bahkan Vietnam ikut memperkuat militernya dengan membeli enam kapal selam Kilo-class dan 12 pesawat tempur Sukhoi Su-30 MKK dari Rusia.

Kondisi ini semakin menyulitkan Indonesia untuk menghindar dari peningkatan eskalasi ketegangan di wilayah tersebut. Sebab Indonesia adalah salah satu negara bersinggungan dengan Laut China Selatan dan berdekatan dengan beberapa negara sekitarnya.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo dalam bukunya berjudul Memahami Ancaman, Menyadari Jati Diri Modal Membangun Menuju Indonesia Emas mengungkap adanya ancaman terhadap Indonesia terhadap perkembangan di wilayah tersebut. Posisi sebelah utara Indonesia ada Malaysia dan Singapura, sementara sebelah selatan Indonesia ada Singapura dan Selandia Baru.

Sejarah hubungan tidak harmonis Indonesia dengan Malaysia mencapai puncaknya di era kepemimpinan Presiden Soekarno dengan pernyataannya "Ganyang Malaysia" di hadapan rakyat Indonesia. Hubungan ini kembali tidak harmonis ketika Malaysia berhasil merebut pulau yang masih diklaim milik Indonesia, yakni Sipadan-Ligitan
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top