Kisah Letnan Jenderal Soegito, Termangu Saat Pertama Kali Bunuh Musuh dalam Misi Tempur Perdananya
Senin, 06 Maret 2023 - 18:11 WIB
loading...
Letnan Jenderal TNI (Purn) Soegito merupakan salah seorang purnawirawan perwira tinggi (pati) TNI Angkatan Darat. Foto DOK ist
A
A
A
JAKARTA - Letnan Jenderal TNI (Purn) Soegito merupakan salah seorang purnawirawan perwira tinggi (pati) TNI Angkatan Darat. Dalam riwayat kariernya, jenderal bintang tiga ini telah banyak mencicipi berbagai jabatan strategis di TNI.
Sebut saja seperti Pangdam Jaya (1985-1988) hingga Pangkostrad (1988-1990). Di samping jabatan penting yang pernah diembannya, Soegito juga memiliki banyak pengalaman menarik selama bertugas. Salah satunya adalah kala menjadi perwira pertama RPKAD (Kopassus) tahun 1964.
Baca juga : Kisah Heroik Jenderal Sarwo Edhie Merebut Pangkalan Udara dari Tangan Komunis
Mengutip informasi dari buku “Letjen (Purn) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen”, serdadu kelahiran Yogyakarta ini menceritakan misi pertamanya kala mengejar kelompok pemberontak DI/TII di Sulawesi pimpinan Kahar Muzakar.
Semua berawal ketika sejumlah perwira yang dinyatakan lulus seleksi dibagi menjadi dua kubu. Kelompok pertama langsung mengikuti pendidikan dasar komando di Batujajar, Jawa Barat. Kemudian kelompok kedua dikirim ke daerah operasi di Sulawesi Selatan.
Dari sekian perwira yang dipilih untuk menuju medan operasi, salah satunya adalah Soegito sendiri. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, mereka dipisah sesuai penempatan masing-masing pasca tiba di Parepare.
Soegito mendapat penempatan di kampung kecil yang masuk wilayah Kecamatan Libureng, Bone. Di sana telah hadir satu kompi dengan komandan Lettu Rahman. Akan tetapi, tak lama berselang Soegito menjadi komandan kompi pengganti karena Rahman cuti tugas.
Pada akhirnya, Soegito bergabung dengan peleton yang punya kemungkinan kontak paling tinggi dengan pemberontak. Hal tersebut terbukti benar kala ada laporan gerombolan yang dicurigai sebagai kelompok Kahar Muzakar sedang melakukan perjalanan.
Baca juga : Kisah Jenderal TNI Berpakaian Mirip Presiden Soeharto untuk Kecoh Sniper
Tanpa basa-basi, dia langsung bergabung dengan peleton penyerang yang sudah bersiap. Setelah beberapa hari menelusuri hutan, akhirnya buruan mereka ditemukan. Setelahnya, tembak menembak pun langsung terjadi.
Saat kontak senjata berkecamuk, dia melihat beberapa musuh berlari dengan membawa senjata. Reflek seketika, Soegito menembak mereka dengan senapan AK-47 miliknya dan langsung membuat mereka roboh.
"Tampias Pak, tampias," ucap seorang bintara yang maksudnya adalah musuh jatuh karena tembakan.
Setelah sempat mereda, Soegito mendatangi musuh yang ditembaknya. Seakan tak percaya dan termangu, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Pertama kali saya bunuh orang meski saya tidak yakin betul apakah itu tembakan saya atau dari anggota yang lain," ucap Soegito.
Akan tetapi, para anggota menyebut bahwa tidak ada yang menembak ke arah tersebut. Sempat shock, pada akhirnya Soegito ditenangkan oleh bintaranya sendiri.
Tak lama setelahnya, operasi tersebut selesai pasca Kahar Muzakar tewas pada 3 Februari 1965. Selanjutnya, Soegito dan teman-temannya ditarik kembali ke Cijantung.
Sebut saja seperti Pangdam Jaya (1985-1988) hingga Pangkostrad (1988-1990). Di samping jabatan penting yang pernah diembannya, Soegito juga memiliki banyak pengalaman menarik selama bertugas. Salah satunya adalah kala menjadi perwira pertama RPKAD (Kopassus) tahun 1964.
Baca juga : Kisah Heroik Jenderal Sarwo Edhie Merebut Pangkalan Udara dari Tangan Komunis
Mengutip informasi dari buku “Letjen (Purn) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen”, serdadu kelahiran Yogyakarta ini menceritakan misi pertamanya kala mengejar kelompok pemberontak DI/TII di Sulawesi pimpinan Kahar Muzakar.
Semua berawal ketika sejumlah perwira yang dinyatakan lulus seleksi dibagi menjadi dua kubu. Kelompok pertama langsung mengikuti pendidikan dasar komando di Batujajar, Jawa Barat. Kemudian kelompok kedua dikirim ke daerah operasi di Sulawesi Selatan.
Dari sekian perwira yang dipilih untuk menuju medan operasi, salah satunya adalah Soegito sendiri. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, mereka dipisah sesuai penempatan masing-masing pasca tiba di Parepare.
Soegito mendapat penempatan di kampung kecil yang masuk wilayah Kecamatan Libureng, Bone. Di sana telah hadir satu kompi dengan komandan Lettu Rahman. Akan tetapi, tak lama berselang Soegito menjadi komandan kompi pengganti karena Rahman cuti tugas.
Pada akhirnya, Soegito bergabung dengan peleton yang punya kemungkinan kontak paling tinggi dengan pemberontak. Hal tersebut terbukti benar kala ada laporan gerombolan yang dicurigai sebagai kelompok Kahar Muzakar sedang melakukan perjalanan.
Baca juga : Kisah Jenderal TNI Berpakaian Mirip Presiden Soeharto untuk Kecoh Sniper
Tanpa basa-basi, dia langsung bergabung dengan peleton penyerang yang sudah bersiap. Setelah beberapa hari menelusuri hutan, akhirnya buruan mereka ditemukan. Setelahnya, tembak menembak pun langsung terjadi.
Saat kontak senjata berkecamuk, dia melihat beberapa musuh berlari dengan membawa senjata. Reflek seketika, Soegito menembak mereka dengan senapan AK-47 miliknya dan langsung membuat mereka roboh.
"Tampias Pak, tampias," ucap seorang bintara yang maksudnya adalah musuh jatuh karena tembakan.
Setelah sempat mereda, Soegito mendatangi musuh yang ditembaknya. Seakan tak percaya dan termangu, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Pertama kali saya bunuh orang meski saya tidak yakin betul apakah itu tembakan saya atau dari anggota yang lain," ucap Soegito.
Akan tetapi, para anggota menyebut bahwa tidak ada yang menembak ke arah tersebut. Sempat shock, pada akhirnya Soegito ditenangkan oleh bintaranya sendiri.
Tak lama setelahnya, operasi tersebut selesai pasca Kahar Muzakar tewas pada 3 Februari 1965. Selanjutnya, Soegito dan teman-temannya ditarik kembali ke Cijantung.
(bim)
Lihat Juga :