Lemhannas: Indonesia Butuh 2 Pemilu Lagi agar Matang Berdemokrasi
Rabu, 22 Februari 2023 - 20:25 WIB
loading...
Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto memberikan keterangan kepada media dalam Forum Komunikasi Mitigasi Resiko 2023 di Kantor Lemhannas, Jakarta Pusat, Rabu (22/2/2023). FOTO/MPI/RIANA RIZKIA
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional ( Lemhannas ) Andi Widjajanto menyatakan, Indonesia membutuhkan tujuh kali pemilu berturut-turut agar matang dalam berdemokrasi. Sejak era Reformasi pada 1998 hingga saat ini Indonesia telah menggelar lima kali pemilu.
Hal ini disampaikan Andi Widjajanto dalam Forum Komunikasi Mitigasi Resiko 2023 di Kantor Lemhannas, Jakarta Pusat, Rabu (22/2/2023). Menurutnya, hingga saat ini Indonesia telah menjalani lima kali pemilu, sehingga dibutuhkan dua kali pemilu lagi untuk mencapai kematangan berdemokrasi.
"(Yang pertama kita anggap terjadi) Pada 1999, maka 2019 adalah pemilu kelima, sehingga kita membutuhkan dua pemilu lagi, 2024 dan 2029, untuk membuat kita menjadi negara demokrasi matang. Itu salah satu hal yang kami kaji," kata Andi.
Baca juga: Panglima TNI dan KSAD Pensiun saat Kampanye Pemilu 2024, Ini Kata Lemhannas
Namun dalam perjalanannya, kata Andi, Indonesia mengalami regresi atau kemunduran demokrasi dari Pemilu 2019 menuju 2023. Indeks demokrasi Indonesia bergerak turun dari angka tiga ke empat. Sementara skor maksimal lima. Hal tersebut, menurut Andi, terjadi karena residu Pemilu 2014 dan 2019 masih terbawa, seperti banyaknya berita bohong dan ujaran kebencian.
Hal ini disampaikan Andi Widjajanto dalam Forum Komunikasi Mitigasi Resiko 2023 di Kantor Lemhannas, Jakarta Pusat, Rabu (22/2/2023). Menurutnya, hingga saat ini Indonesia telah menjalani lima kali pemilu, sehingga dibutuhkan dua kali pemilu lagi untuk mencapai kematangan berdemokrasi.
"(Yang pertama kita anggap terjadi) Pada 1999, maka 2019 adalah pemilu kelima, sehingga kita membutuhkan dua pemilu lagi, 2024 dan 2029, untuk membuat kita menjadi negara demokrasi matang. Itu salah satu hal yang kami kaji," kata Andi.
Baca juga: Panglima TNI dan KSAD Pensiun saat Kampanye Pemilu 2024, Ini Kata Lemhannas
Namun dalam perjalanannya, kata Andi, Indonesia mengalami regresi atau kemunduran demokrasi dari Pemilu 2019 menuju 2023. Indeks demokrasi Indonesia bergerak turun dari angka tiga ke empat. Sementara skor maksimal lima. Hal tersebut, menurut Andi, terjadi karena residu Pemilu 2014 dan 2019 masih terbawa, seperti banyaknya berita bohong dan ujaran kebencian.
Lihat Juga :