PITI Sebut Imlek Menjadi Perayaan dan Suka Cita Kebangsaan
Jum'at, 27 Januari 2023 - 19:13 WIB
loading...
A
A
A
"Kalau kita menengok sedikit ke belakang, sebelum zaman Reformasi, saat itu masih kental sekali sentimen dan kebencian terhadap etnis tertentu, lebih khusus etnis Tionghoa. Hal ini tidak baik dan cukup sudah. Kita juga harus menjaga jangan sampai tragedi ini terulang kembali, dan kita sudah melakukan hal-hal yang sangat positif untuk saat ini," ujarnya.
Sentimen negatif dan kebencian etnis harus diakui juga dipengaruhi oleh pernyataan-pernyataan sebagian oknum tokoh agama dan tokoh masyarakat di Indonesia. Masyarakat bawah yang memiliki loyalitas tinggi kemudian mengikuti tokoh idolanya.
"Maka dari itu, kita juga sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama perlu menunjukkan bahwa kita itu dijadikan contoh. Jadi tokoh agama, tokoh masyarakat itu bisa memberikan contoh bahwa kita pada lintas agama, etnis itu bisa hidup rukun. Itu tujuannya seringkali kita (para tokoh) berkumpul pada acara-acara tertentu, menunjukkan betapa rukunnya kita sebagai tokoh-tokoh agama. Imbasnya, insyaAllah akan berimbas pada kehidupan kita sehari-hari di tingkatan masyarakat," katanya.
Sekjen Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini mengatakan, semangat Imlek harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Misalnya dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan dalam bermasyarakat, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara akan semakin nyaman dan damai. Hal ini perlu diterapkan di seluruh tatanan masyarakat, mulai dari yang paling bawah hingga atas. Semangat ini juga perlu didukung oleh contoh dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat.
"Komitmen kita itu satu, bagaimana menjaga NKRI tetap utuh sebagai negara kesatuan, harmonis, dan menuju ke arah cita-cita bangsa menjadi negara yang adil dan makmur sesuai dengan undang-undang kita. Dengan bahasa agama, negara yang ghofururrahim, negara yang barokah (diberkahi). Itu tujuan dan cita-cita kita sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama. Jadi kita berharap di Tahun Kelinci ini, ke depan itu kita hidup di masyarakat bernegara dan berbangsa dapat lebih baik lagi," kata Denny.
Sentimen negatif dan kebencian etnis harus diakui juga dipengaruhi oleh pernyataan-pernyataan sebagian oknum tokoh agama dan tokoh masyarakat di Indonesia. Masyarakat bawah yang memiliki loyalitas tinggi kemudian mengikuti tokoh idolanya.
"Maka dari itu, kita juga sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama perlu menunjukkan bahwa kita itu dijadikan contoh. Jadi tokoh agama, tokoh masyarakat itu bisa memberikan contoh bahwa kita pada lintas agama, etnis itu bisa hidup rukun. Itu tujuannya seringkali kita (para tokoh) berkumpul pada acara-acara tertentu, menunjukkan betapa rukunnya kita sebagai tokoh-tokoh agama. Imbasnya, insyaAllah akan berimbas pada kehidupan kita sehari-hari di tingkatan masyarakat," katanya.
Sekjen Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini mengatakan, semangat Imlek harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Misalnya dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan dalam bermasyarakat, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara akan semakin nyaman dan damai. Hal ini perlu diterapkan di seluruh tatanan masyarakat, mulai dari yang paling bawah hingga atas. Semangat ini juga perlu didukung oleh contoh dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat.
"Komitmen kita itu satu, bagaimana menjaga NKRI tetap utuh sebagai negara kesatuan, harmonis, dan menuju ke arah cita-cita bangsa menjadi negara yang adil dan makmur sesuai dengan undang-undang kita. Dengan bahasa agama, negara yang ghofururrahim, negara yang barokah (diberkahi). Itu tujuan dan cita-cita kita sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama. Jadi kita berharap di Tahun Kelinci ini, ke depan itu kita hidup di masyarakat bernegara dan berbangsa dapat lebih baik lagi," kata Denny.
(abd)
Lihat Juga :