Ormas Berperan Penting Ciptakan Pemilih Berkualitas di Pemilu 2024
Kamis, 26 Januari 2023 - 17:45 WIB
loading...
Webinar bertajuk Partisipasi Ormas dalam Pendidikan Pemilih Cerdas untuk Mewujudkan Pemilu Berkualitas Tahun 2024, Rabu (25/1/2023). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Organisasi kemasyarakatan ( ormas ) diperlukan perannya untuk mendukung kelancaran dan kesuksesan Pemilu 2024. Ormas bisa memberikan edukasi kepada masyarakat agar menjadi pemilih cerdas.
Hal ini disampaikan Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Bahtiar dalam webinar bertajuk Partisipasi Ormas dalam Pendidikan Pemilih Cerdas untuk Mewujudkan Pemilu Berkualitas Tahun 2024, Rabu (25/1/2023).Menurutnya, kegiatan ini digelar sebagai bentuk dukungan kepada penyelenggara Pemilu. Membangun ekosistem pemilu yang sehat, mengedukasi masyarakat dan seluruh pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung untuk menghadirkan proses pemilu yang sehat sesuai dengan asas-asas pemilu, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil serta memenuhi prinsip-prinsip demokrasi.
"Tidak mungkin KPU atau pemerintah bertemu langsung dengan masyarakat. Kita harus mempunyai cara bagaimana untuk masuk kemasyarakat. Salah satu cara dan metode bertemu atau berkomunikasi dengan masyarakat melalui saluran-saluran masyarakat itu sendiri," kata Bahtiar dalam keterangan tertulis, Kamis (26/1/2023).
Menurutnya, kesuksesan pemilu tidak hanya dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Namun, Kemendagri ingin menghadirkan pemilih berkualitas dan cerdas sebagai warga negara. Selain itu, juga membentuk pemilih objektif yang memilih pemimpin yang bertujuan memajukan bangsa dan negara.
Dia mengumpamakan hal ini dengan algoritma. Algoritma ini memiliki 2 mata, mata baik dan mata kurang baik. Produksi teknologi algoritma adalah seseorang yang membuka konten positif di media sosial, akan selalu diberikan konten positif. Begitu juga sebaliknya.
"Jadi teknologi algoritma ini bisa menciptakan kebenaran-kebenaran, dan bisa sebaliknya. Karenanya teknologi algoritma bisa mengancam kerukunan Pemilu 2024. Apabila kita tidak mampu memahami teknologi algoritma dengan baik, maka kita akan keliru," kata Bahtiar.
Ia berpendapat, tantangan menghadirkan pemilih cerdas hari ini berbeda dengan 5 atau 10 tahun lalu. Karena itu, dalam mengedukasi masyarakat hari ini memiliki tantangan tersendiri.
Hal ini disampaikan Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Bahtiar dalam webinar bertajuk Partisipasi Ormas dalam Pendidikan Pemilih Cerdas untuk Mewujudkan Pemilu Berkualitas Tahun 2024, Rabu (25/1/2023).Menurutnya, kegiatan ini digelar sebagai bentuk dukungan kepada penyelenggara Pemilu. Membangun ekosistem pemilu yang sehat, mengedukasi masyarakat dan seluruh pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung untuk menghadirkan proses pemilu yang sehat sesuai dengan asas-asas pemilu, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil serta memenuhi prinsip-prinsip demokrasi.
"Tidak mungkin KPU atau pemerintah bertemu langsung dengan masyarakat. Kita harus mempunyai cara bagaimana untuk masuk kemasyarakat. Salah satu cara dan metode bertemu atau berkomunikasi dengan masyarakat melalui saluran-saluran masyarakat itu sendiri," kata Bahtiar dalam keterangan tertulis, Kamis (26/1/2023).
Menurutnya, kesuksesan pemilu tidak hanya dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Namun, Kemendagri ingin menghadirkan pemilih berkualitas dan cerdas sebagai warga negara. Selain itu, juga membentuk pemilih objektif yang memilih pemimpin yang bertujuan memajukan bangsa dan negara.
Dia mengumpamakan hal ini dengan algoritma. Algoritma ini memiliki 2 mata, mata baik dan mata kurang baik. Produksi teknologi algoritma adalah seseorang yang membuka konten positif di media sosial, akan selalu diberikan konten positif. Begitu juga sebaliknya.
"Jadi teknologi algoritma ini bisa menciptakan kebenaran-kebenaran, dan bisa sebaliknya. Karenanya teknologi algoritma bisa mengancam kerukunan Pemilu 2024. Apabila kita tidak mampu memahami teknologi algoritma dengan baik, maka kita akan keliru," kata Bahtiar.
Ia berpendapat, tantangan menghadirkan pemilih cerdas hari ini berbeda dengan 5 atau 10 tahun lalu. Karena itu, dalam mengedukasi masyarakat hari ini memiliki tantangan tersendiri.
Lihat Juga :