Sistem Proporsional Terbuka Dinilai Hadirkan Praktik Pasar Bebas
Kamis, 05 Januari 2023 - 05:42 WIB
Ilustrasi Pemilu. Foto/Dok SINDOnews
JAKARTA - Sistem pemilu proporsional terbuka atau tertutup menjadi perdebatan. Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana Putu Gede Arya Sumertha Yasa menilai sistem proporsional terbuka dalam pemilu legislatif lebih menghadirkan semangat individualis akibat praktik pasar bebas yang terjadi ketimbang menghadirkan iklim musyawarah dalam menghadirkan wakil-wakil rakyat yang mumpuni sebagaimana dalam Sila ke-IV Pancasila.
Hal tersebut, menurut dia, dikarenakan fenomena caleg-caleg terpilih karena popularitas dan banyak uang, merupakan realita yang terjadi dan tidak dapat dibantah. Sehingga, kadang kala dalam rekrutmen caleg kemampuan untuk memperjuangkan hak rakyat, tidak menjadi ukuran prioritas.
“Bayangkan saja, caleg yang memiliki kualifikasi yang mumpuni dari aspek intelektual selalu kalah dengan caleg yang mengandalkan modal besar, bahkan ironisnya, dari pemilu ke pemilu biaya yang dikeluarkan caleg semakin mahal,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (5/1/2023).
Baca juga: Sistem Proporsional Terbuka Dinilai Picu Korupsi dan Politik Uang
Hal tersebut, menurut dia, dikarenakan fenomena caleg-caleg terpilih karena popularitas dan banyak uang, merupakan realita yang terjadi dan tidak dapat dibantah. Sehingga, kadang kala dalam rekrutmen caleg kemampuan untuk memperjuangkan hak rakyat, tidak menjadi ukuran prioritas.
“Bayangkan saja, caleg yang memiliki kualifikasi yang mumpuni dari aspek intelektual selalu kalah dengan caleg yang mengandalkan modal besar, bahkan ironisnya, dari pemilu ke pemilu biaya yang dikeluarkan caleg semakin mahal,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (5/1/2023).
Baca juga: Sistem Proporsional Terbuka Dinilai Picu Korupsi dan Politik Uang
Lihat Juga :