Remaja Paham Kesehatan Reproduksi, Kepala BKKBN: Kenapa Tabu?

Sabtu, 27 Juni 2020 - 13:41 WIB
Menurut Hasto, ketika ada seorang anak laki-laki yang masih kecil lalu testisnya ternyata tidak turun hal tersebut sebenarnya bisa menyebabkan kanker nantinya. "Gimana solusinya? Yaitu dioperasi, testis yang jadi kanker akan diangkat serta yang sehat tidak diapa-apakan. Begitupun dengan gondongan apabila menjangkit anak laki-laki akan mempengaruhi spermanya kelak. Begitupun dengan anak perempuan, jika diumur 12 tahun blm menstruasi kita lihat apakah sudah ada bulu diketiak atau belum, payudaranya sudah tumbuh atau belum. Jika belum, kita tunggu sampai usia 16 tahun, jika masih belum ada tanda-tanda maka harus ke dokter untuk periksa kromosom karena ditakutkan ada kelainan,” papar Hasto.

BKKBN selalu melakukan terobosan-terobosan untuk mendekati para remaja terkait ketahanan remaja. Melalui program Generasi Berencana (GenRe) BKKBN mengembangkan ketahanan remaja di dalamnya. Program GenRe adalah (1) program yang dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja melalui pemahaman tentang Pendewasaan Usia Perkawinan sehingga mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi; (2) GenRe program yang mengedepankan pembentukan karakter bangsa di kalangan generasi muda; (3) GenRe merupakan wadah untuk mengembangkan karakter bangsa karena mengajarkan remaja untuk menjauhi Pernikahan Dini, Seks Pranikah dan Napza guna menjadi remaja tangguh dan dapat berkontribusi dalam pembangunan serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Program GenRe dilakukan dengan pendekatan langsung terhadap remaja serta orang tua yang memiliki anak remaja. Pendekatan kepada remaja dilakukan melalui pengembangan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja). Saat ini PIK Remaja berjumlah sekitar 23.579 tersebar di 34 Provinsi. PIK Remaja diharapkan menjadi wadah bagi remaja untuk berkumpul, berbagi cerita, berkreatifitas dan saling tukar informasi dengan teman sebaya mereka.

Menurut Rosalina Verauli, anak usia 12-13 tahun adalah puncak-puncaknya pubertas, di mana para remaja berubah cara berfikirnya, cara pandang, apa yang mereka lakukan seolah sangat penting, mudah emosi dan cenderung menjauh dari orang dewasa dan orang tua.

"PIK Remaja menjadi wadah untuk para remaja bercerita kepada pendidik sebayanya, kalau mereka konsultasi di psikolog, kami hanya bisa memberi simpati tapi tidak empati, berbeda dengan pendidik sebaya yang bisa menempatkan diri di posisi mereka bisa memberikan simpati dan juga empati,” kata Rosalina.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!