RI Jadi Presidensi G20, PB HMI: Harus Berdampak ke Rakyat Indonesia
Senin, 01 November 2021 - 23:05 WIB
"Namun kami memberi catatan bahwa agenda ini jangan sekadar menjadi kegiatan simbolik. Melainkan memiliki dampak yang nyata terhadap perekonomian Indonesia yang saat ini masih berupaya pulih akibat terpaan Pandemi Covid-19," tambahnya.
Indonesia telah sah menerima estafet kepemimpinan G20 dari Italia, yang secara simbolis dilakukan dengan penyerahan palu dari Perdana Menteri Italia Mario Draghi ke Presiden Indonesia Joko Widodo pada sesi penutupan KTT G20 Roma yang berlangsung di La Nuvola pada Minggu, (31/11/2021).
Di Indonesia, KTT G20 rencananya akan berlangsung di Bali pada 30-31 Oktober 2022. "Presidensi G20 adalah kehormatan sekaligus momentum yang tepat bagi Indonesia untuk meningkatkan pembangunan ekonomi negara. Karena forum yang melibatkan negara-negara maju dan berkembang ini merupakan ajang untuk membahas prospek perdagangan dan investasi," paparnya.
Raihan berharap, KTT G20 memiliki fokus pada pemulihan ekonomi negara-negara yang terdampak Covid-19, terkhusus pada negara sedang berkembang (NSB) yang memiliki kerentanan ekonomi jika dibandingkan dengan negara maju.
"Untuk itu, Indonesia perlu mendorong konektifitas dan kolaborasi global untuk pemulihan ekonomi pasca-Covid-19 yang merata," terangnya
Indonesia telah sah menerima estafet kepemimpinan G20 dari Italia, yang secara simbolis dilakukan dengan penyerahan palu dari Perdana Menteri Italia Mario Draghi ke Presiden Indonesia Joko Widodo pada sesi penutupan KTT G20 Roma yang berlangsung di La Nuvola pada Minggu, (31/11/2021).
Di Indonesia, KTT G20 rencananya akan berlangsung di Bali pada 30-31 Oktober 2022. "Presidensi G20 adalah kehormatan sekaligus momentum yang tepat bagi Indonesia untuk meningkatkan pembangunan ekonomi negara. Karena forum yang melibatkan negara-negara maju dan berkembang ini merupakan ajang untuk membahas prospek perdagangan dan investasi," paparnya.
Raihan berharap, KTT G20 memiliki fokus pada pemulihan ekonomi negara-negara yang terdampak Covid-19, terkhusus pada negara sedang berkembang (NSB) yang memiliki kerentanan ekonomi jika dibandingkan dengan negara maju.
"Untuk itu, Indonesia perlu mendorong konektifitas dan kolaborasi global untuk pemulihan ekonomi pasca-Covid-19 yang merata," terangnya
Lihat Juga :