Meski Ada AHY, Demokrat Tetap Buka Ruang Kandidat Lain di Pilpres 2024
Minggu, 10 Oktober 2021 - 18:23 WIB
Menurut Herzaky, hanya rakyat sepertinya sudah tidak sabar ingin ada perubahan. Karena itu, wajar bermunculan aspirasi di sana-sini, yang membicarakan berbagai nama putra-putri terbaik bangsa, yang digadang-gadang sebagai calon presiden (capres) untuk Pilpres 2024.
Herzaky mengatakan, banyak nama yang bermunculan, termasuk nama Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai satu-satunya tokoh nasional nonpejabat publik yang bertengger di papan atas capres di survei SMRC dan berbagai survei lainnya dalam setahun terakhir ini.
Lalu Herzaky melanjutkan, ada nama-nama deretan pejabat publik baik menteri maupun gubernur, tentu patut diapresiasi positif. Karena menunjukkan, bangsa ini tidak kekurangan stok pemimpin nasional.
"Namun, yang lebih penting bagi Demokrat adalah ruang kontestasi yang terbuka untuk putra-putri terbaik bangsa. Bukan malah mempersempit ruang kontestasi dan memaksakan rakyat dihadapkan kembali pada dua calon saja. Seakan-akan bangsa ini kekurangan calon pemimpin nasional," kata Herzaky.
Menurut Herzaky, polarisasi yang mengental akibat hanya dua capres di 2014 dan 2019, masih menyisakan luka mendalam di tengah masyarakat.
Herzaky mengatakan, banyak nama yang bermunculan, termasuk nama Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai satu-satunya tokoh nasional nonpejabat publik yang bertengger di papan atas capres di survei SMRC dan berbagai survei lainnya dalam setahun terakhir ini.
Lalu Herzaky melanjutkan, ada nama-nama deretan pejabat publik baik menteri maupun gubernur, tentu patut diapresiasi positif. Karena menunjukkan, bangsa ini tidak kekurangan stok pemimpin nasional.
"Namun, yang lebih penting bagi Demokrat adalah ruang kontestasi yang terbuka untuk putra-putri terbaik bangsa. Bukan malah mempersempit ruang kontestasi dan memaksakan rakyat dihadapkan kembali pada dua calon saja. Seakan-akan bangsa ini kekurangan calon pemimpin nasional," kata Herzaky.
Menurut Herzaky, polarisasi yang mengental akibat hanya dua capres di 2014 dan 2019, masih menyisakan luka mendalam di tengah masyarakat.
Lihat Juga :