Negara Harus Hadir untuk Tingkatkan Literasi Sejarah

Sabtu, 21 Agustus 2021 - 13:47 WIB
Diorama Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo saat merumuskan Naskah Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Foto/Dok SINDO
JAKARTA - Untuk meningkatkan kembali literasi sejarah , negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Apalagi, masih ada kecenderungan anak muda mengeksplorasi sejarah.

Presiden Pertama Indonesia, Soekarno, pernah menggaungkan kalimat ‘Jasmerah’ atau dipanjangkan dengan kalimat "jangan sekali-kali meninggalkan sejarah". Prinsip ini berlaku untuk semua orang, tak terkecuali anak muda. Sayangnya, banyak generasi muda yang justru berlaku sebaliknya alias tidak paham sejarah.



Sejarawan dan pendiri KHI (Komunitas Historia Indonesia) Asep Kambali menilai, nasionalisme anak-anak muda saat ini hanyalah nasionalisme semu belaka. Ia mengatakan hal tersebut terjadi karena saat ini banyak anak muda yang tidak mengetahui latar belakang Indonesia.

"Nasionalisme itu kan cinta Tanah Air. Bagaimana mau cinta, kalau sejarahnya saja tidak paham? Cinta kita ini tidak berdasar dan merupakan cinta yang semu jika tidak tahu apa yang terjadi di masa lampau. Apa arti nama Indonesia, siapa yang memberi nama Indonesia? Banyak anak muda yang tidak tahu," ujarnya.

Asep menambahkan, kurangnya literasi sejarah anak muda tak lepas dari pengaruh social media. Menurut Asep, generasi muda juga merupakan digital native, yang setiap hari berhadapan dengan platform digital. Oleh karena itu, ia menyarankan agar anak muda bisa bersikap cerdas dalam memilah informasi. "Telepon genggam pintar yang sekarang dimiliki, harus bisa dimanfaatkan untuk mencari sumber bacaan berbobot. Jangan melulu main sosmed dan game. Boleh saja, asal waktunya seimbang dengan belajar," kataAsep.

Baca juga: Sepenggal Kisah Naskah Proklamasi, Ditandatangani Soekarno-Hatta di Atas Piano
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!