Kasus Riset Palsu Demi Plesiran, Mendiktisaintek Ungkap Temuan Awal

Kamis, 28 Mei 2026 - 20:48 WIB
Kejanggalan lain ditemukan pada lokasi penelitian yang tercantum dalam manuskrip. Kelompok peneliti tersebut disebut mencantumkan berbagai wilayah penelitian di sejumlah negara, mulai dari Peruvian Andes, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi hingga India Utara.

Namun, peserta konferensi menilai penelitian tersebut janggal karena tidak disertai kolaborator lokal maupun informasi persetujuan etik penelitian.

Setidaknya tiga nama menjadi sorotan dalam dugaan kasus tersebut, yakni Prihantini atau Titin, Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Dugaan semakin meluas setelah muncul pencantuman nama anggota keluarga sebagai co-peneliti meski diduga tidak berasal dari institusi yang tercantum dalam afiliasi penelitian.

Mandhara menduga motif utama dugaan penipuan tersebut untuk memperoleh travel grant atau dana perjalanan gratis ke luar negeri melalui presentasi penelitian fiktif di forum ilmiah internasional.

"Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan," tulis Mandhara.

"Saat ini, ilmuwan Indonesia di tingkat dunia sangat sedikit jumlahnya. Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi," lanjutnya.

Di tengah viralnya kasus tersebut, salah satu pihak yang disebut, Rifaldy Fajar, memberikan klarifikasi. Dia menyebut informasi yang beredar di media sosial belum sepenuhnya sesuai fakta.

"Kami akan klarifikasi satu per satu. Tapi mohon tunggu dulu karena kami perlu menyusun runtutannya. Informasi yang saat ini ramai beredar di media sosial menurut kami tidak sepenuhnya sesuai fakta," ujar Rifaldy.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!