Asimetris Iran 2026: Jalesveva Jayamahe di Era Hybrid
Jum'at, 17 April 2026 - 20:13 WIB
Salim, Ketua Dewan Pakar KPPMPI, Kandidat Doctor Universitas Airlangga. Foto: Ist
Salim
Ketua Dewan Pakar KPPMPI
Kandidat Doctor Universitas Airlangga
MEMASUKItahun 2026, ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar konflik regional, melainkan manifestasi nyata dari dialektika peperangan modern. Mengacu pada tesis Carl von Clausewitz, perang ini tetaplah "kelanjutan politik dengan sarana lain," di mana fog of war memaksa Iran menggunakan asimetri untuk mengimbangi supremasi teknologi lawan. Di titik inilah, pemikiran Alfred Thayer Mahan tentang Sea Power menemukan urgensinya; Iran berupaya membuktikan bahwa penguasaan atas choke point strategis adalah kunci kedaulatan ekonomi dunia.
Namun, Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan destruktif. Sesuai teori Julian Corbett, mereka memahami bahwa kontrol laut tidak harus berarti penghancuran total armada musuh, melainkan pengendalian komunikasi maritim. Melalui penggunaan drone bawah air dan rudal pesisir, Iran menerapkan "pertahanan aktif" yang mengingatkan kita pada pertempuran laut di PD I Jutland dan kengerian perang kapal selam di PD II, di mana efektivitas seringkali mengalahkan kemegahan jumlah armada.
Bagi bangsa Indonesia, mandala perang ini memberikan pelajaran filsafat pertempuran yang mendalam: Cakra Manggilingan. Bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa maritim tidak terletak pada besarnya kapal, melainkan pada keteguhan jiwa rakyatnya dalam menjaga setiap jengkal air. Terinspirasi dari semangat "Jalesveva Jayamahe," kita diingatkan bahwa di laut kita jaya bukan karena kita menaklukkan samudra, tetapi karena kita mampu menyatu dengan arusnya. Perang Iran 2026 adalah pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan maritim dengan mentalitas petarung yang cerdas, adaptif, dan tak kenal menyerah.
Ketua Dewan Pakar KPPMPI
Kandidat Doctor Universitas Airlangga
MEMASUKItahun 2026, ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar konflik regional, melainkan manifestasi nyata dari dialektika peperangan modern. Mengacu pada tesis Carl von Clausewitz, perang ini tetaplah "kelanjutan politik dengan sarana lain," di mana fog of war memaksa Iran menggunakan asimetri untuk mengimbangi supremasi teknologi lawan. Di titik inilah, pemikiran Alfred Thayer Mahan tentang Sea Power menemukan urgensinya; Iran berupaya membuktikan bahwa penguasaan atas choke point strategis adalah kunci kedaulatan ekonomi dunia.
Namun, Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan destruktif. Sesuai teori Julian Corbett, mereka memahami bahwa kontrol laut tidak harus berarti penghancuran total armada musuh, melainkan pengendalian komunikasi maritim. Melalui penggunaan drone bawah air dan rudal pesisir, Iran menerapkan "pertahanan aktif" yang mengingatkan kita pada pertempuran laut di PD I Jutland dan kengerian perang kapal selam di PD II, di mana efektivitas seringkali mengalahkan kemegahan jumlah armada.
Bagi bangsa Indonesia, mandala perang ini memberikan pelajaran filsafat pertempuran yang mendalam: Cakra Manggilingan. Bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa maritim tidak terletak pada besarnya kapal, melainkan pada keteguhan jiwa rakyatnya dalam menjaga setiap jengkal air. Terinspirasi dari semangat "Jalesveva Jayamahe," kita diingatkan bahwa di laut kita jaya bukan karena kita menaklukkan samudra, tetapi karena kita mampu menyatu dengan arusnya. Perang Iran 2026 adalah pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan maritim dengan mentalitas petarung yang cerdas, adaptif, dan tak kenal menyerah.
Lihat Juga :