Sudirman Said dan Forum Lintas Generasi Temui Kardinal Suharyo serta KWI

Kamis, 16 April 2026 - 09:54 WIB
Aktivis lainnya Yanuar Nugroho menekankan peran otoritas moral sebagai penuntun nurani ketika batas antara benar dan menguntungkan kian kabur dalam ruang publik. "Krisis sosial tak terlepas dari krisis moral. Ketidakadilan struktural terjadi karena kegagalan dalam pilihan etis," ucapnya.

Pakar hukum Feri Amsari menyoroti kecenderungan penguasa yang menerabas konstitusi demi kepentingan kelompok. "Konstitusi bilang A, yang dilakukan presiden adalah Z. Walhasil, aturan disetel sesuai kepentingan, ubah undang-undang. Kalau berkonstitusi kita begini terus, maka negeri ini sedang dalam banyak ancaman ke depan," tegas Feri.

Dari sektor usaha, Anton Supit mengkritik maraknya inkompetensi dari para pengambil kebijakan. “Inkompetensi itu lebih bahaya daripada kejahatan,” kata Anton.

Sinyalemen tersebut diperkuat oleh riset dari Indonesian Business Council (IBC) yang mengungkapkan adanya empat aspek defisit dalam perekonomian Indonesia sekarang, yaitu: jobs deficit, investment deficit, fiscal deficit, hingga trust deficit. Penyebabnya adalah 3 C. “Ketiadaan certainty (rule of law) dan capability untuk menggerakkan dunia usaha, serta berkurangnya capital,” tambahnya.

Di bidang kesehatan sosial, Diah Satyani Saminarsih menuturkan kondisi masyarakat marjinal kian terhimpit oleh kebijakan yang dianggap over-simplifikatif. Sementara itu, Shofwan Al-Banna menyoroti kebijakan luar negeri yang impulsif dan egois. "Akarnya terletak pada keterlibatan kita yang amat tinggi tanpa diikuti institusionalisasi yang baik, tidak hanya personalisasi, tapi egoisasi," ujarnya.

Aktivis asal Yogyakarta Untoro Hariadi mengusulkan penguatan masyarakat sipil agar menjadi pilar atau “saka tatal” kokoh yang berdaya tawar tinggi dalam proses bernegara.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!