Satu Tahun Agustina-Iswar Memimpin: Semarang Sehat, Warganya Kuat dan Terlindungi
Senin, 23 Februari 2026 - 22:05 WIB
Dalam satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, bersama wakilnya, Iswar Aminuddin, pembangunan kesehatan di ibu kota Jawa Tengah mengalami lompatan besar.
SEMARANG - Genap satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, bersama wakilnya, Iswar Aminuddin, pembangunan kesehatan di ibu kota Jawa Tengah mengalami lompatan besar. Bukan cuma urusan infrastruktur, tapi lebih dari itu: warga Semarang kini makin terlindungi, anak-anak tumbuh sehat, angka kemiskinan terus turun, dan tidak ada lagi ibu hamil yang kebingungan mencari layanan kesehatan.
Program unggulan "Semarang Sehat" menjadi fondasi penting dalam membangun kota yang tangguh. Sehat tidak hanya diartikan tidak sakit, tapi juga soal gizi yang cukup, lingkungan yang mendukung, ekonomi yang membaik, dan jaminan akses kesehatan untuk semua warga tanpa terkecuali.
"Kesehatan adalah hak dasar setiap warga. Kami ingin membangun Semarang yang kuat dari dalam, dan itu dimulai dari tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, ekonomi yang membaik, serta rasa aman saat berobat. Semarang Sehat adalah wujud hadirnya pemerintah untuk melindungi warganya," ujar Agustina Wilujeng.
Kesejahteraan Warga Meningkat, Angka Kemiskinan Terus Turun
Upaya pembangunan kesehatan tidak bisa dilepaskan dari upaya pengentasan kemiskinan. Data menunjukkan, angka kemiskinan di Kota Semarang konsisten turun dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2020, angka kemiskinan masih di angka 11,84 persen. Kini di tahun 2025, diperkirakan tinggal 9,36 persen.
Tren penurunannya sangat konsisten: 11,25 persen (2021), 10,98 persen (2022), 10,77 persen (2023), 10,19 persen (2024), 9,71 persen, dan kini 9,36 persen di tahun 2025. Ini artinya, semakin sedikit warga Semarang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang dulunya kesulitan mengakses layanan kesehatan karena terbentur biaya, kini mulai bisa bernapas lega.
Program bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan perluasan jaminan kesehatan berjalan beriringan. Ketika warga sehat, mereka bisa bekerja produktif. Ketika ekonomi membaik, mereka bisa hidup lebih layak.
"Kemiskinan dan kesehatan itu terkait erat. Warga miskin rentan sakit, dan warga sakit bisa jatuh miskin. Karena itu, kami intervensi keduanya sekaligus. Alhamdulillah, angkanya terus menunjukkan perbaikan," jelas Agustina.
Semarang Makin Terlindungi: Hampir Semua Warga Punya Jaminan Kesehatan
Salah satu pencapaian paling membanggakan di bidang kesehatan adalah perluasan kepesertaan Universal Health Coverage (UHC) . Artinya, makin banyak warga kota Semarang yang terlindungi jaminan kesehatan.
Tahun 2024 lalu, peserta UHC tercatat sebanyak 98.261 orang. Kini di tahun 2025, jumlahnya melonjak drastis menjadi 228.859 peserta. Dalam setahun, bertambah 130.598 warga yang kini punya akses layanan kesehatan tanpa pusing memikirkan biaya.
Ini bukan sekadar angka. Ini artinya, ketika ada warga yang sakit, mereka bisa berobat dengan tenang. Ketika ada ibu yang hendak melahirkan, ia tidak perlu khawatir soal tagihan rumah sakit.
"Saya sering mendengar cerita warga yang dulu takut ke puskesmas atau rumah sakit karena mikir biaya. Sekarang, dengan UHC yang meluas, mereka bisa datang dengan tenang. Itu kebahagiaan tersendiri bagi kami," tambah Agustina.
Stunting Jadi Prioritas: Anak Semarang Harus Tumbuh Kuat
Pemerintah kota serius menangani masalah stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak. Berbagai program menyasar mulai dari remaja, ibu hamil, hingga balita. Semua dilakukan agar generasi muda Semarang tumbuh sehat dan kuat.
Daycare Rumah Pelita hadir untuk mendampingi tumbuh kembang balita. Sasaran program ini mencapai 160 balita. Sementara itu, program Week Care menyasar 105 orang, yang terdiri dari 30 remaja, 30 ibu hamil, dan 45 balita, tersebar di 3 puskesmas.
Pemberian tablet tambah darah juga digencarkan untuk mencegah anemia yang bisa menghambat pertumbuhan. Sasaran remaja putri mencapai 78.612 orang, ibu hamil 18.293 orang, dan calon pengantin (catin) sebanyak 261 orang. Anemia pada remaja dan ibu hamil bisa berakibat buruk pada bayi yang dilahirkan, sehingga intervensi ini sangat penting.
Program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) atau Pansos juga berjalan. Remaja yang terlibat sebanyak 78.612 dan ibu hamil 18.293. Mereka mendapat pendampingan dan edukasi tentang gizi dan pola makan sehat.
Layanan kesehatan ibu dan anak juga berjalan massif:
· Pelayanan kesehatan ibu hamil menjangkau 17.636 sasaran.
· Pelayanan kesehatan ibu bersalin mencapai 17.561 sasaran.
· Bayi baru lahir yang mendapat layanan kesehatan sebanyak 27.091.
· Balita yang terlayani kesehatannya mencapai 77.484.
Program unggulan "Semarang Sehat" menjadi fondasi penting dalam membangun kota yang tangguh. Sehat tidak hanya diartikan tidak sakit, tapi juga soal gizi yang cukup, lingkungan yang mendukung, ekonomi yang membaik, dan jaminan akses kesehatan untuk semua warga tanpa terkecuali.
"Kesehatan adalah hak dasar setiap warga. Kami ingin membangun Semarang yang kuat dari dalam, dan itu dimulai dari tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, ekonomi yang membaik, serta rasa aman saat berobat. Semarang Sehat adalah wujud hadirnya pemerintah untuk melindungi warganya," ujar Agustina Wilujeng.
Kesejahteraan Warga Meningkat, Angka Kemiskinan Terus Turun
Upaya pembangunan kesehatan tidak bisa dilepaskan dari upaya pengentasan kemiskinan. Data menunjukkan, angka kemiskinan di Kota Semarang konsisten turun dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2020, angka kemiskinan masih di angka 11,84 persen. Kini di tahun 2025, diperkirakan tinggal 9,36 persen.
Tren penurunannya sangat konsisten: 11,25 persen (2021), 10,98 persen (2022), 10,77 persen (2023), 10,19 persen (2024), 9,71 persen, dan kini 9,36 persen di tahun 2025. Ini artinya, semakin sedikit warga Semarang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang dulunya kesulitan mengakses layanan kesehatan karena terbentur biaya, kini mulai bisa bernapas lega.
Program bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan perluasan jaminan kesehatan berjalan beriringan. Ketika warga sehat, mereka bisa bekerja produktif. Ketika ekonomi membaik, mereka bisa hidup lebih layak.
"Kemiskinan dan kesehatan itu terkait erat. Warga miskin rentan sakit, dan warga sakit bisa jatuh miskin. Karena itu, kami intervensi keduanya sekaligus. Alhamdulillah, angkanya terus menunjukkan perbaikan," jelas Agustina.
Semarang Makin Terlindungi: Hampir Semua Warga Punya Jaminan Kesehatan
Salah satu pencapaian paling membanggakan di bidang kesehatan adalah perluasan kepesertaan Universal Health Coverage (UHC) . Artinya, makin banyak warga kota Semarang yang terlindungi jaminan kesehatan.
Tahun 2024 lalu, peserta UHC tercatat sebanyak 98.261 orang. Kini di tahun 2025, jumlahnya melonjak drastis menjadi 228.859 peserta. Dalam setahun, bertambah 130.598 warga yang kini punya akses layanan kesehatan tanpa pusing memikirkan biaya.
Ini bukan sekadar angka. Ini artinya, ketika ada warga yang sakit, mereka bisa berobat dengan tenang. Ketika ada ibu yang hendak melahirkan, ia tidak perlu khawatir soal tagihan rumah sakit.
"Saya sering mendengar cerita warga yang dulu takut ke puskesmas atau rumah sakit karena mikir biaya. Sekarang, dengan UHC yang meluas, mereka bisa datang dengan tenang. Itu kebahagiaan tersendiri bagi kami," tambah Agustina.
Stunting Jadi Prioritas: Anak Semarang Harus Tumbuh Kuat
Pemerintah kota serius menangani masalah stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak. Berbagai program menyasar mulai dari remaja, ibu hamil, hingga balita. Semua dilakukan agar generasi muda Semarang tumbuh sehat dan kuat.
Daycare Rumah Pelita hadir untuk mendampingi tumbuh kembang balita. Sasaran program ini mencapai 160 balita. Sementara itu, program Week Care menyasar 105 orang, yang terdiri dari 30 remaja, 30 ibu hamil, dan 45 balita, tersebar di 3 puskesmas.
Pemberian tablet tambah darah juga digencarkan untuk mencegah anemia yang bisa menghambat pertumbuhan. Sasaran remaja putri mencapai 78.612 orang, ibu hamil 18.293 orang, dan calon pengantin (catin) sebanyak 261 orang. Anemia pada remaja dan ibu hamil bisa berakibat buruk pada bayi yang dilahirkan, sehingga intervensi ini sangat penting.
Program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) atau Pansos juga berjalan. Remaja yang terlibat sebanyak 78.612 dan ibu hamil 18.293. Mereka mendapat pendampingan dan edukasi tentang gizi dan pola makan sehat.
Layanan kesehatan ibu dan anak juga berjalan massif:
· Pelayanan kesehatan ibu hamil menjangkau 17.636 sasaran.
· Pelayanan kesehatan ibu bersalin mencapai 17.561 sasaran.
· Bayi baru lahir yang mendapat layanan kesehatan sebanyak 27.091.
· Balita yang terlayani kesehatannya mencapai 77.484.
Lihat Juga :