Ambisi Kim Jong-un Membangun Pariwisata Korea Utara
Senin, 05 Mei 2025 - 07:00 WIB
Cha Du Hyeon, Peneliti Utama di Asan Institute for Policy Studies, Korea Selatan. Foto/Dok.Pribadi
Cha Du Hyeon
Peneliti Utama di Asan Institute for Policy Studies, Korea Selatan
PADA Oktober 2019, saat mengunjungi kawasan wisata Gunung Geumgang—yang dulunya dibangun dengan investasi Korea Selatan— pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memerintahkan agar seluruh fasilitas milik Korea Selatan dihapus karena dianggap “kumuh dan tidak sedap dipandang.” Hal ini menunjukkan ambisinya untuk membangun sektor pariwisata dengan cara dan gaya Korea Utara sendiri.
Sejak itu, Korea Utara mulai aktif mengembangkan kawasan wisata seperti Wonsan-Galma di pesisir timur dan Samjiyeon di dekat Gunung Baekdu. Kedua wilayah ini telah diperiksa langsung oleh Kim pada Juli 2024.
Hal ini menegaskan bahwa pariwisata bukan hanya dianggap sebagai upaya menyelamatkan ekonomi, tapi sebagai pencapaian pembangunan nasional yang ingin diwariskan Kim, untuk membedakannya dari para pemimpin sebelumnya.
Untuk saat ini, wisatawan asing yang datang ke Korea Utara sebagian besar berasal dari China dan Rusia. China menjadi pasar terbesar. Misalnya pada 2018, sekitar 200.000 warga China berkunjung, mencakup 90% dari total wisatawan asing.
Korea Utara kini juga menjalin kerja sama dengan Rusia, termasuk meluncurkan kereta wisata dari Vladivostok ke kawasan Rason pada Mei ini.
Jika hubungan dengan Amerika Serikat (AS) membaik, maka Korea Utara bisa menarik lebih banyak wisatawan dari negara-negara Barat. Bahkan setelah KTT Korea Utara-AS tahun 2018, Presiden Donald Trump sempat memuji potensi pariwisata Korea Utara, terutama karena banyaknya wilayah pantai yang indah.
Peneliti Utama di Asan Institute for Policy Studies, Korea Selatan
PADA Oktober 2019, saat mengunjungi kawasan wisata Gunung Geumgang—yang dulunya dibangun dengan investasi Korea Selatan— pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memerintahkan agar seluruh fasilitas milik Korea Selatan dihapus karena dianggap “kumuh dan tidak sedap dipandang.” Hal ini menunjukkan ambisinya untuk membangun sektor pariwisata dengan cara dan gaya Korea Utara sendiri.
Sejak itu, Korea Utara mulai aktif mengembangkan kawasan wisata seperti Wonsan-Galma di pesisir timur dan Samjiyeon di dekat Gunung Baekdu. Kedua wilayah ini telah diperiksa langsung oleh Kim pada Juli 2024.
Hal ini menegaskan bahwa pariwisata bukan hanya dianggap sebagai upaya menyelamatkan ekonomi, tapi sebagai pencapaian pembangunan nasional yang ingin diwariskan Kim, untuk membedakannya dari para pemimpin sebelumnya.
Untuk saat ini, wisatawan asing yang datang ke Korea Utara sebagian besar berasal dari China dan Rusia. China menjadi pasar terbesar. Misalnya pada 2018, sekitar 200.000 warga China berkunjung, mencakup 90% dari total wisatawan asing.
Korea Utara kini juga menjalin kerja sama dengan Rusia, termasuk meluncurkan kereta wisata dari Vladivostok ke kawasan Rason pada Mei ini.
Jika hubungan dengan Amerika Serikat (AS) membaik, maka Korea Utara bisa menarik lebih banyak wisatawan dari negara-negara Barat. Bahkan setelah KTT Korea Utara-AS tahun 2018, Presiden Donald Trump sempat memuji potensi pariwisata Korea Utara, terutama karena banyaknya wilayah pantai yang indah.
Lihat Juga :