Polisi Thailand Temukan 26 Jenazah Imigran di Hutan
Senin, 04 Mei 2015 - 12:00 WIB
Polisi Thailand Temukan 26 Jenazah Imigran di Hutan
A
A
A
BANGKOK - Kepolisian Thailand menggali kuburan massal dan berhasil mengangkat 26 jenazah di dekat perkemahan imigran ilegal di pegunungan Thailand selatan kemarin.
Berdasarkan hasil awal uji coba forensik, mereka tewas akibat kekurangan gizi dan penyakit, bukan akibat disiksa. Lima mayat di antaranya sudah dibawa ke Bangkok pada Jumat (1/5) lalu. Kemarin puluhan polisi dan relawan kembali menggali kuburan massal yang terletak di Provinsi Songkhla tersebut dan menemukan 21 jenazah.
Kuburan massal dan perkemahan itu terletak di dekat perbatasan antara Thailand dan Malaysia. ”Dari penyelidikan awal tim forensik terhadap tulang belulang yang ditemukan di lokasi, tidak ada tanda-tanda bahwa korban mati karena disiksa,” ujar Kolonel Polisi Triwit Sriprapa, Wakil Komandan Kepolisian Songkhla, kepada Reuters . ”Mereka sepertinya mati karena penyakit dan kekurangan gizi,” tambahnya.
Penemuan kuburan massal tersebut menjadi pengingat bahwa kasus penyelundupan manusia masih menjadi masalah bersama negara-negara ASEAN. Saat ini, negara-negara ASEAN berkolaborasi untuk meningkatkan upaya dan menumpas tuntas kasus perdagangan manusia, khususnya di kawasan ASEAN.
Selain menemukan jenazah, polisi juga menemukan tiga korban yang masih bertahan hidup di perkemahan. Dua di antaranya masih remaja. Semua korban selamat diselidiki kepolisian Thailand. Polisi dan tim relawan akan melanjutkan penggalian di lokasi lain. ”Saksi mengatakan ada sekitar 30-40 orang yang dibawa ke perkemahan itu pada saat mereka memasuki Thailand. Perkemahan itu sendiri bisa menampung sampai 200 orang,” papar Triwit.
Biasanya, imigran ilegal yang mencari harapan baru di sekitar Thailand atau Malaysia berasal dari Myanmar barat atau Bangladesh. Alasan mereka umumnya karena imigran yang kebanyakan merupakan warga muslim Rohingya merasa tertekan di Myanmar. Karena takut menjadi korban penganiayaan atas nama etnik dan agama itu pula, mereka berani bertaruh dan mengarungi perjalanan yang berbahaya melalui jalur laut ke Thailand.
Pemerintah Thailand menentang keras perdagangan manusia, terutama jika terjadi di wilayahnya. Mereka akan berupaya memutus jalur penyelundupan itu dan menghukum berat para pelaku yang terlibat.
Perdana Menteri (PM) Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha juga mengakui ada keterlibatan internal dalam kasus ini. ”Siapa pun yang terlibat dalam penyelundupan manusia akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Siapa pun itu,” kata Kolonel Sansern Kaewkamnerd, juru bicara (jubir) Pemerintah Thailand.
”Kami yakin satu tersangka yang kami tahan di Nakorn Si Thammarat ada hubungannya langsung dengan perkemahan ini,” tambah Kolonel Polisi Anuchon Chamat.
Muh shamil
Berdasarkan hasil awal uji coba forensik, mereka tewas akibat kekurangan gizi dan penyakit, bukan akibat disiksa. Lima mayat di antaranya sudah dibawa ke Bangkok pada Jumat (1/5) lalu. Kemarin puluhan polisi dan relawan kembali menggali kuburan massal yang terletak di Provinsi Songkhla tersebut dan menemukan 21 jenazah.
Kuburan massal dan perkemahan itu terletak di dekat perbatasan antara Thailand dan Malaysia. ”Dari penyelidikan awal tim forensik terhadap tulang belulang yang ditemukan di lokasi, tidak ada tanda-tanda bahwa korban mati karena disiksa,” ujar Kolonel Polisi Triwit Sriprapa, Wakil Komandan Kepolisian Songkhla, kepada Reuters . ”Mereka sepertinya mati karena penyakit dan kekurangan gizi,” tambahnya.
Penemuan kuburan massal tersebut menjadi pengingat bahwa kasus penyelundupan manusia masih menjadi masalah bersama negara-negara ASEAN. Saat ini, negara-negara ASEAN berkolaborasi untuk meningkatkan upaya dan menumpas tuntas kasus perdagangan manusia, khususnya di kawasan ASEAN.
Selain menemukan jenazah, polisi juga menemukan tiga korban yang masih bertahan hidup di perkemahan. Dua di antaranya masih remaja. Semua korban selamat diselidiki kepolisian Thailand. Polisi dan tim relawan akan melanjutkan penggalian di lokasi lain. ”Saksi mengatakan ada sekitar 30-40 orang yang dibawa ke perkemahan itu pada saat mereka memasuki Thailand. Perkemahan itu sendiri bisa menampung sampai 200 orang,” papar Triwit.
Biasanya, imigran ilegal yang mencari harapan baru di sekitar Thailand atau Malaysia berasal dari Myanmar barat atau Bangladesh. Alasan mereka umumnya karena imigran yang kebanyakan merupakan warga muslim Rohingya merasa tertekan di Myanmar. Karena takut menjadi korban penganiayaan atas nama etnik dan agama itu pula, mereka berani bertaruh dan mengarungi perjalanan yang berbahaya melalui jalur laut ke Thailand.
Pemerintah Thailand menentang keras perdagangan manusia, terutama jika terjadi di wilayahnya. Mereka akan berupaya memutus jalur penyelundupan itu dan menghukum berat para pelaku yang terlibat.
Perdana Menteri (PM) Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha juga mengakui ada keterlibatan internal dalam kasus ini. ”Siapa pun yang terlibat dalam penyelundupan manusia akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Siapa pun itu,” kata Kolonel Sansern Kaewkamnerd, juru bicara (jubir) Pemerintah Thailand.
”Kami yakin satu tersangka yang kami tahan di Nakorn Si Thammarat ada hubungannya langsung dengan perkemahan ini,” tambah Kolonel Polisi Anuchon Chamat.
Muh shamil
(ftr)