Prayuth Ancam Berangus Media

Kamis, 26 Maret 2015 - 14:08 WIB
Prayuth Ancam Berangus...
Prayuth Ancam Berangus Media
A A A
BANGKOK - Pemimpin junta Thailand Prayuth Chan-ocha mengancam mengeksekusi wartawan yang tidak melaporkan kebenaran dalam liputannya. Prayuth tidak keberatan dengan wartawan kontrapemerintah, namun dia meminta wartawan tetap objektif ketika meliput.

Bulan lalu Prayuth juga mencoba mengancam media dengan mengatakan pihaknya memiliki kekuatan untuk menutup media jika media bersikukuh mengambil garis keras melawan pemerintah. Prayuth tidak bermaksud mengekang kebebasan pers maupun menyingkirkan pihak-pihak yang kontra terhadapnya, namun dia mengecam wartawan yang melaporkan berita tanpa objektivitas.

”Kami mungkin akan mengeksekusi mereka,” jawab Prayuth dengan tanpa senyum ketika ditanya wartawan soal sikap pemerintah terhadap media yang tidak sejalan dengan garis pemerintah, dilansir Channel News Asia. ”Anda tidak perlu mendukung pemerintah, namun Anda harus melaporkan kebenaran,” tambahnya.

Ancaman ini dilontarkan setelah Prayuth kecewa dengan pemberitaan yang ditulis surat kabar harian berbahasa Thailand, Matichon. Prayuth menuduh Matichon berpihak kepada pemerintah sebelumnya pimpinan Thaksin Shinawatra lantaran berita-berita yang dikeluarkan Matichon sangat menyudutkan pemerintah saat ini.

”Jangan pikir saya tidak tahu tulisan Anda propemerintah sebelumnya. Kementerian Dalam Negeri sebelumnya membeli banyak ruang iklan dari Anda,” kata Prayuth. Selain untuk media, ancaman ini juga berlaku bagi para pengkritik yang dirasa Prayuth sangat mengganggu. Dia memperingatkan bahwa dirinya akan memegang kekuasaan tanpa batas waktu jika dia terus ditentang untuk memimpin Thailand.

Pemimpin berusia 61 tahun itu menilai keberadaan pengkritik merusak demokrasi yang tengah dibangun Prayuth. ”Jika situasi tetap seperti ini, saya beri tahuAnda bahwasaya akantetap berkuasa untuk waktu lama,” tantang Prayuth. Prayuth dikenal hobi melontarkan komentar pedas untuk para pembangkang serta mengambil tindakan tiba-tiba, namun baru kali ini dia mengeluarkan ancaman eksekusi.

Pemimpin yang menggulingkan Yingluck Shinawatra dalam kudeta Mei tahun lalu itu mengaku belum siap mencabut darurat militer Thailand. Pengakuan ini dinilai sebagai sebuah kemunduran demokrasi sebab keputusan perpanjangan darurat militer memberi militer kekuasaan penuh seperti melakukan penangkapan dan penahanan. Prayuth beralasan Thailand masih sensitif terhadap isu-isu kebebasan pers sehingga kegiatan kebebasan berbicara sebaiknya tidak dilakukan.

Rini agustina
(bbg)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Alasan Prabowo Pilih...
Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
Infografis
Kapal Induk Kedua Tiba...
Kapal Induk Kedua Tiba di Timur Tengah, AS Serius Ancam Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved