Turki Tahan 16 WNI di Perbatasan Suriah
Jum'at, 13 Maret 2015 - 10:19 WIB
Turki Tahan 16 WNI di Perbatasan Suriah
A
A
A
ANKARA - Pemerintah Turki menahan 16 warga negara Indonesia (WNI) saat hendak menyeberang ke Suriah kemarin. Untuk memastikan identitas mereka, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) masih berkoordinasi dengan otoritas Turki.
”Ke-16 orang (terdiri atas tiga keluarga) ditahan di pusat penahanan. Kita mendapatkan informasi, Kedutaan Besar Indonesia di Ankara sudah berkomunikasi dengan kelompok itu,” ujar Juru Bicara Kemlu Turki Tanju Bilgic seperti dilansir Reuters. Rute yang dilalui 16 WNI itu merupakan jalur menuju Suriah. Jalur ini biasa digunakan para simpatisan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) untuk masuk ke Suriah.
Namun Pemerintah Turki belum memberikan kepastian tentang apakah mereka hendak bergabung dengan ISIS atau tidak. Apalagi Kedutaan Besar Indonesia di Ankara juga belum memberikan permintaan formal kepada Kemlu Turki mengenai kelompok itu. Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Kemlu Indonesia Lalu Muhammad Iqbal mengungkapkan, pihaknya telah meminta Dubes Indonesia di Ankara untuk mengklarifikasi dan meminta informasi detail tentang penangkapan WNI itu.
”Dubes (Indonesia di Ankara) akan bertemu dengan sejumlah pejabat di Kemlu Turki dan otoritas lainnya di Turki,” kata Iqbal kepada KORAN SINDO. Hal senada diungkapkan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi. Dia masih intensif berkomunikasi dengan Kedubes di Ankara untuk mengetahui identitas 16 WNI yang ditangkap di Turki.
”Kita masih akan terus lakukan komunikasi dan pertemuan dengan otoritas Turki terkait dengan masalah 16 orang ini,” kata Retno. Dia juga belum memastikan apakah 16 WNI itu akan bergabung dengan ISIS. ”Tahap ini, kita lakukan pendalaman. Apakah betul (dugaan gabung dengan ISIS). Jadi, pada tahapan ini saya belum bisa memberikan informasi yang lebih. Karena saya tidak mau menduga-duga,” imbuhnya.
Retno juga belum memastikan apakah 16 WNI tersebut merupakan orang-orang yang dilaporkan hilang setelah melakukan perjalanan ke Turki melalui biro perjalanan Smailing Tour. ”Saya belum bisa memberikan konfirmasi karena kita belum mendapatkan konfirmasi resmi dari otoritas yang ada di Turki, jadi saya tetap baru akan menyampaikan konfirmasi setelah kita mendapatkan konfirmasi dari Turki,” ujar Retno di Kantor Kepresidenan Jakarta.
Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti mengungkapkan, aparat kepolisian masih terus mencari data-data 16 WNI yang ditahan otoritas Turki. Pihak kepolisian juga akan mencari tahu tentang sumber dana yang digunakan para WNI tersebut ke Turki. Namun Badrodin menegaskan, 16 WNI yang saat ini ditemukan bukan merupakan 16 WNI yang hilang saat melakukan perjalanan dengan biro perjalanan Smailing Tour.
”Yang dulu kan 16 WNI (hilang) yang pakai (jasa biro) Smailing Tour itu belum ditemukan. Nah tibatiba sekarang ada lagi 16 WNI yang sedang ditahan oleh otoritas Turki, itu jumlahnya 16 (WNI) juga,” ungkapnya. Menurut calon kapolri itu, bila WNI tersebut terlibat dalam jaringan ISIS, mereka akan dikenai tindakan karena dinilai melanggar hukum.
Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno menambahkan, 16 WNI yang ditangkap otoritas Turki adalah seorang laki-laki, 4 wanita, dan 11 anakanak. ”Nama-nama mereka ada di BIN, tadi (dalam rapat) diungkapkan,” tandasnya. Tedjo menambahkan, tidak semua WNI tersebut memiliki paspor. Dari 16 orang, hanya 5 yang memiliki paspor. ”Yang anak-anak nggak ada (paspor),” tambahnya.
Keluarga Belum Yakin
Kendati belum ada data resmi soal identitasnya, informasi penahanan 16 WNI di Turki membuat keluarga WNI di Solo yang berwisata lewat biro Smailing Tour agak lega. Juru bicara keluarga yang juga konsultan dari Badan Konsultasi Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Budi Kuswanto menyebutkan, enam warga Solo yang bepergian ke Turki adalah Hafid Umar Babher beserta istrinya Soraiyah serta ketiga anaknya, yakni Hamzah Hafid, Ustman Hafid dan Atikah Hafid.
Selain itu saudara kandung Hafid, yakni Fauzi Umar. ”Paling tidak sudah lega karena sudah ada kabar,” ucapnya. Kakak tertua Hafid, Muhammad Arif, mengaku kabar hilangnya 16 WNI sempat membuat keluarga terpukul, apalagi saat santer dikabarkan mereka bergabung dengan ISIS. ”Saya belum yakin kalau itu anggota keluarga kami karena belum ada kepastian kabar dari sana,” ucapnya.
Jimmy, saudara ipar Ulin Isnuri, salah satu warga Jalan Kedungsroko VII, Tambaksari, Surabaya, yang dikabarkan hilang di Turki mengaku baru mengetahui kabar tersebut dari televisi dan media massa. Dia mengatakan sampai saat ini pihak keluarganya belum menerima informasi secara resmi dari instansi terkait, baik dari kementerian, kedutaan maupun dari kepolisian.
Ulin Isnuri dikabarkan hilang bersama suaminya Jusman Arisandy dan empat anaknya, yaitu Humaira Hafshah, 1, Urayna Afra, 17, Aura Kordova, 9, dan Dayyan Akhtar, 7. Selain itu ada satu lagi warga Surabaya Salim Muhamad Attamimi.
Andika hendra m/ rarasati syarief/ arief setiadi/ lutfi yuhandi
”Ke-16 orang (terdiri atas tiga keluarga) ditahan di pusat penahanan. Kita mendapatkan informasi, Kedutaan Besar Indonesia di Ankara sudah berkomunikasi dengan kelompok itu,” ujar Juru Bicara Kemlu Turki Tanju Bilgic seperti dilansir Reuters. Rute yang dilalui 16 WNI itu merupakan jalur menuju Suriah. Jalur ini biasa digunakan para simpatisan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) untuk masuk ke Suriah.
Namun Pemerintah Turki belum memberikan kepastian tentang apakah mereka hendak bergabung dengan ISIS atau tidak. Apalagi Kedutaan Besar Indonesia di Ankara juga belum memberikan permintaan formal kepada Kemlu Turki mengenai kelompok itu. Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Kemlu Indonesia Lalu Muhammad Iqbal mengungkapkan, pihaknya telah meminta Dubes Indonesia di Ankara untuk mengklarifikasi dan meminta informasi detail tentang penangkapan WNI itu.
”Dubes (Indonesia di Ankara) akan bertemu dengan sejumlah pejabat di Kemlu Turki dan otoritas lainnya di Turki,” kata Iqbal kepada KORAN SINDO. Hal senada diungkapkan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi. Dia masih intensif berkomunikasi dengan Kedubes di Ankara untuk mengetahui identitas 16 WNI yang ditangkap di Turki.
”Kita masih akan terus lakukan komunikasi dan pertemuan dengan otoritas Turki terkait dengan masalah 16 orang ini,” kata Retno. Dia juga belum memastikan apakah 16 WNI itu akan bergabung dengan ISIS. ”Tahap ini, kita lakukan pendalaman. Apakah betul (dugaan gabung dengan ISIS). Jadi, pada tahapan ini saya belum bisa memberikan informasi yang lebih. Karena saya tidak mau menduga-duga,” imbuhnya.
Retno juga belum memastikan apakah 16 WNI tersebut merupakan orang-orang yang dilaporkan hilang setelah melakukan perjalanan ke Turki melalui biro perjalanan Smailing Tour. ”Saya belum bisa memberikan konfirmasi karena kita belum mendapatkan konfirmasi resmi dari otoritas yang ada di Turki, jadi saya tetap baru akan menyampaikan konfirmasi setelah kita mendapatkan konfirmasi dari Turki,” ujar Retno di Kantor Kepresidenan Jakarta.
Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti mengungkapkan, aparat kepolisian masih terus mencari data-data 16 WNI yang ditahan otoritas Turki. Pihak kepolisian juga akan mencari tahu tentang sumber dana yang digunakan para WNI tersebut ke Turki. Namun Badrodin menegaskan, 16 WNI yang saat ini ditemukan bukan merupakan 16 WNI yang hilang saat melakukan perjalanan dengan biro perjalanan Smailing Tour.
”Yang dulu kan 16 WNI (hilang) yang pakai (jasa biro) Smailing Tour itu belum ditemukan. Nah tibatiba sekarang ada lagi 16 WNI yang sedang ditahan oleh otoritas Turki, itu jumlahnya 16 (WNI) juga,” ungkapnya. Menurut calon kapolri itu, bila WNI tersebut terlibat dalam jaringan ISIS, mereka akan dikenai tindakan karena dinilai melanggar hukum.
Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno menambahkan, 16 WNI yang ditangkap otoritas Turki adalah seorang laki-laki, 4 wanita, dan 11 anakanak. ”Nama-nama mereka ada di BIN, tadi (dalam rapat) diungkapkan,” tandasnya. Tedjo menambahkan, tidak semua WNI tersebut memiliki paspor. Dari 16 orang, hanya 5 yang memiliki paspor. ”Yang anak-anak nggak ada (paspor),” tambahnya.
Keluarga Belum Yakin
Kendati belum ada data resmi soal identitasnya, informasi penahanan 16 WNI di Turki membuat keluarga WNI di Solo yang berwisata lewat biro Smailing Tour agak lega. Juru bicara keluarga yang juga konsultan dari Badan Konsultasi Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Budi Kuswanto menyebutkan, enam warga Solo yang bepergian ke Turki adalah Hafid Umar Babher beserta istrinya Soraiyah serta ketiga anaknya, yakni Hamzah Hafid, Ustman Hafid dan Atikah Hafid.
Selain itu saudara kandung Hafid, yakni Fauzi Umar. ”Paling tidak sudah lega karena sudah ada kabar,” ucapnya. Kakak tertua Hafid, Muhammad Arif, mengaku kabar hilangnya 16 WNI sempat membuat keluarga terpukul, apalagi saat santer dikabarkan mereka bergabung dengan ISIS. ”Saya belum yakin kalau itu anggota keluarga kami karena belum ada kepastian kabar dari sana,” ucapnya.
Jimmy, saudara ipar Ulin Isnuri, salah satu warga Jalan Kedungsroko VII, Tambaksari, Surabaya, yang dikabarkan hilang di Turki mengaku baru mengetahui kabar tersebut dari televisi dan media massa. Dia mengatakan sampai saat ini pihak keluarganya belum menerima informasi secara resmi dari instansi terkait, baik dari kementerian, kedutaan maupun dari kepolisian.
Ulin Isnuri dikabarkan hilang bersama suaminya Jusman Arisandy dan empat anaknya, yaitu Humaira Hafshah, 1, Urayna Afra, 17, Aura Kordova, 9, dan Dayyan Akhtar, 7. Selain itu ada satu lagi warga Surabaya Salim Muhamad Attamimi.
Andika hendra m/ rarasati syarief/ arief setiadi/ lutfi yuhandi
(bbg)